Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
Logo

Kementan Pacu Pengembangan Ternak Babi, Perkuat Usaha Peternak Rakyat

29/08/2026 01:46:00 Fahmi 55
Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong pengembangan peternakan babi di sejumlah daerah untuk memperkuat populasi, meningkatkan produktivitas, dan membangun usaha peternak rakyat yang lebih berkelanjutan.
Pada 2026, program pengembangan ternak babi diarahkan kepada 30 kelompok peternak di sejumlah wilayah. Setiap kelompok direncanakan mengembangkan 10 ekor ternak babi berumur sekitar enam bulan, terdiri atas satu ekor jantan dan sembilan ekor betina, disertai dukungan pakan, obat-obatan, dan vitamin.
Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementan, Hary Suhada, mengatakan pengembangan peternakan tidak cukup hanya menambah jumlah ternak. Program harus memastikan ternak yang dikembangkan sehat, produktif, dan mampu menjadi basis usaha yang memberi manfaat jangka panjang bagi peternak.
“Kita ingin seluruh proses berjalan sesuai target dan benar-benar memberikan manfaat bagi peternak. Karena itu, kesiapan kelompok, kondisi ternak, pakan, kesehatan hewan, hingga pengelolaan usaha harus sama-sama diperhatikan,” ujar Hary dalam rapat secara daring yang membahas upaya percepatan, Rabu (26/8/2026).
Menurut dia, penguatan populasi harus berjalan seiring dengan penerapan manajemen pemeliharaan yang baik, penguatan biosekuriti, ketersediaan pakan, serta peningkatan kapasitas peternak. Pendekatan tersebut penting agar tambahan populasi tidak berhenti pada angka, tetapi mampu berkembang menjadi usaha yang produktif dan berkelanjutan.
Kementan karena itu melakukan pengawalan secara bertahap sesuai kesiapan masing-masing wilayah dan kelompok penerima. Proses identifikasi dan verifikasi dilakukan untuk memastikan dukungan diberikan kepada kelompok yang benar-benar siap mengembangkan usaha peternakan.
Di antara wilayah yang saat ini berproses adalah Papua Barat Daya, Kalimantan Barat, dan Lampung.
Di Papua Barat Daya, dari 10 kelompok yang menjadi sasaran pengembangan, delapan kelompok telah menyelesaikan kelengkapan administrasi dan siap memasuki tahap verifikasi lapangan. Dua kelompok lainnya masih menyelesaikan proses yang diperlukan.
Sementara itu, lima kelompok di Kalimantan Barat terus mematangkan kesiapan masing-masing. Di Lampung, dua kelompok telah menyelesaikan proses verifikasi dan siap melanjutkan ke tahapan berikutnya, sementara identifikasi calon kelompok lainnya masih berlangsung.
Kepala Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar, I Gde Eka Budhiyadnya, mengatakan pengawalan di lapangan dilakukan agar kelompok yang ditetapkan benar-benar memiliki kesiapan teknis dan kelembagaan.
“Kami terus melakukan koordinasi dan pengawalan agar proses identifikasi dan verifikasi calon penerima dapat segera diselesaikan. Setelah seluruh tahapan terpenuhi, program dapat dilanjutkan sehingga dukungan bisa segera dimanfaatkan oleh kelompok penerima,” kata I Gde Eka Budhiyadnya.
Selain kesiapan kelompok, aspek kesehatan hewan menjadi perhatian penting dalam pelaksanaan program. Kementan mendorong penerapan biosekuriti, manajemen pemeliharaan yang baik, pengawasan kesehatan ternak, serta peningkatan kemampuan peternak dalam mengelola usaha.
Hary menegaskan, ukuran keberhasilan program bukan semata-mata pada tersalurkannya dukungan, melainkan pada kemampuan peternak memanfaatkannya untuk memperkuat usaha.
“Yang paling penting adalah dukungan ini tepat sasaran dan benar-benar dimanfaatkan untuk mengembangkan usaha peternakan. Kita ingin ternaknya berkembang, produktivitas meningkat, dan usaha peternak semakin kuat,” tutur Hary.
Melalui penguatan koordinasi, pendampingan, dan pengawalan di lapangan, Kementan menargetkan pengembangan peternakan babi mampu membentuk populasi ternak yang sehat dan produktif, sekaligus mendorong tumbuhnya usaha peternak rakyat di daerah.
Bagi Kementan, keberhasilan program tidak hanya diukur dari bertambahnya populasi ternak, tetapi juga dari meningkatnya produktivitas, semakin kuatnya usaha peternak, dan bergeraknya ekonomi masyarakat di daerah. (*)
Kategori
WA Layanan Ditjen PKH