Status Gunung Agung Turun, Dirjen PKH : Tim Satgas Tetap Siaga Bantu Selamatkan Ternak Warga

Tanggal Posting : 05 November 2017 | Publikasi : (admin) | Hits : 38

Tanah Ampo (04/11/2017) Pasca menurunnya status Gunung Agung dari status awas menjadi siaga, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita mengadakan pertemuan kembali bersama Bupati Karangasem I Gusti Ayu Mas Sumantri, Dandim Karangasem Firman Sjafrial Agustus, Kadis Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali Ir. I Putu Sumantra, M.App.Se dan Satgas Peternakan dan Kesehatan Hewan drh. I Ketut Nata Kusuma di Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Gunung Agung. Pertemuan tersebut dilakukan untuk menentukan langkah-langkah penanganan pra, saat, dan pasca jika terjadi bencana erupsi Gunung Agung.

I Ketut Diarmita mengingatkan meskipun telah terjadi penurunan status gunung Agung, monitoring progress yang telah dilakukan Tim Satgas dari Ditjen PKH untuk tetap terus berjalan mengkoordinasikan kegiatan penyelamatan dan penanganan ternak, serta penyaluran bantuan dari pihak lain. “’Kita jaga peternak dan ternaknya jangan sampai ketika terjadi bencana alam mereka jadi korban, Hal tersebut juga merupakan amanat Bapak Menteri Pertanian agar peternak tidak merugi dan merasa tenang dan nyaman ditempat-tempat penampungan ternak.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Peternakan dan Keswan Provinsi Bali menyampaikan, jika selama ini penjualan ternak pengungsi sangat baik dengan harga yang wajar, namun tetap kita sarankan yang dijual adalah sapi-sapi yang jantan,’’ tegasnya.

Menurut I Ketut Diarmita, pengalaman bencana meletus Gunung Merapi di Jawa Tengah telah mengajarkan banyak hal khususnya dalam mengevakuasi ternak. “Ketika terjadi musibah bencana alam, pemerintah tidak memikirkan masyarakat saja, sekaligus ternak juga harus dievakuasi, sehingga jelas SOP untuk evakuasi sapi yang aman”, tambahnya.

I Ketut Diarmita juga mengapresiasi kinerja Tim Satgas PKH dalam penanganan evakuasi sapi yang lebih baik. Saat ini Pemerintah telah menyiapkan lokasi penampungan ternak yang terdapat pada 43 lokasi di 7 titik sebaran yakni Klungkung, Buleleng, Karangasem, Gianyar, Bangli, Tabanan, dan Gianyar. Dari data update evakuasi di Posko tercatat jumlah ternak yang ada di penampungan sejumlah 6.584 ekor.

I Ketut Diarmita mengingatkan kepada Tim Satgas, agar pengawasan di tempat penampungan ternak harus tetap memperhatikan ketersediaan pakan, obat-obatan dan pemeriksaan kesehatan. “’Kegiatan ini membutuhkan banyak dana dan kita telah kerjasama dengan banyak pihak, dan kami ucapkan terimakasih kepada pihak yang sudah terlibat", ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut, Dandim 1623 Karangasem menyampaikan, sebelum ditetapkan status awas Gunung Agung, telah dilakukan koordinasi, sosialisasi dan edukasi ke masyarakat agar mengerti tentang bahaya bencana erupsi Gunung Agung. Program livelihood diharapkan dapat membantu meringankan beban masyarakat pengungsi yang berasal dari daerah rawan bencana. "Saat ini kita anjurkan adanya Tim Sosialisasi untuk anak sekolah dan masyarakat melalui poster-poster, sehingga mendapat gambaran apa yang harus dilakukan dalam menghadapi bencana alam ini”, ungkap Dandim Firman Sjafrial Agustus.

Menghadapi hari galungan, pihaknya telah mengantisipasi pengungsi yang akan merayakan hari galungan di kampung halaman yang masuk zona Kawasan Rawan Bencana (KRB). “Telah terdapat pos-pos penjagaan yang tersebar di beberapa titik untuk patroli petugas sekitar KRB”, jelasnya.

Bupati Karangasem I Gusti Ayu Mas Sumantri mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu proses evakuasi penduduk dan ternaknya yang berada di daerah rawan bencana. Sekitar 200 ribu masyarakat telah dievakuasi dan turun ke tempat yang aman.

Menurut Bupati Karangasem, hampir 30% penduduk Karangasem bertani dan beternak sapi. I Gusti menilai peternak sapi sangat mencintai ternaknya bahkan peternak telah merasa "satu jiwa" dengan ternaknya. "Jika orangnya selamat, maka sapinya juga harus selamat", ungkapnya.

Ketua Satgas Peternakan dan Kesehatan Hewan Nata Kusuma menyampaikan, telah menginventaris permasalahan jika terjadi erupsi maka perlu disiapkan seperti Persiapan posko pasca erupsi untuk menangani ternak yang mati, masalah penggantian ternak ketika ada ternak cidera, masalah penggunaan anggaran, SOP untuk evakuasi agar sapi tidak cidera. “permasalahan ini harus dibahas bersama melalui koordinasi yang intens” ujarnya.

Dandim Firman Sjafrial menyampaikan dalam koordinasi bersama pihak, telah banyak solusi yang telah ada dari mulai persiapan pra evakuasi , saat evakuasi dan pasca evakuasi (termasuk didalamnya pemulihan dan penampungan). Menurutnya, persoalan yang belum ditemukan yakni penggantian ternak.

Menanggapi hal tersebut I Ketut Diarmita menyampaikan perlu ada penggantian ternak yang harus dibahas mekanisme dan strateginya dengan mengedepankan langkah akuntabilitas dan transparansi untuk meminimalisir adanya resiko pidana. “’Untuk itu perlu disiapkan penggantian bagi ternak yang cidera’’, ungkap I Ketut Diarmita. "Sehingga perlu koordinasi antar pemerintah pusat dan daerah dalam pelaksanaannya", pungkasnya.

 

Contact Person: Drh. Syamsul Ma'arif, MSi (Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan)