Perkuat Kapasitas Genomik, Kementan Ikuti Pelatihan IAEA di Austria
Bandar Lampung — Perwakilan dari berbagai negara telah berkumpul di Austria ketika International Atomic Energy Agency (IAEA) menggelar rangkaian kegiatan teknis selama dua pekan pada 10–21 November 2025. Agenda tersebut merupakan bagian dari inisiatif IAEA untuk memperkuat kapasitas negara-negara anggota dalam pemanfaatan teknologi genomic, sebuah bidang yang kian memegang peran sentral dalam surveilans penyakit, deteksi dini, dan modernisasi diagnostik veteriner.
Kementerian Pertanian (Kementan) mengirimkan salah satu tenaga veteriner muda, Fransiska Panasea Anggy, dari Balai Veteriner Lampung. Kehadiran Anggy menegaskan komitmen Kementan untuk mengadopsi teknologi sequencing yang menjadi standar global dalam penanganan penyakit hewan, terutama penyakit infeksius yang membutuhkan respon cepat.
Selama pelatihan, peserta digembleng dalam serangkaian materi intensif mulai dari teori dasar genomik, teknik ekstraksi dan preparasi sampel, pembuatan library sequencing, hingga pengoperasian instrumen NGS berbasis platform IAEA. Sesi berlanjut ke analisis data menggunakan perangkat bioinformatika terbaru. Para peserta dibimbing langsung pakar-pakar IAEA, memberikan pengalaman menyeluruh dari laboratorium basah sampai pengolahan data tingkat lanjut.
Kepala Balai Veteriner Lampung menyambut kesempatan tersebut sebagai momentum penting. “Partisipasi Balai Veteriner Lampung dalam pelatihan NGS dan Bioinformatika di IAEA merupakan langkah strategis untuk memperkuat kemampuan diagnostik dan surveilans berbasis genomik. Teknologi ini adalah masa depan deteksi penyakit hewan. Kami berkomitmen meningkatkan kapasitas SDM agar pelayanan laboratorium semakin modern, cepat, dan akurat,” ujarnya, Senin (8/12/2025).
Anggy, peserta pelatihan, menilai program ini membuka pemahaman baru tentang standar internasional dalam pengelolaan data genomik.
“Pelatihan ini sangat relevan untuk penguatan diagnostik molekuler di Balai Veteriner Lampung. Saya berharap teknologi ini bisa segera diterapkan untuk mendukung respons yang lebih cepat dan akurat terhadap wabah penyakit,” katanya.
Balai Veteriner Lampung diharapkan dapat menerapkan teknologi genomik secara lebih luas, baik dalam diagnostik, penelitian, maupun peningkatan layanan laboratorium. Langkah ini juga memperkokoh kontribusi Indonesia dalam jaringan laboratorium kesehatan hewan internasional di bawah koordinasi IAEA.