Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
Logo

Kementan Perluas Edukasi PMK, Sasar Tiga Lokasi di Bangkalan

09/12/2025 07:15:00 Indra 308

Bangkalan – Upaya membentengi Madura dari serangan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) kini bertumpu pada satu langkah kunci, menguatkan edukasi para peternak. Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong pendekatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) sebagai jalur utama untuk menanamkan kesadaran bahwa vaksinasi bukan sekadar prosedur teknis, melainkan tameng yang menentukan keselamatan ternak.

Lewat sesi sosialisasi, pendampingan lapangan, hingga dialog langsung dengan kelompok peternak, Kementan berupaya menghadirkan pemahaman yang lebih utuh tentang PMK. Semua dilakukan untuk memastikan rantai infeksi dapat diputus sebelum penyakit itu merembet lebih luas.

Ketua Kelompok Substansi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan, Armin Riandi, menegaskan bahwa PMK masih menjadi prioritas nasional untuk dikendalikan. Salah satu caranya adalah dengan KIE untuk meningkatkan kesadaran peternak.

Ia menjelaskan KIE dilakukan untuk meningkatkan kesadaran peternak tentang pentingnya vaksinasi PMK, memberikan pemahaman mengenai dampaknya terhadap kesehatan dan ekonomi, serta mendorong percepatan vaksinasi menuju Pulau Madura bebas PMK melalui kolaborasi pemerintah dan masyarakat peternak.

"KIE mendorong percepatan vaksinasi di Pulau Madura melalui kolaborasi pemerintah, daerah, tokoh masyarakat, perguruan tinggi, dan para peternak sehingga capaian vaksinasi PMK di Jawa Timur dapat meningkat," jelasnya pada Senin (8/12/2025) saat membuka KIE di Desa Pangolangan, Kabupaten Bangkalan.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Bangkalan, Iskandar Ahadiyat, menyampaikan pandangan tentang kedekatan budaya masyarakat Madura dengan ternak sapi. Melihat besarnya nilai emosional masyarakat Madura terhadap ternaknya, Iskandar menekankan pentingnya pelaporan dini.

"Jika ada kematian sapi segera laporkan agar bisa kita identifikasikan penyebab atau sakitnya supaya bisa kita antisipasi, dalam 1x24 kita akan turun karena itu komitmen kami" kata Iskandar.

Sementara itu, akademisi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, Widya Paramita Lokapirnasari, menyoroti besarnya potensi kerugian ekonomi apabila PMK tidak segera ditangani. Ia juga menekankan bahwa penanganan cepat sangat penting, karena dampak PMK tidak hanya dirasakan oleh peternak, tetapi juga oleh rantai produksi secara keseluruhan.

"Kerugian yang ditimbulkan mencakup penurunan produksi, penurunan tingkat fertilitas, kematian ternak, meningkatnya biaya pengobatan dan pengendalian, hingga penurunan harga jual. Pada muaranya, PMK ini dapat mengancam swasembada pangan dari subsektor peternakan,” tutur Widya.

Kegiatan KIE di Bangkalan ini dilaksanakan di tiga lokasi, yakni Desa Pangolangan di Kecamatan Burneh, Desa Tobaddung di Kecamatan Klampis, serta Desa Petrah di Kecamatan Tanah Merah, sebagai upaya memastikan edukasi menjangkau sentra-sentra peternakan setempat.

 

Kategori
WA Layanan Ditjen PKH