Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
Logo

Pakar Ungkap Potensi Kerbau Australia sebagai Sumber Protein Alternatif Global

03/05/2026 14:39:00 Pradi 40

Jakarta – Sejarah panjang keberadaan kerbau di Australia menunjukkan bagaimana sebuah pengenalan spesies dapat berkembang menjadi potensi ekonomi yang besar. Sekitar dua abad lalu, kerbau dibawa oleh penjajah Inggris dari wilayah Indonesia yang saat itu masih berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda, untuk dijadikan sumber pangan di wilayah utara Australia. Kerbau tersebut diketahui berasal dari Indonesia bagian timur, khususnya Nusa Tenggara Timur (NTT).

 

Namun, ketika pemukiman Inggris di Semenanjung Cobourg ditinggalkan pada tahun 1849, kerbau-kerbau tersebut dilepas ke alam bebas. Sejak saat itu, populasinya berkembang secara alami dan menjadi bagian penting di wilayah Northern Territory.

 

Dalam perkembangannya, kerbau hidup bebas di alam dengan mengandalkan rumput liar sebagai sumber pakan utama. Kondisi ini justru mendukung pertumbuhan populasi yang cukup pesat.

 

“Kerbau dibiarkan bebas hidup karena negara dengan empat musim memiliki kualitas nutrisi rumput yang lebih baik dibandingkan dengan wilayah tropis,” ujar Kurnia Achyadi, Praktisi Kesehatan Reproduksi dan Anggota Komisi Keswan-Kesmavet Kementerian Pertanian, Sabtu (2/5/2026).

 

Ia juga menambahkan bahwa populasi kerbau sempat mengalami penurunan akibat penyakit. 

 

“Populasi kerbau di Australia sempat mengalami penurunan akibat wabah brucellosis sekitar tahun 1837. Namun, seiring waktu, populasinya kembali berkembang dengan baik karena sistem pemeliharaan yang minim input produksi,” lanjutnya.

 

Saat ini, di wilayah Northern Territory, jumlah kerbau diperkirakan mencapai ratusan ribu ekor dan sebagian besar hidup di alam terbuka. Pada awalnya, jumlah yang melimpah ini mendorong aktivitas perburuan sejak akhir abad ke-19, dengan puncaknya pada tahun 1960-an ketika populasinya diperkirakan mencapai sekitar 200.000 ekor.

 

Seiring meningkatnya kebutuhan pasar terhadap daging kerbau, cara pengelolaannya pun mengalami perubahan. Dari yang semula berburu, kini beralih menjadi sistem penangkapan (mustering) dan pemeliharaan yang lebih terarah untuk menjaga kualitas ternak.

 

Sistem ini kemudian berkembang menjadi usaha komersial yang melibatkan berbagai pihak, seperti pemilik lahan, kontraktor penangkap kerbau, pekerja feedlot (usaha penggemukan), pengusaha rumah potong hewan, hingga pengelola wisata budaya. Masing-masing pihak memperoleh keuntungan sesuai perannya.

 

Kurnia juga menekankan pentingnya kerja sama ke depan. 

 

“Indonesia harus lebih serius melihat potensi kerbau Australia ini dengan asas saling menguntungkan, saling ketergantungan, dan saling melindungi,” lanjutnya.

 

Sementara itu, menurut Abdullah Akhyar Nasution, Pemerhati Peternakan Kerbau Tradisional sekaligus Dosen Antropologi FISIP Universitas Malikussaleh, model pengelolaan seperti ini dapat menjadi contoh yang relevan untuk diterapkan di Indonesia.

 

Saat ini, kerbau Australia dikenal sebagai salah satu sumber protein hewani yang memiliki potensi besar di pasar global. Populasinya yang melimpah serta karakteristik dagingnya yang khas membuat komoditas ini semakin diminati sebagai alternatif sumber protein.

 

Untuk memastikan kualitas dan kehalalan produk, para pelaku usaha bekerja sama dengan berbagai lembaga sertifikasi halal, seperti Islamic Coordinating Council of Victoria dan Supreme Islamic Council of Halal Meat in Australia. Selain itu, pengawasan juga melibatkan lembaga di negara tujuan ekspor, seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk Indonesia dan Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM) untuk Malaysia.

 

“Guna menjamin penyediaan daging kerbau yang memenuhi kebutuhan konsumen termasuk kehalalan, banyak pengusaha feedlot dan pengusaha rumah potong hewan bekerja sama dengan lembaga yang ikut mengampanyekan kehalalan produk, di antaranya Islamic Coordinating Council of Victoria dan Supreme Islamic Council of Halal Meat in Australia. Tidak hanya itu, usaha ini juga melibatkan lembaga pengawas kehalalan produk di negara tujuan ekspor. Dengan Indonesia, usaha ini melibatkan MUI. Dengan Malaysia, kerja sama kehalalan dilakukan dengan JAKIM,” ujar Abdullah Akhyar Nasution.

 

Dari sisi gizi, daging kerbau memiliki kandungan protein tinggi dengan kadar lemak yang relatif lebih rendah dibandingkan jenis daging lainnya. Hal ini menjadikannya pilihan yang tepat bagi konsumen yang menginginkan sumber protein yang lebih sehat.

 

Selain itu, kerbau juga dikenal memiliki kemampuan adaptasi yang baik di berbagai kondisi lingkungan serta mampu memanfaatkan pakan alami secara efisien. Hal ini membuatnya lebih hemat dalam sistem produksi.

 

Dari sisi ekonomi, daging kerbau juga relatif lebih terjangkau. Karena itu, komoditas ini menjadi alternatif penting dalam memenuhi kebutuhan protein hewani di tengah fluktuasi harga pangan global.

 

Produk kerbau, baik dalam bentuk ternak hidup maupun daging beku, kini telah dipasarkan ke berbagai negara. Permintaannya pun terus meningkat seiring dengan kebutuhan akan sumber protein yang terjangkau, berkualitas, dan terjamin kehalalannya.

 

Selain untuk konsumsi, kerbau juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi berbagai produk turunan, seperti olahan daging, pupuk organik, hingga energi terbarukan dari limbahnya.

 

Dengan sejarah panjang dan manfaat yang luas, kerbau Australia kini menjadi salah satu komoditas penting dalam sistem pangan global. Menariknya, yang dahulu dianggap sebagai masalah karena jumlahnya yang berlebih, kini justru berubah menjadi peluang ekonomi yang memberikan manfaat bagi banyak pihak. (*)

Kategori
WA Layanan Ditjen PKH