TITIK – TITIK KRITIS SISTEM PENGGEMBALAAN TERNAK SAPI DENGAN SISTEM INTEGRASI SAWIT SAPI

Tanggal Posting : 21 Oktober 2021 | Publikasi : (admin) | Hits : 185

Dalam upaya pemeliharaan ternak, Menurut Parakkasi (1999) ada 3 sistem pemeliharaan ternak, yaitu  Sistem Intensif, Ekstensif  dan Sistem Mix Farming Sistem .

  1. Sistem Intensif  dibagi menjadi dua yaitu :
  1. Sapi dikandangkan terus menerus dengan metode pemberian pakan secara cut and carry, Sistem ini dilakukan karena lahan untuk pemberian pakan secara ekstensif telah berkurang . Keuntungan system ini adalah dengan penggunaan bahan pakan hasil ikutan dari beberapa industri lebih intensif dibandingkan dengan sistem ekstensif, sedangkan kelemahannya adalah modal yang digunakan lebih tinggi, masalah penyakit dan limbah peternakan.
  2. Sistem dikandangkan pada malam hari, kemudian pada siang hari digembalakan. Ini disebut sistem pemeliharaan semi intensif.
  1. Sistem pemeliharaan ekstensif adalah pemeliharaan ternak di padang penggembalaan , pola pertanian menetap atau dihutan. Sistem ekstensif biasanya aktivitas perkawinan , pembesaran, pertumbuhan dan penggemukan ternak sapi dilakukan oleh satu orang yang sama di padang penggembalaan yang sama. Daerah yang luas padang rumputnya , tandus atau iklimnya tidak memungkinkan untuk pertanian maka dapat dilakukan usaha peternakan secara ekstensif. Beberapa peternak melepaskan ternaknya di lapangan tanpa memperhatikan kecukupan pakannya dan keadaan padang rumput.
  2. Sistem pemeliharaan mix farming system yaitu sistem pertanian campuran yaitu petani biasanya memelihara beberapa ekor ternak sapi dengan maksud digemukkan dengan pakan yang ada di alam atau disekitar usaha pertanian. Mix farming system merupakan dasar pelaksanaan integrasi sawit - sapi.

 

Jadi, untuk pemeliharaan ternak sapi dengan penggembalaan, maka ada beberapa titik kritis yang harus diperhatikan peternak :

  1. Kegiatan penyemprotan dengan pestisida pada lahan sawit merupakan kegiatan rutin untuk mencegah pertumbuhan hama, gulma, dan penyakit pada tanaman sawit. Pada saat penyemprotan, sebaran droplet pestisida bisa mengenai rerumputan dibawah pohon sawit yang bisa saja dimakan oleh ternak. Hal ini bisa menyebabkan keracunan pada sapi.  Selain kegiatan penyemprotan pestisida, tanaman sawit juga diberikan pupuk secara rutin, untuk kawasan dataran rendah yang bukan lahan gambut ataupun berpasir dapat dilakukan dengan pemberian pupuk metode benam, sehingga dapat mencegah sapi memakan pupuk yang disebar.
  2. Binatang liar disekitar lokasi penggembalaan

Pelepasan sapi dipadang penggembalaan harus dilakukan pengawasan, karena adanya hewan liar, seperti anjing yang bisa memangsa anak sapi yang masih kecil.

  1. Pemasangan perangkap babi untuk daerah perburuan.

Kebiasaan petani yang melakukan pemasangan perangkap terhadap hewan pemangsa tumbuhan pertaniannya juga dapat mengancam jiwa ternak sapi. Jika sapi yang dilepas ke lokasi penggembalaan di lahan perkebunan masyarakat, harus dipastikan tidak ada perangkap. Peternak harus menyisir lokasi penggembalaan di plot-plot di dalam kawasan integrasi.

  1. Kondisi hijauan pada padang penggembalaan. Beberapa kondisi padang penggembalaan :
  1. Dengan sistem penggembalaan yang tidak ada pembuatan paddock sehingga terjadi continuoe grazing adalah penggembalaan ternak dimana ternak menyenggut/merumput pada padang rumput yang sama untuk waktu yang lama (sepanjang tahun) secara terus menerus (tidak ada pembagian paddock).
  2. Over-grazing adalah grazing yang berlebihan disebabkan persediaan pakan yang lebih sedikit (under stocking ) dengan jumlah ternak yang digembalakan sehingga terjadi eksploitasi padang rumput/pastura secara berlebihan, biasanya terjadi pada sistem penggembalaan continue pada musim kemarau.
  3. Undergrazing adalah grazing yang mana persediaan pakan yang lebih banyak (over-stocking ) dengan jumlah ternak yang digembalakan sehingga terjadi under eksploitasi padang rumput/pastura, biasanya terjadi pada sistem penggembalaan continue pada musim penghujan .
  4. Rotational grazing adalah penggembalaan ternak yang intensif dimana ternak menyenggut/merumput pada padang rumput dalam paddock secara bergiliran dari padang rumput yang satu ke padang rumput yang lain ataudari paddock yang satu ke paddock yang lain kemudian kembali ke padang rumput/paddock semula setelah kondisi tanaman kembali siap di senggut. Ini salah satu metode penggembalaan yang efektif.

 

  1. Kondisi cuaca yang tidak menentu sepanjang tahun yang menyebabkan ketersediaan hijauan atau kebutuhan air di lokasi penggembalan tidak selalu tersedia. Peternak harus menyiapkan pakan cadangan atau pakan konsentrat untuk memenuhi kebutuhan pakan seperti pembuatan silase ataupun pakan konsentrat pabrikan.  
  2. Kondisi padang penggembalaan yang ada lobang , parit besar ataupun lumpur dalam  dapat menyebabkan ternak jatuh masuk ke lobang  dan bisa mengakibatkan kematian ternak.
  3. Sapi induk bunting tua ataupun sapi induk beranak yang tidak diawasi dengan baik di lokasi pengembalaan, sehingga bisa terjadi kelahiran di lokasi penggembalaan yang tidak di tangani dengan baik sehingga bisa menyebabkan kematian anak ataupun induk pada saat melahirkan sapi, apalagi untuk kelahiran dengan kondisi distokia ataupun kesulitan yang bukan kelahiran normal.
  4. Kondisi pagar ataupun pintu untuk plot area penggembalaan yang rusak yang bisa mengakibatkan ternak keluar dari pengawasan dan bisa merusak tanaman masyarakat disekitar area penggembalaan. (MD)

 

 

Oleh : Azizah, S.Pt

Pengawas Bibit Ternak di Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Prov.Sumatera Barat