Kementan Dorong Lampung Jadi Motor Hilirisasi Ayam Nasional
Bandar Lampung – Kementerian Pertanian terus memperkuat hilirisasi peternakan nasional untuk menjaga ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat. Salah satu daerah yang diproyeksikan menjadi motor penggerak baru adalah Provinsi Lampung.
Lampung dinilai memiliki kekuatan besar dari sisi ketersediaan bahan baku pakan, industri pakan, hingga basis masyarakat peternak yang kuat. Kondisi ini membuat Lampung dipilih menjadi wilayah pertama di Sumatera dalam pengembangan program strategis nasional Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT).
Melalui program tersebut, Kementerian Pertanian mendorong agar pengembangan peternakan tidak berhenti di sektor produksi, tetapi juga diperkuat hingga sektor hilir agar nilai tambah lebih besar dapat dirasakan peternak dan ekonomi daerah.
Direktur Pakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Tri Melasari, mengatakan Lampung memiliki posisi strategis dalam pengembangan peternakan nasional.
“Lampung memiliki potensi yang sangat besar karena didukung ketersediaan bahan pakan, industri pakan, dan masyarakat peternak yang kuat. Karena itu, HAT di Lampung menjadi program strategis nasional pertama di wilayah Sumatera yang diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak,” ujar Tri Melasari saat menghadiri pelantikan Pengurus Insinyur dan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) Wilayah Lampung bertema “Hilirisasi Peternakan Menuju Ketahanan Pangan Lampung Dalam Mendukung Program Strategis Nasional” di Bandar Lampung, Jumat lalu (8/5/2026).
Menurut Tri Melasari, Lampung saat ini menjadi sentra peternakan terbesar kedua di Sumatera setelah Sumatera Utara. Sementara produksi daging ayam dan telur nasional masih didominasi Pulau Jawa, masing-masing sekitar 63 persen untuk daging ayam dan 62 persen untuk telur.
Karena itu, penguatan produksi di luar Jawa menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mendekatkan sentra produksi dengan pasar konsumsi.
Ia menjelaskan kebutuhan nasional terhadap daging ayam dan telur terus meningkat, terutama sejak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai diperluas di berbagai daerah.
“Kami terus mendorong peningkatan produksi dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan daging dan telur ayam nasional. Selama ini penyediaan komoditas tersebut masih banyak ditopang peternak rakyat, termasuk di Lampung. Karena itu, melalui program HAT, pengembangan tidak hanya berhenti di sektor hulu, tetapi juga diperkuat di sektor hilir agar nilai ekonominya lebih dirasakan peternak,” katanya.
Menurut Tri, pemerintah juga terus memperkuat kolaborasi bersama badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, dan sektor swasta untuk memperkuat rantai pasok peternakan nasional, termasuk penyediaan Parent Stock (PS) dan Grand Parent Stock (GPS).
Langkah tersebut diharapkan mampu membangun ekosistem peternakan yang lebih modern, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Dukungan terhadap hilirisasi peternakan juga datang dari organisasi profesi peternakan. Ketua Pengurus ISPI Provinsi Lampung periode 2026–2031, Aris Susanto, menilai hilirisasi menjadi langkah strategis menghadapi tantangan sektor peternakan ke depan.
“Peternakan ke depan menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim global, tekanan lingkungan, hingga meningkatnya kebutuhan pangan masyarakat. Kami meyakini hilirisasi peternakan mampu menjadi solusi untuk menopang ketahanan pangan, khususnya di Provinsi Lampung,” ujar Aris Susanto.
Ia mengatakan Lampung saat ini telah mencatat surplus produksi unggas, baik ayam pedaging maupun ayam petelur. Produksi tersebut bahkan telah menyuplai berbagai daerah penyangga hingga ke ibu kota.
“Ini menjadi modal besar bagi Lampung. Karena itu, seluruh anggota ISPI bersama organisasi lainnya perlu memperkuat sinergi dan kolaborasi agar hilirisasi dapat membentuk ekosistem peternakan yang sehat dan berkelanjutan, sehingga mampu memenuhi kebutuhan pangan daerah maupun nasional,” katanya.
Kementerian Pertanian menilai penguatan hilirisasi menjadi langkah penting untuk memastikan peternak rakyat tidak hanya kuat di produksi, tetapi juga memperoleh nilai tambah dari pengolahan, distribusi, hingga perluasan pasar.
Dengan potensi yang dimiliki, Lampung diproyeksikan menjadi salah satu pusat pertumbuhan baru peternakan nasional sekaligus memperkuat ketahanan pangan Indonesia di tengah meningkatnya kebutuhan pangan masyarakat. (*)