Mengenal “Dorper” Lebih Dekat

Tanggal Posting : 21 Oktober 2021 | Publikasi : (admin) | Hits : 598

Permintaan pasar terhadap domba terus meningkat terutama untuk kebutuhan pasar domestik seperti pemotongan harian untuk pedagang sate, kurban dan aqiqah. Selain itu adanya permintaan pasar luar negeri yang semakin terbuka dan meningkat juga menjadi suatu peluang pengembangan. Besarnya permintaan dan peluang pasar baik secara domestik maupun luar negeri ini belum dapat direspon dengan baik karena keterbatasan produksi domba siap potong dan bakalan domba untuk budidaya. Keterbatasan bakalan domba potong tersebut karena belum berjalannya kegiatan pembibitan dan pembiakan di peternak (sektor hulu). Hal tersebut perlu segera ditangani dengan menjaga ketersediaan bibit domba agar terjadi kesinambungan usaha dari sektor hulu sampai ke Hilir.

Indonesia memiliki banyak rumpun domba lokal yang berkualitas seperti Domba Garut, Domba Ekor Gemuk, Domba Ekor Tipis dan lain lain. Namun demikian, ketersediaan  bibit domba lokal tersebut masih belum cukup meningkatkan produksi dan produktivitas domba dalam rangka pemenuhan permintaan pasar domestik dan luar negeri. Berdasarkan keterbatasan tersebut maka ada upaya memasukkan atau mengitroduksikan domba Dorper yang merupakan domba tipe pedaging dengan tingkat produktivitas dan daya adaptasi yang tinggi.

Saat ini informasi mengenai perkembangan domba Dorper di Indonesia sangat terbatas dan sulit diperoleh. Hal ini dikarenakan masih sedikitnya laporan dan penelitian mengenai karakteristik dan pola pertumbuhan domba Dorper di Indonesia, yang pemeliharaannya masih secara tertutup (closed housed). Sementara itu potensinya sebagai domba penghasil daging saat cukup baik. Potensi ini perlu dilihat sebagai peluang dalam peningkatan produksi daging domba di Indonesia. Pengembangan dan peningkatan produktivitas ternak domba inipun nantinya tidak akan terlepas dari penyediaan bibit jantan maupun betina. Tulisan ini diharapkan dapat memberikan informasi dasar mengenai domba Dorper berdasarkan negara asalnya.

Karakteristik Domba Dorper

Domba Dorper merupakan jenis bangsa komposit yang berasal dari Afrika Selatan hasil dari persilangan Domba Persia berkepala hitam (Black-Headed Persian) dengan Domba Dorset (Dorset Horn). Domba ini merupakan salah satu jenis domba tak bertanduk yang paling subur dengan badan yang panjang, bulat, dan dalam, serta perpaduan rambut bulu dan rambut wol tipis dan pendek. Ada dua jenis utama Domba Dorper, yaitu Black Headed Dorper dan White Dorper. Asal-usul genetik dari kedua varian dari breed ini adalah sama, warna yang berbeda hanya dipilih karena preferensi kesukaan.

Domba Dorper memperlihatkan kemampuan adaptasi yang luar biasa, ketangguhan fisik, tingkat reproduksi dan pertumbuhan serta kemampuan mengasuh anak yang tinggi. Bobot hidup sekitar 36 kg dapat dicapai oleh domba ini pada umur 3 – 4  bulan, sedangkan untuk jantan dewasa dapat mencapai bobot hidup 110 hingga 130 kg, dan domba betina bisa mencapai bobot hidup 80 sampai 110 kg. Badan domba ini memiliki karakteristik dalam, lebar, panjang, dan padat berisi. Karakteristik teknis tersebut memiliki  peran penting dalam pemuliaan domba terutama dari sisi ekonomi.  

Di luar Afrika Selatan, domba Dorper juga banyak diternakkan dan dikembangkan di Australia sejak tahun 1996. Alasan utama dari jenis domba ini dikembangkan di Australia karena memiliki sifat reproduksi dan produksi yang baik. Domba ini juga dianggap kuat dan cocok untuk kondisi lingkungan penggembalaan di Australia karena terbiasa menghadapi kondisi lingkungan negara asalnya yaitu di Afrika Selatan.

Di negara Kanguru ini, domba ini banyak dipelihara di daerah gurun, kawasan beriklim tropis benua ini serta daerah selatan Australia yang bercurah hujan tinggi. Domba ini bahkan terbukti mampu berkembangbiak di daerah berhawa sangat dingin dan lembab seperti Tasmania. Domba ini sangat mudah beradaptasi dengan kemampuan tinggi untuk berkembang, tumbuh, berproduksi dan berkembangbiak di lingkungan yang curah hujannya tidak teratur dan rendah. Serta memiliki kemampuan untuk merumput dan menjelajah yang menunjukkan bahwa domba ini akan mengkonsumsi tanaman yang jarang dimakan oleh Merino.

Domba Dorper memiliki kulit tebal, yang sangat dihargai di pasaran dan mampu melindungi domba pada bawah kondisi iklim yang keras. Hasil pengolahan kulit memiliki kontribusi sebanyak 20 % dari total pendapatan di di Afrika Selatan. Tidak seperti Merino, Domba ini tidak membutuhkan pemotongan bulu sehingga lebih tahan terhadap penyakit serangan lalat yang biasa mengghinggapi badan domba yang selesai potong bulu.

Domba Dorper di Indonesia, saat ini yang dipelihara masih sesuai dengan gambaran karakter domba Dorper di Asutralia. Namun, nantinya diharapkan  akan muncul laporan-laporan hasil penelitian terkait karakteristik teknis khas dari domba Dorper telah dipelilhara dan dikembangkan di Indonesia. Karena, karekteristik domba ini mungkin akan mengalami adaptasi agar sesuai dengan negara tropis merupakan  habitat yang cocok bagi Domba Dorper, dengan cuaca dan iklim suhu rendah terdapat di  beberapa daerah di Indonesia. Dengan karakteristik domba Dorper memiliki kemampuan merumput maka ternak akan mudah menyesuaikan untuk konsumsi makanan.

 

Peluang Pengembangan

Indonesia mempunyai beberapa jenis domba yang terbukti mempunyai kemampuan yang tinggi dalam adaptasi terhadap lingkungan, tahan terhadap ektoparasit maupun pakan berkualitas rendah. Salah satunya adalah Domba Garut yang terkenal dengan kualitas kulitnya yang terbaik di dunia.

Tren perkembangan budidaya domba mengalami perkembangan yang positif. Indikasi tersebut terlihat dari terbukanya peluang pasar baik dalam negeri maupun pasar ekspor di wilayah regional ASEAN yang memberikan dampak positif pada gairah peternak untuk melakukan budidaya domba di Indonesia. Walaupun, secara umum proses budidaya tersebut masih bersifat subsistem, belum memperhitungkan factor biaya dan kualitas dalam pemeliharaannya.

Cepatnya tren tersebut masih belum dapat mendongkrak peningkatan produksi daging domba secara nasional. Kendala yang umum dirasakan adalah rendahnya pertambahan bobot badan ternak domba lokal yang ada. Hal ini yang perlu dicarikan solusi sehingga terjadi peningkatan produksi daging domba. Upaya yang banyak dilakukan para pemulia domba adalah dengan melakukan persilangan antar rumpun domba sehingga memperoleh sifat heterositas dari tetuanya.

Peluang persilangan ini dapat diterapkan pada domba Dorper. Upaya persilangan terhadap domba Dorper telah dilakukan dengan mengawinkan domba Dorper Betina dengan Domba Garut Jantan. Upaya persilangan ini diharapkan dapat memberikan nilai heterositas pada persilangannya. Sifat yang diharapkan dari perkawinan tersebut adalah pertumbuhan yang cepat dan tinggi dari dombna Garut, serta peningkatan bobot badan dari domba Dorper.

Keberadaan domba Dorper selain untuk menambah keragaman domba yang ada di Indonesia juga dimaksudkan memberikan peluang peningkatan daging domba melalui efek heterosis melalui introduksi sumber genetik pedaging. Kedepan pengembangan-pembiakan domba secara komersial melalui introduksi sumber genetik pedaging dari domba Dorper diharapkan menjadi alternatif solusi permasalahan restoking dan produksi domba.

Persilangan domba Dorper dengan domba Garut menunjukkan performa yang lebih baik dibanding domba Garut murni. pola warna domba Dorper relatif dominan, namun penyebaran belang juga dipengaruhi warna induk. Apabila warna kulit domba induk putih, maka anaknya berwarna seperti warna domba Dorper. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh heterosis benar-benar terlihat pada performa domba silangan. (YMY)

 

Oleh : Sinta P & Harry Cakra M

Pengawas Bibit Ternak di Dit. Perbibitan dan Produksi Ternak