Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
Logo

Alih Fungsi Lahan Picu Ancaman Zoonosis, Kementan Perkuat Deteksi Dini Berbasis One Health

13/01/2026 18:51:00 Indra 105
Lampung — Perubahan bentang alam akibat alih fungsi hutan dan lahan terus memunculkan tantangan baru bagi kesehatan hewan dan manusia. Ekspansi kawasan permukiman, urbanisasi, serta intensifikasi pertanian dan peternakan dinilai meningkatkan frekuensi pertemuan antara satwa liar, ternak domestik, dan manusia, yang berujung pada naiknya risiko penularan penyakit lintas spesies.
Secara global, sebagian besar penyakit infeksi baru yang muncul dalam beberapa dekade terakhir diketahui bersumber dari hewan. Data internasional menunjukkan sekitar 70 persen penyakit infeksi baru tergolong zoonosis, dan hampir 75 persen di antaranya berasal dari satwa liar. Fakta tersebut menegaskan bahwa perubahan ekosistem berperan besar dalam kemunculan wabah penyakit baru.
Salah satu satwa liar yang menjadi perhatian utama adalah kelelawar. Hewan ini memiliki tingkat interaksi yang relatif tinggi dengan manusia dan ternak, terutama di wilayah yang mengalami perubahan tata guna lahan. Kelelawar juga dikenal sebagai hospes alami berbagai patogen, termasuk virus yang berpotensi menular ke manusia.
Dosen Biologi FMIPA Universitas Lampung (Unila), Elly L. Rustiati, menjelaskan bahwa aktivitas manusia yang semakin mendekati habitat alami kelelawar memperbesar peluang terjadinya kontak langsung maupun tidak langsung. Kondisi tersebut dapat memicu peristiwa spillover atau loncatan patogen dari satwa ke manusia maupun hewan ternak.
“Pembukaan hutan, pertanian intensif, hingga pembangunan permukiman di sekitar habitat kelelawar membuat batas interaksi semakin kabur. Ketika ruang hidup satwa terganggu, risiko penularan penyakit ikut meningkat,” ujar Elly, Selasa (13/1/2026).
Elly menambahkan, pendekatan pencegahan harus dilakukan sejak dini dengan memahami pola interaksi satwa liar, manusia, dan ternak. Menurutnya, riset berbasis ekologi dan kesehatan sangat penting untuk memetakan potensi ancaman zoonosis di tingkat lokal.
“Mencegah jauh lebih efektif daripada menangani wabah. Karena itu, riset kolaboratif lintas disiplin menjadi kunci untuk mengidentifikasi risiko sebelum penyakit muncul,” katanya.
Menyikapi tantangan tersebut, Kementerian Pertanian melalui Balai Veteriner Lampung terus memperkuat upaya deteksi dini dan kesiapsiagaan terhadap penyakit hewan menular strategis dan zoonosis. Salah satu langkah yang ditempuh adalah menjalin kolaborasi dengan Universitas Lampung dalam kajian interaksi kelelawar, manusia, dan ternak domestik di sejumlah wilayah rawan.
Kajian tersebut dilakukan di beberapa lokasi, antara lain Kecamatan Rajabasa dan Labuan Ratu di Kota Bandar Lampung, serta Kecamatan Braja Selebah dan Labuan Ratu di Kabupaten Lampung Timur. Wilayah-wilayah ini dinilai memiliki tingkat interaksi yang cukup tinggi antara aktivitas manusia dan habitat satwa liar.
Kepala Balai Veteriner Lampung, Suryantana, mengatakan kerja sama tersebut difokuskan pada penguatan surveilans berbasis risiko, penelitian lintas sektor, serta peningkatan kapasitas deteksi laboratorium.
“Kolaborasi ini bertujuan untuk mendeteksi potensi munculnya penyakit infeksi baru sejak dini, sehingga langkah pencegahan dapat segera dilakukan sebelum berkembang menjadi wabah,” ujarnya.
Melalui pendekatan One Health, sinergi antara pemerintah, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya diharapkan mampu meningkatkan kewaspadaan bersama. Pendekatan ini tidak hanya berorientasi pada perlindungan kesehatan manusia, tetapi juga menjaga keberlanjutan subsektor peternakan serta kelestarian lingkungan.
Kategori
WA Layanan Ditjen PKH