Kementan Bersama Kampus Dorong Reproduksi Ternak Jadi Strategi Swasembada Protein Hewani
Malang — Kementerian Pertanian terus mendorong penguatan ilmu pengetahuan dan inovasi di bidang peternakan guna mewujudkan kemandirian pangan nasional, khususnya dalam penyediaan protein hewani. Salah satu fokusnya adalah peningkatan kualitas reproduksi dan pemuliaan ternak, yang dinilai krusial dalam menjaga ketahanan pangan jangka panjang.
Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Nuryani Zainuddin, menyampaikan bahwa Indonesia saat ini telah berhasil mencapai surplus untuk dua komoditas unggas utama, yakni ayam dan telur. Namun, pencapaian tersebut tidak boleh membuat pemerintah dan pemangku kepentingan lengah.
"Kita tidak bisa hanya mengandalkan sistem yang ada. Kita butuh dukungan riset, pemuliaan yang tepat sasaran, serta teknologi reproduksi yang efisien dan adaptif terhadap tantangan lokal," ujar Nuryani.
Kementerian Pertanian telah menetapkan langkah strategis untuk lima tahun ke depan. Hingga 2029, pemerintah menargetkan pemasukan satu juta ekor sapi perah dan sapi indukan pedaging ke dalam sistem produksi nasional. Hingga pertengahan 2025, sudah sekitar 25 ribu ekor sapi yang berhasil dimasukkan.
Ketua Asosiasi Ahli Reproduksi dan Pemuliaan Ternak Nasional (ARPENAS), Suyadi, menyatakan pentingnya kolaborasi berkelanjutan antara akademisi dan pemerintah untuk mengembangkan strategi pemuliaan ternak yang berdampak luas bagi kesejahteraan masyarakat.
"Harapan kita bisa nantinya membantu program pemerintah. Salah satu tugasnya kita adalah menganalisis dan juga membantu program pemerintah dalam rangka pengembangan strategi breeding yang betul-betul sustainable. Harapannya juga, program breeding semakin kokoh, reproduksi semakin meningkat sehingga populasi semakin meningkat, sehingga nanti keamanan pangan yang berasal dari protein hewani bisa didukung secara berkelanjutan," ucap Suyadi.
Apresiasi atas upaya kolaboratif ini juga disampaikan oleh Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Rizki Prafitri. Ia menekankan pentingnya sinergi antar pemangku kepentingan dalam memajukan sains dan praktik pemuliaan ternak di Tanah Air.
"Kami berharap kita semua dari akademisi, pemerintah, dan pengambil kebijakan dapat bersatu dan berdiskusi, dan menghasilkan saran dan masukan untuk pengembangan reproduksi dan juga breeding di Indonesia. Pada akhirnya kita bisa mendukung program pemerintah untuk mensukseskan program pemenuhan gizi protein hewani di Indonesia," tuturnya.
Langkah-langkah ini menjadi bagian dari upaya besar pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan melalui peningkatan produksi protein hewani nasional. Dengan mengedepankan sinergi antara kebijakan, penelitian, dan investasi, sektor peternakan Indonesia diharapkan mampu tumbuh lebih kuat dan mandiri.