Kementan Uji Pakan Lokal Tana Tidung, Buka Potensi Efisiensi Rp1,8 Miliar
Bekasi — Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Pakan (BMPSP) Bekasi menguji formulasi pakan ayam petelur berbahan bungkil inti sawit yang dikembangkan oleh Pemerintah Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara. Pengujian dilakukan untuk memastikan mutu dan kelayakan formulasi sebelum dipertimbangkan untuk diterapkan kepada peternak.
Inovasi tersebut berangkat dari kebutuhan peternak untuk menekan biaya pakan sekaligus memanfaatkan bahan baku yang tersedia di daerah. Pemerintah Kabupaten Tana Tidung memilih bungkil inti sawit sebagai salah satu bahan alternatif karena potensinya cukup besar dan harganya relatif lebih terjangkau.
Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Tana Tidung, Idris Hendro Wibowo, mengatakan bahwa pemanfaatan bahan lokal tersebut masih dalam tahap pengembangan dan pengujian.
“Bungkil inti sawit ini salah satu bahan yang kita coba gunakan. Potensinya luar biasa di tempat kita dan harganya relatif lebih terjangkau,” ujar Idris.
Formulasi tersebut diarahkan untuk mengurangi penggunaan bahan pakan yang cukup membebani biaya produksi, khususnya dedak. Dalam formulasi yang diuji, konsentrat pabrikan tetap digunakan, sementara jagung, dedak, dan bungkil inti sawit menjadi bagian dari komposisi pakan.
Untuk memastikan formulasi tersebut layak digunakan, Pemerintah Kabupaten Tana Tidung telah menyampaikan empat sampel untuk diuji di BMPSP Bekasi. Dua sampel menggunakan bungkil inti sawit tanpa dedak, sedangkan dua sampel lainnya masih menggunakan dedak dalam jumlah yang diminimalkan.
Di sinilah peran Kementan menjadi penting. Kepala BMPSP Bekasi, Iqbal Alim, mengatakan pemanfaatan bahan pakan lokal harus didukung oleh pengujian agar efisiensi yang diharapkan tidak mengorbankan kualitas dan kebutuhan nutrisi ternak.
“Pemanfaatan bahan pakan lokal merupakan salah satu peluang untuk meningkatkan efisiensi usaha peternakan. Namun, setiap formulasi tetap harus melalui pengujian agar kualitas dan kesesuaiannya dapat dipastikan sebelum digunakan oleh peternak,” ujar Iqbal.
Menurut Iqbal, harga bahan baku bukan satu-satunya ukuran dalam menentukan efisiensi pakan. Formulasi juga perlu memperhatikan kualitas, keseimbangan nutrisi, keamanan, dan kesesuaiannya dengan kebutuhan ternak.
Hasil pengujian tersebut akan menjadi bahan pertimbangan Pemerintah Kabupaten Tana Tidung untuk menentukan apakah formulasi yang dikembangkan dapat direkomendasikan dan diterapkan kepada peternak.
Jika hasil pengujian menunjukkan bahwa formulasi tersebut memenuhi persyaratan, potensi efisiensinya cukup besar. Berdasarkan simulasi awal Pemerintah Kabupaten Tana Tidung, penggunaan pakan berbahan lokal berpotensi menghemat biaya sekitar Rp1,8 miliar per tahun untuk kebutuhan pakan ayam petelur dibandingkan dengan penggunaan pakan pabrikan.
Angka tersebut masih berupa simulasi dan belum merupakan penghematan yang telah terealisasi. Besarnya manfaat tetap bergantung pada hasil pengujian, rekomendasi teknis, formulasi yang digunakan, serta penerapannya di tingkat peternak.
Bagi Kementan, pengembangan seperti ini menunjukkan bahwa solusi efisiensi pakan dapat dicari dari potensi yang tersedia di masing-masing daerah. Namun, inovasi harus berjalan beriringan dengan pengujian mutu agar bahan lokal yang digunakan benar-benar sesuai dengan kebutuhan ternak.
Melalui BMPSP Bekasi, Kementan terus mendukung pemerintah daerah dalam menguji dan mengembangkan bahan pakan lokal. Pendekatan tersebut diharapkan dapat memperluas pilihan bahan baku pakan, meningkatkan efisiensi usaha, dan pada akhirnya memperkuat daya saing peternak ayam petelur. (*)