Mentan SYL : Ekspor Larva Kering Buka Peluang Tercapainya Gratieks

Tanggal Posting : 04 Maret 2020 | Publikasi : (admin) | Hits : 2954

Bogor, Kementerian Pertanian kembali melakukan ekspor produk peternakan yakni larva kering sebanyak 7 ton atau 1 container ke Inggris.  Menurut Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) bahwa ekspor produk peternakan  ke  Inggris, membuktikan standar kualitas produk peternakan  Indonesia mampu mematuhi  standar ekspor pangan Negara Inggris dan  internasional. 

"Ini luar biasa, menembus Inggris itu adalah pride sebuah negara, dan tidak gampang menembus Inggris,  Kami mengapresiasi kepada PT. Bio Cycle Indo yang telah dapat membaca peluang dunia usaha secara global, sehingga produk-produk yang dihasilkan mampu menembus pasar ekspor," ungkap SYL saat Pelepasan Ekspor Perdana Komoditas Larva kering ke Negara Inggris di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Bubulak, Kota Bogor Barat, Selasa (3/3).

SYL menjelaskan ekspor ini merupakan bukti sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha dalam meningkatkan Ekspor dan Investasi untuk meningkatkan perkembangan perekonomian yang  berujung pada peningkatan PDB Indonesia dan kesejahteraan masyarakat Indonesia melalui Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor Pertanian (GRATIEKS).

“Perlu inovasi untuk menumbuhkan produk ekspor baru, Larva kering ini menjadi contoh bahwa sebenarnya kemampuan produk negeri ini menembus kebutuhan dunia sangat terbuka luas” ujar SYL.

Lebih lanjut SYL mengungkapkan   larva ini menjadi peluang usaha membangkitkan minat milineal untuk terjun ke sektor pertanian.  “Komoditas  kita ini merupakan komoditas negara tropis dengan matahari yang bersinar pemanasan yang bagus tapi kelembaban yang terjaga dengan baik” ungkap SYL.

Kementan berupaya terus  mendorong UMKM  dengan memfasilitasi KUR untuk meningkatkan skala usaha dan pengadaan sarana prasarana guna meningkatkan kualitas produksi di tingkat peternak dalam memperkuat ketahanan pangan dan mengakselerasi ekspor pertanian.

Pada kesempatan  itu, Wakil Walikota Bogor, Dedie A Rachim yang hadir pada pelepasan ekpor larva kering ini menyampaikan bahwa sudah 30 negara belajar manggot di Indonesia."Kita punya potensi dan peluang yang besar  dan kami berharap lahan dapat  dimanfaatkan untuk kegiatan seperti ini di kota bogor"ungkap Dedie

Sementara itu, Budi Tanaka, Owner PT Bio Cycle Indo selaku eksportir mengatakan larva kering yang berasal dari Black Soldier Fly (BSF ) atau maggot ini diekspor ke negara industri pakan ternak sebagai sumber protein campuran bahan pembuatan pakan ternak antara lain seperti pakan unggas, ruminansia dan ikan. 

Menurut Budi bahwa perusahaan ini sudah berdiri selama  2 tahun dan berhasil mengekspor 60-80 ton larva kering melalui Tanjung priuk. Produk larva kering ini memasuki Uni Eropa melalui Belanda, kemudian ke Perancis, Belgia dan terbanyak adalah Negara Jerman. PT Bio Cycle juga membuka market ke negara Jepang. Saat ini sedang berproses untuk ijin ekspor ke Amerika dan Kanada dan berharap semua persyaratan regulasi mampu dipenuhi sehingga proses ekspor dapat segera dilakukan.

Budi menjelaskan bahwa untuk budidaya  atau pengembangan larva BSF atau maggot tidak sulit karena hanya bisa dilakukan di negara yang beriklim tropis seperti Indonesia Proses produksi dari telur lalat menjadi larva memakan waktu selama 15 hari. Dari 1 gram telur bisa menghasilkan sekitar 70 kg larva maggot kemudian dikeringkan dan untuk pakan larva BSF menggunakan bungkil kelapa sawit  tanpa ada yang terbuang yakni zerowaste.  

Budi menambahkan selama ini usahanya berjalan lancar dengan  pengiriman yang cukup bagus, permintaan luar biasa dengan kualitas manggot dunia yang tidak terkalahkan oleh negara lain.

“Indonesia bisa menjadi raja Maggot” ungkapnya. 

Budi pun membeberkan rencananya usahanya yang akan melakukan ekspansi dengan membuka pabrik baru di di Pekan Baru yang dibangun sesuai Sertifikat ISO 22000, HACCP, dan GMP sesuai standar Uni Eropa dan Amerika. Ia menyampaikan kapasitas pabriknya maksimal 24.000 ton larva per tahun dengan 20.000 ton bungkil sawit yang atau senilai 1,3 triliun ekspor per tahun. Pabrik ini akan selesai dalam 5 tahun dan sudah dimulai pembangunan fase pertama pada tahun ini dengan luas 10 hektar.

 “Usaha ini berpotensi menyerap tenaga kerja kurang lebih 500 orang dalam waktu 5 tahun” pungkasnya.

Peluang Ekspor Komoditas Peternakan

Menanggapi ungkapan pelaku usaha peternakan dalam pengembangan budidaya maggot, di kesempatan terpisah,  Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita menegaskan bahwa lompatan ekspor komoditas peternakan Indonesia hingga saat ini telah mampu menembus pasar internasional, yakni seperti obat hewan, daging ayam olahan, sarang burung wallet,  pakan ternak,  susu olahan,  semen beku sapi, ternak babi, kambing dan domba hidup termasuk larva kering ke 97 Negara.

Berdasarkan data BPS dan Pusat Data Kementerian Pertanian, volume ekspor komoditas peternakan tahun 2019 sebesar 284.349 ton atau meningkat sebesar senilai 14,92% dibandingkan dengan tahun 2018 sebesar 247.435 ton. Sedangkan nilai ekspor tahun 2019 sebesar US$ 744.378.000 atau Rp. 10,4 T meningkat 16,27% terhadap tahun 2018 sebesar US$ 640.171.000 (Rp. 8,96T). Kementan  menargetkan pertumbuhan volume ekspor peternakan pada tahun 2024 naik 300% menjadi 1.045.069 ton atau senilai Rp. 40,3 T ke 100 Negara tujuan.

“Kita berupaya untuk mengidentifikasi negara tujuan baru atau produk yang diinginkan oleh negara lain kemudian kembangkan dengan memperhatikan mutu dan keberlanjutan pasokan”ungkapnya.

Ekspor  perdana tahun 2020 ke Negara Inggris menunjukan potensi  produk peternakan telah memenuhi standar kelayakan ekspor internasional dan Pemerintah akan terus mengawal dalam pengurusan Government  to Government  dengan negara-negara tersebut.

“Momen ekspor ini, kami berharap kepada semua pelaku usaha termotivasi untuk tetap berupaya meningkatkan kuantitas maupun kualitas serta  promosi ke negara lain agar percepatan ekspor komoditas peternakan lainnya dapat bersaing di perdagangan internasional” tutur Ketut.