Kementan Perkuat Surveilans di Bengkulu, Pastikan Ternak Sehat Jelang Idul Adha
Bengkulu – Kementerian Pertanian terus memperkuat perlindungan kesehatan hewan melalui kegiatan surveilans terintegrasi di berbagai daerah. Langkah ini dilakukan untuk memastikan ternak tetap sehat, aman, dan produktif, terutama menjelang momentum Idul Adha ketika kebutuhan hewan kurban meningkat.
Melalui tim Balai Veteriner Lampung, Kementerian Pertanian turun langsung ke sejumlah wilayah di Provinsi Bengkulu, meliputi Kabupaten Bengkulu Selatan, Seluma, dan Kota Bengkulu pada 24–28 April 2026. Kegiatan difokuskan pada deteksi dini penyakit hewan strategis sekaligus edukasi kepada peternak terkait pencegahan dan pengendalian penyakit.
Kepala Balai Veteriner Lampung, Suryantana, menegaskan bahwa penguatan edukasi kepada peternak menjadi bagian penting dalam menjaga keberhasilan pengendalian penyakit hewan.
“Kami tidak hanya melakukan pengujian laboratorium, tetapi juga memperkuat edukasi kepada peternak agar mampu mengenali gejala penyakit dan melakukan langkah pencegahan secara mandiri, termasuk vaksinasi. Sinergi antara pusat dan daerah menjadi kunci dalam menjaga kesehatan hewan dan keamanan produk hewan,” jelas Suryantana.
Bagi peternak, langkah ini menjadi bentuk nyata kehadiran negara dalam menjaga kesehatan ternak dan melindungi usaha peternakan dari ancaman penyakit menular seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Jembrana, hingga Lumpy Skin Disease (LSD).
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bengkulu, Abdul Hadi, mengatakan kegiatan ini sangat membantu daerah dalam memperkuat sistem kewaspadaan kesehatan hewan, terutama menjelang Idul Adha.
“Kegiatan ini sangat membantu daerah dalam memastikan status kesehatan hewan, khususnya menjelang momentum Idul Adha. Kami juga mendorong peran aktif dokter hewan di kabupaten/kota sebagai garda terdepan dalam penyebaran informasi dan pengendalian penyakit,” ujarnya.
Pada tahap awal, tim melakukan pemeriksaan fisik terhadap hewan kurban bantuan masyarakat tahun 2026 di sejumlah titik lokasi. Di Kabupaten Bengkulu Selatan, satu ekor sapi berbobot sekitar 1.005 kilogram diperiksa, sedangkan di Kabupaten Seluma dilakukan pemeriksaan terhadap tiga ekor sapi dengan bobot antara 840 hingga 940 kilogram.
Selain pemeriksaan fisik, tim juga mengambil sejumlah spesimen untuk diuji di laboratorium guna mendeteksi PMK, parasit darah, dan parasit gastrointestinal. Hasil pengujian menunjukkan sapi bantuan tersebut negatif dari PMK maupun parasit darah.
Hasil ini menjadi kabar baik bagi peternak karena menunjukkan kondisi kesehatan ternak yang relatif aman dan layak untuk mendukung kebutuhan hewan kurban masyarakat.
Surveilans kemudian dilanjutkan di Kota Bengkulu dengan cakupan yang lebih luas, meliputi pengujian PMK, Enzootic Bovine Leukosis (EBL), Septicaemia Epizootica (SE), Jembrana, serta parasit darah pada sapi dan kerbau. Sebanyak 37 spesimen berhasil dikumpulkan dari empat lokasi berbeda.
Kementerian Pertanian menegaskan bahwa surveilans terintegrasi ini bukan hanya upaya pengendalian penyakit, tetapi juga bentuk perlindungan nyata terhadap peternak agar usaha mereka tetap berjalan aman, produktif, dan berkelanjutan.
Dengan penguatan deteksi dini, edukasi lapangan, dan sinergi pusat-daerah, Kementan memastikan kesehatan ternak tetap terjaga sekaligus menjamin keamanan produk hewan bagi masyarakat. (*)