Mentan : Panen Pedet Bukti Indonesia Mampu Produksi Ternak Sapi

Tanggal Posting : 29 Maret 2018 | Publikasi : (admin) | Hits : 413

Lampung Selatan (29/03/2018), Upaya percepatan peningkatan populasi sapi dan kerbau telah dicanangkan Kementan sejak tahun 2017 melalui kegiatan Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting atau yang dikenal dengan  UPSUS SIWAB telah menuai hasil.

Hari ini Kamis 29 Maret 2018, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman hadir dalam acara Panen Pedet hasil Inseminasi Buatan (IB) yang dilakukan oleh masyarakat Lampung Selatan. Panen Pedet ini merupakan merupakan titik kulminasi dari kegiatan Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting yang telah berjalan sebelumnya.

Pada kesempatan tersebut Menteri Amran mengatakan, pedet-pedet hasil IB sebanyak 2.000 ekor di Lampung Selatan merupakan jaminan untuk menunjukan bahwa Indonesia mampu secara terus menerus berkelanjutan menghasilkan ternak sapi.

“Saya sangat gembira sekali atas capaian yang telah dihasilkan dalam Program UPSUS SIWAB yang realisasi dengan sangat baik yaitu Inseminasi Buatan (IB), Pemeriksaan Kebuntingan (PKB) dan Asuransi Ternak dan hasilnya diatas 100%”, kata Menteri Amran Sulaiman. "Kita berikan selamat atas keberhasilan Lampung Selatan ini," tukasnya.

Selanjutnya Mentan menyampaikan, secara nasional program UPSUS SIWAB realisasinya juga sangat mengembirakan.  Upsus siwab yang dimulai sejak thn 2017 hingga hari ini sudah dilakukan IB sebanyak 5.027.120 ekor, sapi bunting sebanyak 2.236.934 ekor dan lahir sebanyak 1.080.334 ekor.

"Denggan kelahiran sebanyak 1.080.334 ekor atau setara dengan Rp. 7,56 Triliun dengan asumsi  harga 1  ekor pedet lepas sapih  Rp. 7 juta ekor/ekor," sebut Mentan Amran. "Nilai yang sangat fantastis mengingat investasi program pada tahun 2017 sebesar Rp. 1.1 triliun," ucapnya.

Amran mengatakan, capaian kinerja UPSUS SIWAB merupakan capaian kinerja rill di lapangan yang dilaporkan melalui sistem Pelaporan ISIHKNAS yang jelas ketelusuran dan dapat dipertanggung jawabkan hasilnya.  “Pengembangan Sistem pelaporan ini merupakan kebanggaan tersendiri karena dengan sistem ini, kinerja pengembangan populasi  sapi dan kerbau di seluruh wilayah Indonesia dapat terdeteksi secara cepat, tepat dan akurat,” jelasnya.

“Melihat  ini semua, saya yakin Provinsi Lampung akan mampu berkontribusi secara nasional  dalam mewujudkan Swasembada Daging Sapi Tahun 2023, sekaligus ekspor ke berbagai negara lainnya yang membutuhkan ternak sapi,” ucap Mentan Amran.

“Saya optimis Kebijakan Pemerintah untuk mewujudkan Indonesia pada Tahun 2045 menjadi Lumbung Pangan di Dunia sedikit demi sedikit dapat dapat kita buktikan,” kata Mentan Amran. “Setelah ekspor komoditas lainnya seperti beras, jagung dan bawang merah kita lakukan, minggu lalu kita ekspor perdana nugget ayam dengan jumlah sekitar 6,6 ton ke Negara Jepang dan daging Wagyu telah kita ekspor ke Myanmar," ujarnya. Kemudian pada pertengahan April akan dilakukan ekspor produk ayam olahan ke Jepang sebanyak 7 ton dari rencana 13,4 ton di tahun 2018, ke Timor Leste sebanyak 127,6 ton  dan DOC 10.000 ekor, serta PNG sebanyak 26,4 ton. Ekspor telur ayam tetas (hatching eggs), GPS dan PS broiler ke Myanmar sebesar 382,9 ton dengan  nilai Rp. 56,56 Milyar pada Tahun 2017.

Ekspor Obat Hewan juga telah menembus 50 Negara yang tersebar di 4 Benua dengan nilai Rp. 27,674 triliun pada tahun 2017 . Dan peluang ekspor ke negara ASEAN dan Timur Tengah masih terbuka khususnya komoditi kambing dan domba yang dalam waktu dekat ini akan dilakukan ekspor perdana ke Malaysia sebanyak 2.500 ekor.

“Keberhasilan pembangunan peternakan ini patut kita banggakan karena telah ekspor berbagai komoditas dan produk peternakan yang bernilai strategis di beberapa negara lain,” kata Amran Sulaiman.

“Tadi juga dilakukan pembakaran sate, yang kita harapkan dapat mendorong masyarakat untuk mengkonsumsi pangan hewani asal ternak karena konsumsi masyarakat kita masih rendah,” kata Mentan. “Alangkah gembiranya saya bila tusukan sate tadi juga dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia, tidak hanya di Lampung Selatan” ucap Mentan.

Mentan menegaskan, jika konsumsi produk komoditas peternakan meningkat, maka usaha peternakan akan banyak diminati oleh masyarakat. “Kita harapkan peternak dan para pelaku usaha, selain meningkatkan produksi dan populasi ternak, juga mengembangkan investasi dan pengolahan produk, serta pemasarannya,” tukasnya.

“Kita semua tentunya ingin nasib peternak-peternak agar berkembang usahanya dan sejahtera,” ujar Mentan.

“Saya lihat keberhasilan kinerja pembangunan peternakan di Provinsi Lampung tidak hanya pada produksinya saja, hal ini dapat dilihat dari indeks Nilai Tukar Petani Peternakan pada Februari 2018 secara rata-rata masih berada di atas nilai tukar petani secara nasional yaitu 114,07,” ungkap Mentan.

Nilai PDRB Pertanian Provinsi Lampung pertumbuhannya lebih tinggi yaitu 3,97% dari PDB Pertanian Nasional sebesar 3,94%. PDRB Peternakan Propinsi Lampung juga lebih tinggi, yaitu sebesar 6,65%, sedangkan PDB Peternakan Nasional hanya sebesar 4,53%.

Selain itu Mentan juga menyebutkan, mulai tahun 2018 s.d tahun 2020, Pemerintah juga akan melakukan berbagai program dan kegiatan dalam rangka Pengentasan Kemiskinan. Kementerian Pertanian akan melaksanakan kegiatan padat karya dan berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat miskin di 100 Kabupaten/Kota pada 1.000 desa. Untuk sub sektor peternakan akan difasilitasi melalui kegiatan bantuan pemerintah berupa unggas sebanyak 10 juta ekor, kambing 30 ribu ekor dan kelinci 5 ribu ekor.

Pada acara panen pedet ini, Mentan Amran juga memberikan hibah kepada kelompok ternak sebanyak 100 ekor kambing dan 1.000 ekor ayam lokal di Kabupaten Lampung Selatan, serta 10.000 ekor ayam lokal di Kabupaten Lambung Tengah.

"Saya optimis, dengan menggeliatnya usaha pertanian termasuk di dalamnya peternakan di pedesaan, maka akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat di Indonesia yang sebagian besar tinggal di desa," pungkasnya.

Contact Person:
Ir. Sugiono, MP (Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan)