BETERNAK PEMBIBITAN SAPI POTONG USAHA YANG SANGAT MENJANJIKAN

Tanggal Posting : 21 Oktober 2021 | Publikasi : (admin) | Hits : 368

Indonesia masih membutuhan banyak bibit sapi potong, hal ini dikarenakan bibit sapi potong merupakan salah satu faktor produksi yang menentukan dan mempunyai nilai strategis dalam upaya mendukung terpenuhinya kebutuhan sapi bakalan dan daging terutama dalam mendukung swasembada daging sapi. Cara yang utama untuk meningkatkan keseimbangan penyediaan dan kebutuhan ternak sangat tergantung pada ketersediaan bibit yang berkualitas. Oleh karena itu upaya perbaikan mutu dan penyediaan bibit yang memenuhi standar dalam jumlah yang cukup dan tersedia secara berkelanjutan serta harga terjangkau harus diupayakan secara terus menerus.

Potensi ternak sapi potong di Indonesia masih luar biasa, dan pangsa pasar dalam negeri pun sudah sangat terbuka tapi mengapa potensi tersebut belum mampu membangkitkan dunia peternakan di Indonesia? Hal ini dikarenakan peternakan sapi potong masih dikelola secara tradisional, kualitas ternak yang kurang baik serta manajemen pemeliharaan ala kadarnya sehingga tidak mengherankan apabila sapi yang dipelihara memiliki pertambahan bobot harian yang sangat rendah. Disamping itu skala kepemilikan berkisar 2 – 3 ekor/ rumah tangga, kondisi ini jelas sangat merugikan peternak sendiri karena kurang mendapatkan hasil yang memuaskan. Untuk mengembangkan sapi saja masih berat, ataupun  bertahan memerlukan  upaya yang besar, sehingga peternak lebih dominan memilih menjual sapi mereka untuk dijadikan usaha yang lain yang cepat menghasilkan uang misalnya membeli motor kreditan dan beralih profesi menjadi  ojek.

Prospek usaha pembibitan sapi potong mempunyai peluang yang besar, hal ini terlihat dari tingkat konsumsi daging sapi masyarakat Indonesia yang terus meningkat setiap tahun-nya, karena peningkatan jumlah penduduk, jumlah pendapatan dan bertambahnya pengetahuan masyarakat akan pentingnya gizi. Namun demikian apabila dibandingkan dengan masyarakat di kawasan Asia Tenggara tingkatan Indonesia dalam mengkonsumsi daging sapi tergolong masih sangat rendah. Proyeksi konsumsi daging sapi dan kerbau tahun 2020 meningkat 3,91% dari tahun 2019 yaitu dari angka 2,56 kg/konsumsi/tahun menjadi 2,66 kg/konsumsi/tahun (Susenas BPS). Namun dampak pandemi Covid 19 pada tahun 2020 yang berlangsung sampai saat ini terjadi penurunan konsumsi daging sapi dan kerbau karena daya beli masyarakat yang rendah dan banyak terjadi PHK.

Belajar dari Bangsa Korea, dimana lima puluh tahun yang lalu, bobot hidup sapi potong lokal mereka tak lebih dari 350 Kg, namun berkat kerja keras mereka bobot hidup sapi-sapi tersebut saat ini mampu mencapai 800 Kg bahkan 1 Ton lebih. Teknologi apa yang dipergunakan di Korea, jawabannya adalah rekording yang akurat dan kemampuan telusur dari produk hidup hingg produk olahan, seleksi ketat induk, inseminasi buatan, dan manajemen pemeliharaan yang baik. Sebenarnya teknologi ini juga sudah dikenal oleh Bangsa Indonesia lima puluh tahun yang lalu dan sudah menghasilkan guru-guru besar serta Profesor di bidang peternakan, namun sayang, ternak dan peternak kita masih sama seperti 50 tahun yang lalu. Hal ini kontradiktif dengan kondisi di Indonesia banyak sapi-sapi  yang belum mencapai bobot optimum sudah dipotong karena terdesak dengan kebutuhan hidup sehari-hari.  Sapi-sapi yang dipotong di RPH mayoritas BB nya baru mencapai 250 kg/ekor, apabila dilakukan penggemukan 6 bulan agar mencapai bobot lebih dari 400 kg/ekor maka akan membawa dampak mengurangi jumlah ternak yang dipotong.

Program pembibitan yang bisa di andalkan melalui pengaturan perkawinan dengan menggunakan ternak-ternak unggul, baik kawin alam maupun kawin suntik (insemenasi buatan). Selain itu untuk jangka panjang disetiap kabupaten/kota diharapkan terbentuk Wilayah Sumber Bibit (Wilsumbit). Sehingga dimasa mendatang memiliki provinsi yang  menjadi salah satu pusat penghasil bibit ternak unggul di Indonesia dan konsisten dalam pelaksanaannya yang didukung dengan stake holder terkait. Upaya peningkatan kualitas multi genetik antara lain peningkatan mutu genetik bibit ternak sapi potong, hal ini merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan serta mempunyai nilai strategis dalam mendukung percepatan laju produksi. Sehingga diperlukan upaya pengembangan pembibitan sapi secara berkelanjutan.

Pembinaan kelompok pembibitan ternak sapi potong diwilayah sumber bibit merupakan salah satu upaya untuk memperkuat kelompok pembibit sapi potong, kegiatan ini diharapkan kelompok di Wilsumbit dapat menghasilkan ternak-ternak bakalan yang nantinya dipelihara untuk menjadi ternak potong. Khusus untuk sapi-sapi betina akan dijadikan bibit untuk induk dan pejantan hasil seleksi dijadikan bibit pejantan unggul.

Selain itu dalam rangka mencukupi ketersediaan bibit sapi potong dan mencegah berkurangnya ternak sapi potong  betina produktif perlu dilakukan pengendalian terhadap pemotongan ternak ruminansia betina produktif yang dilakukan dibeberapa RPH/TPH  law enforcement lebih ditegakkan.

Upaya lainnya dengan  kegiatan uji performan, yaitu metode pengujian untuk memilih ternak bibit berdasarkan sifat kualitatif dan kuantitatif meliputi pengukuran dan penimbangan serta penilain. Uji tersebut menjadi salah satu metode pemilihan calon pejantan atau induk unggul dalam satu kelompok ternak bibit yang efektif dengan dukungan pencatatan identifikasi dan mutasi ternak dapat dikontrol serta diawasi dengan baik. Melalui uji tersebut pejantan sapi potong dan betina unggul akan terpilih secara akurat, kemudian diprogramkan untuk peremajaan (replacement) dan pada gilirannya akan berdampak pada perbaikan produktifitas bibit ternak.

Dalam mewujudkan suatu peternakan yang berkelanjutan dengan melakukan disiplin secara ketat melalui pola pembibitan dan pemeliharaan ternak secara terpadu, diantaranya adalah dengan melakukan sistem pencatatan (rekording) yang jelas, akurat dan disiplin, seleksi induk yang berkualitas secara ketat, inseminasi buatan maupun embrio transfer, manajemen pemeliharaan yang menunjang pada usaha peternakan sapi yang menguntungkan (profitable).

Harapan besar  dan cita-cita untuk dapat mewujudkan tersedianya sapi potong kualitas bibit yang baik, sehingga pada akhirnya dapat memberikan nilai tambah pada usaha peternakan dan membantu pemerintah guna mengurangi ketergantungan impor bakalan dari negara lain.

Impian kami suatu saat nanti, Indonesia tidak lagi mendatangkan ratusan ribu ekor sapi potong Brahman Cross dari Australia, namun kita dapat memenuhi kebutuhan sapi potong dari dalam negeri sendiri dengan memberdayakan peternakan rakyat yang ada di Indonesia. (MW).

 

Ayo beternak bibit sapi potong……..

Mari bangga produk peternakan dalam negeri …..

 

Oleh : Dani Kusworo dan Sinta Poetri

Pengawas Bibit Ternak di Dit. Perbibitan dan Produksi Ternak