Kementan Buat Simulasi Untuk Kesiapsiagaan Daerah Atasi Wabah Penyakit Zoonosis

Tanggal Posting : 27 Juli 2018 | Publikasi : (admin) | Hits : 28

Medan (26/07/2018)- Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan bekerjasama dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyelenggarakan kegiatan Table Top Simulation (TTS) untuk menghadapi kedaruratan penyakit zoonosis dengan pendekatan One Health.  

Kegiatan simulasi yang dilaksanakan pada tanggal 24-26 Juli 2018 di Medan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pemerintah Indonesia dalam mencegah, mendeteksi dan mengatasi wabah Penyakit Infeksi Emerging (PIE) melalui peningkatan koordinasi multisektoral.

Direktur Kesehatan Hewan, Fadjar Sumping Tjatur Rasa menyampaikan, kegiatan simulasi di daerah ini adalah untuk kesiapsiagaan daerah dalam mengatasi wabah PIE.

Menurutnya, perubahan kondisi dunia akibat pertumbuhan populasi manusia dan hewan yang sangat cepat, urbanisasi, penurunan kualitas lingkungan, sistem pertanian dan peternakan yang berubah, serta lalu lintas manusia/ hewan/produk hewan telah menyebabkan peningkatan risiko munculnya (PIE). “Jika penyakit PIE ini tidak ditangani dengan baik, maka akan dapat menyebabkan wabah yang dapat mengancam keselamatan masyarakat dan dapat berdampak terhadap perekonomian di Indonesia,” ungkapnya.

Untuk itu, Kementan bekerjasama dengan Kementerian terkait mengadakan Table Top Simulation (TTS) ini dengan didukung oleh program Australia Indonesia Partnership for Emerging Infectious Diseases (AIPEID), PnR USAID, WHO, dan FAO sebagai mitra pemerintah dalam upaya mencegah, mendeteksi dan mengatasi wabah penyakit infeksi emerging (PIE).

Kegiatan yang melibatkan semua sektor terkait ini menurut Fadjar Sumping sesuai dengan Pedoman Koordinasi dan Kerjasama Lintas Sektoral dalam kerangka “One Health” yang yang diluncurkan oleh Kemenko PMK dan PnR USAID, dan Pedoman Pelaksanaan Sistem Manajemen Keadaan Darurat Kesehatan Hewan yang susun oleh Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan dengan dukungan AIPEID.  

Lebih lanjut Ia sampaikan, kegiatan simulasi ini menggambarkan bagaimana antar lintas sektor “One Health” bersinergi dan bekerjasama dan memberikan kontribusinya untuk membangun kesiapsiagaan menghadapi bencana non alam di Indonesia. Ia sebutkan bahwa kegiatan simulasi yang sama telah dilaksanakan di kota Bogor, Manado, dan Bali sejak awal tahun 2018. “ Kita harapkan kegiatan simulasi ini dapat menjadi pioneer dan contoh bagi daerah lain di dalam penanganan kedaruratan kesehatan hewan zoonosis dan PIE lintas sektoral,” ucap Fadjar.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Kate Smith, Perwakilan dari DFAT Australia bahwa kesiapsiagaan menghadapi masuknya wabah penyakit hewan darurat dan zoonosis yang berpotensi sebagai bencana non alam merupakan hal yang sangat penting. Menurutnya, dengan kesiapsiagaan tersebut dugaan wabah penyakit hewan zoonosis dan penyakit infeksi emerging (PIE) dapat segera ditangani secara efektif, cepat, dan tepat, sehingga dampaknya dapat ditekan seminimal mungkin.

Sementara itu, Adrian Coghill, Team Leader AIPEID menyampaikan, kegiatan ini memberikan peluang yang besar bagi semua instansi pemerintah yang terkait. Pemerintah di tingkat pusat, regional, provinsi dan kabupaten dapat bekerjasama dan membuat jejaring bersama, saling memahami peran dan tanggung jawab masing-masing, serta menguji sistem kedaruratan yang ada saat ini sekaligus menyesuaikan dengan kondisi di wilayah masing-masing.

Kegiatan simulasi ini dihadiri juga oleh Direktur Keanekaragaman Hayati – Kementerian KLHK Indra Exploitasia, Dewan Pengarah BNPB Fuadi Darwis,  Direktur Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kebakaran Kemendagri Elvius Dailami, perwakilan dari Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia, serta Deputi Konsul Amerika Serikat di Medan.

Contact Person:
Drh. Padjar Sumping Tjatur Rasa, PhD (Direktur Kesehatan Hewan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan)