Tingkatkan Pelayanan Dan Mutu, 72 Laboratorum Pakan Ikuti Uji Profisiensi

Tanggal Posting : 13 Juli 2018 | Publikasi : (admin) | Hits : 112

Yogyakarta (12/07/2018), Sebanyak 72 Laboratorum Pakan mengikuti Uji Profisiensi. Uji profisiensi (UP) adalah suatu program evaluasi kinerja laboratorium pengujian pakan terhadap kriteria yang telah ditetapkan sesuai kompetensinya.

Pada pertemuan evaluasi uji profisiensi Balai Pengujian Mutu dan sertifikasi Pakan (BPMSP) tahun 2018, Sri Widayati Ditrektur Pakan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Uji profisiensi dapat  digunakan untuk mengevaluasi kinerja laboratorium pakan. Peserta tahun ini meningkat menjadi 72 laboratorium dari tahun sebelumnya yang hanya diikuti oleh 55 laboratorium pakan.  Adapun peserta terdiri dari laboratorium pabrik pakan, perguruan tinggi, dinas peternakan provinsi/kabupaten/kota, laboratorium pakan yang sudah terakreditasi baik pemerintah/ BUMN/ swasta dan laboratorium pakan di litbang.

Sri Widayati mengatakan, untuk menjawab isu pakan yang berkembang sekarang ini dan bagaimana tercapainya mandiri pakan, menjadi hal penting yang yang harus dibahas bersama. Menurutnya, untuk mencapai kemandirian oakan perlu ditempuh melalui optimalisasi pemanfaatan bahan pakan lokal, pengembangan terhadap pabrik pakan, kelembagaan, mutu pakan, SDM Pengawas Mutu Pakan, regulasi, standar, norma, dan tak kalah pentingnya pengembangan laboratoium pakan daerah.

Lebih lanjut ia sampaikan, saat ini pakan memegang peranan terpenting dalam sistem keamanan pangan, karena mutu pakan akan tercermin dalam produk ternak yang dihasilkan. Menurutnya, keamanan pakan merupakan mata rantai penting dari keamanan pangan, khususnya pangan yang bersumber dari hewan seperti susu, telur, daging dan ikan.

“Peran pakan dalam sistem agribisnis peternakan berada dihulu, sehingga perlu dilakukan pengawasan untuk memastikan pakan yang berkualitas, dan laboratorium pakan menjamin bahwa pakan yang beredar sesuai dengan SNI/ PTM,” ungkap Sri Widayati. “Dalam jangka menengah dan panjang, ketersediaan pakan dan pengembangan bahan pakan lokal harus ditingkatkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan pakan impor,” ucapnya. Hal ini sejalan dengan kebijakan Kementerian Pertanian dalam mendukung swasembada Jagung bahkan pada pada mulai tahun 2017 tidak lagi melakukan impor dan bahkan sudah dilakukan ekspor ke beberapa Negara.

Sri Widayati menambahkan, dengan meningkatnya kepedulian terhadap mutu dan keamanan pakan yang berkualitas, maka akan mendorong pelaku usaha pakan untuk dapat memproduksi dan mengedarkan pakan yang berkualitas. Hal ini menurutnya akan berimplikasi terhadap pentingnya peran dan keberadaan laboratorium pakan di daerah. Sehingga laboratorium pakan di daerah Ia harapkan dapat memastikan pakan yang beredar berkualitas dan membantu peternak terutama dalam memberikan edukasi tentang pakan yang aman, bermutu dan efisien yang berbasis bahan pakan lokal.

“Laboratorium pakan di daerah mempunyai peran sebagai tempat pengujian dalam rangka pendaftaran sertifikasi mutu dan kemanan pakan sebagaimana dalam permentan 22/2017,” kata Sri Widayati.  Menurutnya, Laboratorium yang kompeten harus didukung oleh sumberdaya yang memadai seperti SDM atau pengawas mutu pakan kompeten, sarana dan prasarana (peralatan, perlengkapan, bangunan), dan pendanaan.

Ia katakan bahwa Pemerintah pusat setiap tahun terus memberikan perhatian untuk Wastukan dan laboratorium pakan di daerah berupa anggaran Dekonsentrasi untuk operasional pengawasan dan pengujian. Selain anggaran dekonsentrasi Pemerintah pusat juga memberikan Dana Alokasi Khusus (DAK) yang masih terbatas peruntukannya pada tahun 2019. “DAK tersebut bisa digunakan untuk rehabilitasi/pembangunan laboratorium pakan dan pengadaan peralatan pengujian,” ujarnya.

Sri Widayati menyampaikan, dari hasil evaluasi peserta UP ini nantinya, jika dengan hasil inlier, maka diharapkan dapat meningkatkan kepuasan terhadap hasil uji yang diberikan oleh laboratorium kepada pelanggan (customer), dan dapat mempercepat dalam pelaksanaan pengujian sebagai upaya untuk merespon terhadap jaminan kualitas pakan yang beredar. “Sementara bagi laboratorium yang masih outlier agar menjadi bahan untuk melakukan investigasi terhadap potensi yang memberikan berkontribusi terhadap deviasi pengujian, sehingga dapat memiliki kompetensi yang sama dengan laboratorium-laboratorium yang sudah inlier,” pungkasnya