Dirjen PKH Tantang Akademisi Lebih Berinovasi Tingkatkan Daya Saing Sumber Daya Genetik Ternak Lokal

Tanggal Posting : 16 November 2017 | Publikasi : (admin) | Hits : 113

Jatinangor (15/11/2017), Dalam rangka meningkatkan nilai tambah dan daya saing Sumber Daya Genetik (SDG) ternak lokal di Indonesia, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian menantang civitas akademika untuk terus berinovasi meningkatkan daya saing peternakan. Hal tersebut disampaikan pada Seminar Nasional Pengembangan Peternakan Berkelanjutan ke-9 yang dihadiri oleh Civitas Akademika di Bale Sawala Universitas Padjajaran Jatinangor, Rabu 15 November 2017.

I Ketut Diarmita mengungkapkan, Indonesia merupakan negara kedua yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Namun Indonesia juga dikenal sebagai negara yang memilki daftar panjang tentang fauna yang terancam punah. Menurut International Union for Conservation of Nature and Natural Resources(IUCN)  Red List, fauna Indonesia dengan kategori kritis (critically endangered) ada 115 spesies, kategori endangered 74 spesies, dan kategori rentan (vulnerable) ada 204 spesies.

“Pengelolaan SDG hewan secara nasional dimaksudkan untuk perlindungan kearifan lokal dan pengetahuan tradisional, serta hak kekayaan intelektual yang berkaitan dengan pemanfaatan”, kata I Ketut Diarmita. “Sampai saat ini beberapa wilayah sumber bibit ternak telah terbentuk rumpun atau galur ternak yang mempunyai keunggulan tertentu”, ujarnya. Menurut I Ketut, dari tahun 2010 – 2017 Pemerintah telah menetapkan sebanyak 71 rumpun/galur ternak yang sudah terdaftar di FAO yaitu:  13 rumpun sapi, 11 rumpun kerbau, 8 rumpun kambing, 10 rumpun domba, 4 rumpun kuda, 10 rumpun ayam, 13 rumpun itik, 1 rumpun rusa dan 1 rumpun anjing.

I Ketut Diarmita berpendapat, untuk pengembangan ternak lokal perlu dilakukan upaya-upaya konservasi dalam pemuliaan yang jelas dan terukur. Menurutnya, selama ini pembibitan ternak khususnya ternak ruminansia besar sebagai penghasil daging dan susu belum menunjukkan hasil yang signifikan. “Disini belum dihasilkan adanya bibit dasar, bibit induk dan bibit komersial yang dapat diperdagangkan dan dinikmati oleh para peternak”, ungkapnya. “Sistem perbibitan ternak nasional belum berjalan sebagaimana diharapkan”, tambahnya.

"Sesuai tujuan seminar, tantangan ini saya tujukan juga kepada Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran untuk mampu secara terus menerus melakukan inovasi yang dapat menghasilkan teknologi dan bioteknologi yang handal agar sumber daya genetik ternak lokal dapat berkiprah dan berdaya saing ke depannya", kata Dirjen PKH.

Bioteknologi merupakan suatu ilmu biologi modern yang memanfaatkan rekayasa teknologi. Ilmu ini merupakan penemuan baru dalam pemahaman manusia tentang sel hidup dalam proses mengubahnya menjadi suatu yang memenuhi kebutuhan manusia. Oleh karena itu curahan perhatian yang cukup besar diperlukan untuk mencari dasar rekayasa terobosan baru yang dapat mempercepat dan meningkatkan hasil yang dikehendaki.

I Ketut Diarmita menyampaikan, sejauh ini bioteknologi yang sedang dikembangkan dalam bidang peternakan adalah bioteknologi reproduksi yaitu inseminasi buatan, embrio transfer dan pemuliaan bibit, bioteknologi pakan dan kesehatan hewan. Bioteknologi pakan, yaitu aplikasi bioteknologi untuk memperbaiki kualitas limbah pertanian dengan manipulasi mikroba rumen dengan memanfaatkan gen selulosa dan berbagai jenis jamur dan kapang.

Lebih lanjut disampaikan, pada bidang pakan industri perunggasan saat ini sangat tergantung akan tersedianya jagung sebagai sumber energi, tepung kedelai dan tepung ikan sebagai sumber protein asam amino yang sangat diperlukan oleh tubuh unggas. Industri perunggasan saat ini juga sangat labil karena produksi jangung dan kedelai bersifat musiman, sedangkan kebutuhan pakan konsentrat boleh dikatakan tetap sepanjang tahun.

“Atas dasar pengalaman tersebut, teknologi penyimpanan jagung perlu dilakukan dalam storage yang besar, dan dipersilahkan kepada para ahli untuk substitusi jagung dengan bahan lainnya”, kata I Ketut Diarmita di depan seluruh Civitas Akademika di Universitas Padjajaran. “Khusus mengenai bioteknologi kesehatan hewan meliputi bioteknologi vaksin dan diagnostika biologik, probiotik, premix serta hormonal”, tambahnya.

Saat ini menurut I Ketut Diarmita, pelaksanaan kegiatan Inseminasi Buatan (IB) pada ternak sapi merupakan salah satu upaya penerapan teknologi tepat guna yang merupakan pilihan utama untuk peningkatan populasi dan mutu genetik sapi. “Melalui kegiatan IB, penyebaran bibit unggul ternak sapi dapat dilakukan dengan murah,  mudah dan cepat, serta diharapkan dapat meningkatkan pendapatan para peternak”, ucapnya.

I Ketut Diarmita juga menegaskan, terkait dengan peningkatan nilai tambah dan daya saing peternakan, status kesehatan hewan Indonesia harus menjadi semakin sempit. I Ketut Diarmita berpendapat, apabila dalam 5 tahun terakhir, pengelolaan peternakan dengan menggunakan ternak yang bersertifikat dan semakin menyempitnya wilayah endemik dan wabah, maka selain terjadinya peningkatan populasi dan produksi, secara ekonomis juga akan dapat meningkatkan volume ekspor komoditi peternakan.

“Mari kita bersinergi, sudah saatnya peternak menjadi subjek yang harus diberdayakan dan ditingkatkan kesejahteraannya. Untuk itu kita harus berikan pelayanan, baik dalam penyediaan benih/bibit ternak/HPT, sarana dan prasarana, teknologi/bioteknologi  dalam pengembangan ternak lokal yang mereka miliki sehingga peternak bisa mandiri dan berdaya saing, bisa menjadi price maker bukan price taker”, tandasnya.

 

Contact Person:

Ir. Fini Murfiani, MSi (Plt. Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Ditjen PKH)