Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
Logo

Vaksinasi LSD di Bali, Kementan Fokus Lindungi Peternak

07/02/2026 07:30:00 Indra 110

Denpasar — Bagi peternak, penyakit bukan hanya ancaman kesehatan ternak, tetapi juga risiko langsung terhadap pendapatan dan keberlanjutan usaha. Karena itu, vaksinasi menjadi langkah kunci untuk melindungi ternak, menekan potensi kerugian ekonomi, sekaligus menjaga produksi tetap stabil. Upaya ini kembali diperkuat Kementerian Pertanian melalui pelaksanaan vaksinasi Lumpy Skin Disease (LSD) di sentra pembibitan sapi Bali.

Sebagai bagian dari pencegahan penyakit hewan menular strategis, Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Denpasar melaksanakan vaksinasi LSD dosis pertama di Breeding Center Pulukan, Selasa, 3 Februari 2026. Langkah preventif ini ditujukan untuk melindungi ternak dari ancaman LSD sekaligus menjaga lingkungan pembibitan tetap sehat dan aman.

Kepala BPTU-HPT Denpasar, I Gusti Putu Ngurah Raka, menegaskan pentingnya vaksinasi sebagai fondasi keberlanjutan usaha pembibitan yang hasilnya akan dirasakan langsung oleh peternak. “Vaksinasi LSD merupakan langkah krusial dalam menjaga kesehatan ternak di lingkungan breeding center. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan mencegah penularan penyakit, tetapi juga menjadi wujud komitmen BPTU-HPT Denpasar dalam menjaga keberlanjutan program pembibitan yang berkualitas dan berdaya saing,” ujarnya.

Pada tahap awal, sebanyak 60 ekor ternak telah mendapatkan dosis pertama vaksin LSD. Selain vaksinasi, penerapan biosecurity ketat terus dilakukan secara konsisten untuk memutus mata rantai penularan penyakit, baik dari dalam maupun luar lingkungan breeding center. Sistem ini memastikan bibit yang dihasilkan sehat dan aman untuk dikembangkan oleh peternak di berbagai daerah.

Kementerian Pertanian menilai langkah ini sebagai bentuk kehadiran negara dalam melindungi peternak dari ancaman penyakit yang dapat menggerus produktivitas dan pendapatan. Ternak yang sehat berarti risiko kematian dan penurunan performa dapat ditekan, sehingga usaha peternakan tetap berjalan dan memberi keuntungan berkelanjutan bagi peternak.

Di kesempatan terpisah, Direktur Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Hendra Wibawa, menekankan bahwa vaksinasi dilakukan untuk memutus penularan LSD yang berpotensi mengganggu ekonomi peternak.

“Peternak diminta segera melapor jika menemukan gejala benjolan pada kulit sapi, tidak memasukkan maupun mengeluarkan ternak dari kandang di zona tertular, serta menjaga kebersihan kandang untuk mengurangi habitat vektor pembawa penyakit,” ujar Hendra Wibawa.

Melalui sinergi pemerintah pusat dan daerah, petugas lapangan, serta pelaku usaha peternakan, program vaksinasi LSD diharapkan mampu menekan penyebaran penyakit secara signifikan. Dengan ternak yang lebih sehat dan produktif, peternak menjadi aktor utama dalam menjaga pasokan protein hewani nasional, sementara negara hadir memastikan perlindungan dan keberlanjutan usaha peternakan di lapangan.

Kategori
WA Layanan Ditjen PKH