Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
Logo

Kementan Pastikan Empat Anjing Pemburu di Jasinga Bogor Negatif Rabies

15/06/2026 07:38:00 Pradi 116
Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan keempat anjing pemburu yang terlibat dalam insiden meninggalnya seorang anak berinisial MAS (9) di Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat (7/6/2026), dinyatakan negatif rabies berdasarkan hasil pengujian laboratorium resmi Balai Veteriner (BV) Subang.
Direktur Kesehatan Hewan Kementan, Hendra Wibawa, mengatakan pengujian dilakukan menggunakan metode standar internasional yang direkomendasikan World Organisation for Animal Health (WOAH) dalam diagnosis rabies.
"Kami ingin menegaskan kepada masyarakat bahwa hasil pengujian laboratorium BV Subang mengonfirmasi keempat anjing tersebut negatif rabies. Tidak ada ancaman penyebaran virus rabies dari insiden ini," ujar Hendra di Kantor Kementan Jakarta, Jumat (12/6/2026).
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Balai Veteriner Subang, Putut Eko Wibowo, mengatakan pengujian dilakukan segera setelah sampel diterima guna memberikan kepastian ilmiah kepada masyarakat dan mendukung proses investigasi yang sedang berjalan.
Menurut Putut, metode direct Fluorescent Antibody Test (dFAT) yang digunakan merupakan metode standar internasional yang direkomendasikan WOAH karena memiliki tingkat akurasi yang tinggi dalam mendeteksi virus rabies.
"Balai Veteriner Subang melakukan pengujian sesuai standar laboratorium yang berlaku dengan metode dFAT sebagai gold standard diagnosis rabies. Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap seluruh sampel yang diterima, keempat anjing tersebut dinyatakan negatif rabies," ujar Putut.
Ia menambahkan bahwa laboratorium veteriner pemerintah terus siaga memberikan layanan pengujian cepat untuk mendukung pengendalian penyakit hewan menular strategis dan memastikan masyarakat memperoleh informasi yang akurat berdasarkan hasil ilmiah.
"Kami berupaya memberikan hasil pengujian secara cepat, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah sehingga dapat menjadi dasar pengambilan keputusan oleh pemerintah maupun aparat penegak hukum," katanya.
Menurut Direktur Hendra, hasil tersebut memberikan kepastian penting bahwa tidak terdapat risiko penularan rabies dari kasus tersebut kepada manusia maupun hewan lain di sekitar lokasi kejadian.
"Dengan hasil negatif ini, masyarakat tidak perlu panik. Yang paling penting adalah kejadian ini menjadi pengingat serius tentang keharusan pengawasan ketat terhadap hewan peliharaan di ruang publik," tegasnya.
Hendra menambahkan bahwa kasus ini sekaligus menunjukkan pentingnya sistem pengawasan kesehatan hewan yang cepat dan responsif. Karena itu, Kementan terus memperkuat surveilans rabies, vaksinasi hewan penular rabies, serta layanan pengujian laboratorium di seluruh Indonesia.
Saat ini Kementan bersama pemerintah daerah terus menjalankan program vaksinasi rabies dengan target cakupan minimal 70 persen populasi hewan rentan, sesuai rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk memutus rantai penularan rabies.
Selain itu, Kementan juga memperkuat koordinasi lintas sektor bersama Kementerian Kesehatan, pemerintah daerah, organisasi profesi dokter hewan, serta komunitas pecinta hewan guna meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kasus gigitan hewan penular rabies.
Kementan terus mengingatkan pentingnya tanggung jawab pemilik hewan dalam memastikan hewan peliharaan mendapatkan vaksinasi rabies secara rutin serta berada dalam pengawasan yang memadai, terutama ketika dibawa ke ruang publik atau kegiatan berburu.
Kementan juga mengimbau masyarakat yang mengalami gigitan hewan penular rabies untuk segera mencuci luka menggunakan sabun dan air mengalir selama minimal 15 menit, kemudian mendatangi fasilitas kesehatan terdekat guna mendapatkan penanganan medis, termasuk Vaksin Anti Rabies (VAR) maupun Serum Anti Rabies (SAR) apabila diperlukan.
"Jangan menunggu gejala sebelum mencari pertolongan. Rabies 100 persen mematikan setelah gejala muncul, namun 100 persen dapat dicegah dengan penanganan segera setelah gigitan," kata Hendra.
Kementan menegaskan akan terus menyampaikan informasi kesehatan hewan secara terbuka dan berbasis bukti ilmiah. Hasil pengujian BV Subang juga telah disampaikan kepada pihak terkait sebagai bagian dari dukungan terhadap proses penyelidikan yang sedang berlangsung. (*)
Kategori
WA Layanan Ditjen PKH