Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
Logo

Bukan Lagi Pendukung, Perempuan Kini Jadi Penggerak Utama Peternakan Nasional

01/05/2026 22:46:00 Pradi 34

Jakarta – Peran perempuan dinilai semakin strategis dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, khususnya di subsektor peternakan. Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Pangan dan Kementerian Pertanian terus mendorong pemberdayaan perempuan sebagai bagian dari upaya peningkatan produksi dan kesejahteraan pelaku usaha.

Hal tersebut mengemuka dalam diskusi hybrid yang melibatkan Kementerian Koordinator Pangan, Kementerian Pertanian, serta Nestlé Indonesia di Kantor Kementerian Pertanian Jakarta pada Kamis, (30/4/2026).

Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Pangan, Widiastuti, menegaskan bahwa perempuan memiliki peran kunci dalam menggerakkan subsektor peternakan, mulai dari lingkup rumah tangga hingga aktivitas ekonomi.

“Perempuan bukan sebagai pendukung saja, tapi aktor kunci dalam menggerakkan subsektor peternakan dan meningkatkan ketahanan pangan,” ujarnya.

Menurut Widiastuti, pendekatan perempuan dalam mengelola usaha ternak turut berkontribusi pada peningkatan produktivitas dan kualitas hasil produksi.

“Naluri keibuan juga berperan dalam peternakan. Saat memberi pakan, perempuan melakukannya dengan penuh perhatian dan kasih sayang, yang turut mendukung kesehatan dan produktivitas ternak, termasuk meningkatkan hasil susu,” katanya.

Ia menambahkan, perempuan juga memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi dalam menghadapi tantangan sektor pangan, termasuk dalam menciptakan inovasi dan membuka akses pembiayaan.

“Dalam kondisi apa pun, perempuan bisa menciptakan solusi dan inovasi, termasuk mencari pembiayaan atau investor untuk mengembangkan usaha,” jelasnya.

Sejalan dengan itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Nuryani Zainuddin, menegaskan bahwa Kementerian Pertanian terus membuka ruang yang luas bagi perempuan untuk berperan dalam pembangunan sektor peternakan.

Menurut dia, perempuan kini tidak hanya terlibat di tingkat teknis, tetapi juga dalam pengambilan keputusan, baik di tingkat kebijakan maupun implementasi di lapangan.

“Peran perempuan sangat penting di semua lini, termasuk dalam membuat kebijakan di subsektor peternakan dan kesehatan hewan. Kami tidak membedakan gender dalam program. Siapa pun yang memiliki kapasitas, termasuk perempuan, akan diberi kesempatan,” tegas Nuryani.

Ia menambahkan, Kementerian Pertanian telah mendorong berbagai program pemberdayaan perempuan, mulai dari pelatihan biosekuriti hingga peningkatan kapasitas tenaga medis veteriner, sebagai bagian dari penguatan sumber daya manusia peternakan.

Dari sisi industri, Head of Milk Procurement and Dairy Development Nestlé Indonesia, Ida Royani, menyebut perempuan memiliki peran vital dalam rantai pasok susu nasional, terutama dalam usaha peternakan keluarga.

“Usaha sapi perah yang ada di Indonesia terutama di Pulau Jawa ini banyak yang merupakan usaha keluarga, yang artinya itu melibatkan ibu. Decision maker dalam usaha sapi perah untuk melakukan improvement itu adalah ibu-ibu,” ujarnya.

Diskusi ini menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan bukan hanya bagian dari isu kesetaraan, tetapi juga menjadi strategi penting dalam meningkatkan produktivitas peternakan, kualitas pangan, serta kesejahteraan masyarakat. 

Pemerintah melalui Kemenko Pangan dan Kementerian Pertanian memastikan dukungan kebijakan dan program terus diperkuat agar peran perempuan di sektor peternakan semakin optimal. (*)

Kategori
WA Layanan Ditjen PKH