Kementan Dan Pemda Humbang Hasundutan Ajak Masyarakat Tingkatkan Konsumsi Daging

Tanggal Posting : 30 Desember 2019 | Publikasi : (admin) | Hits : 258

Doloksanggul-Sumut,_Daging adalah sumber protein hewani yang bermutu tinggi dan merupakan sumber pangan yang sangat baik untuk masa pertumbuhan dan perkembangan anak-anak karena kandungan asam aminonya yang lengkap. Berdasarkan data FAO, tingkat konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia pada 2017 masih tertinggal dari negara-negara maju bahkan dengan beberapa negara ASEAN. Dari total konsumsi protein, konsumsi protein hewani Indonesia baru mencapai 8 persen, sementara Malaysia mencapai 30 persen, Thailand 24 persen, dan Filipina mencapai 21 persen. 

Dalam rangka meningkatkan konsumsi daging sebagai sumber protein hewani serta sosialisasi tentang keamanan daging babi terkait kasus ASF, Kementerian Pertanian dan Pemerintah Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan bekerjasama dalam melakukan "Kampanye Makan Daging Babi Yang Aman dan Sehat" yang dilaksanakan bersamaan dengan Pengangkatan Sumpah/Janji Anggota BPD Periode 2019-2025 di Pendopo BPKPAD, Humbang Hasundutan, Doloksanggul, 30 Desember 2019. 

Dalam acara yg dihadiri hampir 600 orang peserta tersebut, Justan Siahaan, Inspektur Jenderal Kementan menyampaikan bahwa Menteri Pertanian Syahrul Yasmin Limpo (Mentan SYL) memberi perhatian khusus pada kasus ASF ini, karena menurutnya kasus ASF dapat mengganggu penghidupan dan perekonomian masyarakat. Mentan SYL telah berpesan agar diambil langkah-langkah strategis untuk membantu masyarakat menghadapi kasus ASF ini. 

Justan menegaskan bahwa walaupun penyakit Demam Babi Afrika atau African Swine Fever (ASF) belum ada obat dan vaksinnya, tapi penyakit ini tidak menular ke manusia. "Penyakit babi ASF dan juga penyakit Hog Cholera atau CSF adalah penyakit yang hanya bisa menyerang ternak babi, dan tidak bisa menulari manusia. Jadi daging babi dan olahannya aman untuk dikonsumsi," tegasnya. 

Sementara itu, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita di tempat terpisah meminta masyarakat tidak perlu ragu-ragu terkait keamanan daging babi dan olahannya, karena ASF bukan penyakit yang bisa ditularkan dari hewan ke manusia. Pemerintah juga terus berupaya mendampingi masyarakat menghadapi masalah ini. Menurutnya Kementan telah menyiapkan APBN tahun 2019 sebanyak 5 Milyar Rupiah untuk membantu operasional serta mengaktifkan 102 posko darurat. 

Lebih lanjut Ketut berharap dengan mengonsumsi daging babi lokal, maka hal tersebut merupakan dukungan yang sangat serius bagi para peternak babi di Sumatera Utara, khususnya di Humbang Hasundutan yang terkena dampak kasus ASF. 

"Kita harapkan dengan kampanye yang kita lakukan ini, masyarakat tidak perlu ragu lagi. Setelah perayaan natal kemarin, saya harap menyambut tahun baru 2020 nanti masyarakat yang memang biasa mengonsumsi daging babi berbondong-bondong beli daging babi dan mengolahnya dengan baik, untuk meingkatkan asupan protein hewani keluarga," harapnya. 

Ketut juga berpesan apabila dilakukan pemotongan sendiri babinya, agar limbah sisa pemotongan dikubur dengan baik dan daging dari daerah tertular tidak di laliluntaskan ke daerah yang tidak tertular.

Hal senada disampaikan juga oleh Justan, Ia mengajak para tokoh masyarakat dan jajaran Pemda terjun langsung ke masyarakat untuk mengkampanyekan daging babi aman dikonsumsi. Hal ini diharapkan membantu memulihkan kepercayaan masyarakat yang sempat menerima berita yang tidak benar, sekaligus mendukung peternak babi lokal untuk bangkit kembali. 

"Ayo kita gabung di Gerakan Makan Daging Babi Lokal Sumut. Dan kita dukung peternak babi lokal," Ajaknya.

Dalam kesempatan yang sama, Bupati Humbang Hasundutan, Dosmar Banjarnahor mengapresiasi langkah Kementan ini, dan berharap tingkat konsumsi daging babi di Sumut, khususnya di Humbang Hasundutan kembali meningkat, dan harga daging babi pulih seperti semula. 

"Beternak babi merupakan sumber penghidupan masyarakat kami di sini. Masyarakat Humbang Hasundutan tidak bisa dipisahkan dari beternak babi. Apabila konsumsi daging babi meningkat, artinya peternak babi lokal akan terbantu untuk pulih," tambahnya. Ke depan, menurutnya peternakan babi akan dipelihara dengan sistem cluster dan terpusat di lokasi-lokasi tertentu untuk memudahkan pengelolaan. Ia juga menyampaikan ide kemungkinan merubah fokus peternakan di Humbang Hasundutan ke ternak lain, seperti kerbau dan sapi. 

"Saya harapkan Kementan bisa mendukung upaya ini dengan memberi bantuan bibit sapi dan kerbau untuk masyarakat Humbang Hasundutan" pungkasnya. 

 

Narahubung:
Drh. Fadjar Sumping Tjatur Rasa, PhD., Direktur Kesehatan Hewan, Ditjen PKH, Kementan.