Dukung Pengendalian Zoonosis, Kementan Kembangkan Antigen Toxoplasmosis
Lampung — Kementerian Pertanian melalui Balai Veteriner Lampung memperkuat pengendalian penyakit zoonosis dengan mengembangkan propagasi Toxoplasma gondii untuk perbanyakan antigen. Langkah ini ditempuh guna menjamin akurasi, mutu, dan keberlanjutan pengujian laboratorium Toxoplasmosis sebagai penyakit parasitik yang dapat menular dari hewan ke manusia.
Pengembangan dilakukan secara terkontrol di Laboratorium Parasitologi Balai Veteriner Lampung. Antigen yang dihasilkan akan digunakan dalam berbagai metode uji serologis untuk meningkatkan sensitivitas dan spesifisitas hasil pengujian, baik untuk kegiatan surveilans, konfirmasi kasus, maupun penelitian.
Kepala Balai Veteriner Lampung, Suryantana, mengatakan pengembangan ini menjadi langkah strategis memperkuat kemandirian bahan uji sekaligus meningkatkan kualitas layanan laboratorium.
“Pengembangan propagasi Toxoplasma gondii untuk perbanyakan antigen ini merupakan bentuk komitmen Balai Veteriner Lampung dalam menjamin ketersediaan bahan uji yang berkualitas dan terstandar. Sebagai laboratorium rujukan Toxoplasmosis, kami harus memastikan setiap pengujian didukung oleh antigen yang valid, konsisten, dan berkelanjutan,” ujar Suryantana, Senin (1/2/2026).
Sebagai laboratorium rujukan pengujian Toxoplasmosis, unit ini berperan penting mendukung layanan pengujian di tingkat regional dan nasional. Selain pengujian rutin, laboratorium juga mengembangkan metode uji, standardisasi prosedur, serta menjadi rujukan teknis bagi laboratorium veteriner lainnya.
Penanggung Jawab Kegiatan Toxoplasmosis, Sisca Valinata, menegaskan proses propagasi dilakukan dengan standar biosafety dan pengendalian mutu yang ketat.
“Propagasi Toxoplasma gondii dilaksanakan sesuai prosedur dan standar biosafety. Antigen yang dihasilkan akan melalui tahapan pengendalian mutu sehingga dapat digunakan secara optimal dalam pengujian serologis serta mendukung keandalan hasil diagnosis,” jelas Sisca.
Bagi peternak, penguatan kapasitas laboratorium ini berarti deteksi penyakit yang lebih cepat dan akurat pada ternak, sehingga pencegahan bisa dilakukan lebih dini. Dampaknya, risiko kerugian akibat gangguan reproduksi, penurunan produktivitas, hingga potensi penularan ke manusia dapat ditekan.
Melalui penguatan Laboratorium Parasitologi sebagai laboratorium rujukan, Kementerian Pertanian memastikan kebijakan pengendalian zoonosis ditopang oleh layanan pengujian yang profesional, andal, dan berbasis ilmiah—sekaligus melindungi kesehatan hewan, peternak, dan masyarakat.