Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
Logo

Kementan Perkuat SDM Bioinformatika, Peternak Diuntungkan Lewat Deteksi Penyakit Lebih Cepat

31/03/2026 08:57:00 Indra 36

Phnom Penh, Kamboja – Upaya pemerintah memperkuat perlindungan terhadap peternak terus dilakukan. Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Veteriner (BBV) Wates meningkatkan kapasitas tenaga teknisnya dengan mengirim tim bioinformatika mengikuti pelatihan internasional pada 23 Februari hingga 6 Maret 2026 di Phnom Penh, Kamboja.

Pelatihan bertajuk “Tim Bioinformatika BBV Wates Ikuti Pelatihan di Institute Pasteur du Cambodge” ini menjadi bagian dari strategi negara dalam memperkuat sistem deteksi dini penyakit hewan. Langkah ini berdampak langsung pada penanganan penyakit yang lebih cepat, akurat, dan terukur sehingga risiko kerugian dapat ditekan.

Kegiatan tersebut berlangsung di Institut Pasteur du Cambodge melalui kerja sama FAO ECTAD Indonesia, Institut Pasteur du Cambodge, serta Australia–Indonesia Centre for Disease Preparedness. Fokus utamanya adalah meningkatkan kemampuan analisis data genomik untuk mendukung surveilans dan penelitian penyakit hewan.

Pelatihan ini dikoordinasikan oleh Eric Karlsson selaku Deputi Kepala Bagian Virologi, dengan Giorgio Gonnella sebagai pelatih utama di bidang bioinformatika dan kecerdasan buatan.

Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Hendra Wibawa, menegaskan penguatan kapasitas ini menjadi langkah strategis untuk melindungi peternak dari ancaman penyakit.

“Penguatan kapasitas bioinformatika ini merupakan investasi penting untuk meningkatkan kecepatan dan akurasi diagnosis penyakit hewan. Dengan sistem deteksi yang lebih dini dan presisi, kita bisa melindungi ternak peternak dari potensi wabah dan menekan kerugian ekonomi di tingkat peternak,” ujar Hendra di Kantor Kementerian Pertanian, Senin (30/3/2026).

Ia juga menambahkan bahwa peningkatan kapasitas ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia di tingkat regional.

“Dengan peningkatan kompetensi SDM dan teknologi yang kita miliki, BBV Wates semakin siap menjadi laboratorium referensi bioinformatika di tingkat ASEAN. Ini penting agar Indonesia tidak hanya mampu melindungi peternaknya sendiri, tetapi juga berkontribusi dalam sistem kewaspadaan dan respons penyakit hewan di kawasan,” kata Hendra.

Bagi peternak, penguatan kapasitas ini menjadi kabar baik. Dengan kemampuan analisis yang lebih canggih, laboratorium veteriner pemerintah mampu mendeteksi penyakit secara lebih cepat dan presisi, sehingga respons penanganan di lapangan bisa dilakukan sebelum wabah meluas.

Kementerian Pertanian menegaskan, penguatan SDM laboratorium merupakan bentuk tanggung jawab negara dalam melindungi usaha peternak. Sistem diagnostik yang kuat tidak hanya menjaga kesehatan hewan, tetapi juga memastikan keberlanjutan produksi dan stabilitas pendapatan peternak. (*)

 

Kategori
WA Layanan Ditjen PKH