Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
Logo

Perkuat Pertahanan Penyakit Hewan Menular, Kementan Siapkan Laboratorium Rujukan AI Asia Tenggara

11/02/2026 17:07:00 Indra 113
Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan Balai Besar Veteriner (BBV) Wates sebagai laboratorium rujukan Avian Influenza (AI) di Asia Tenggara guna memperkuat sistem deteksi dan pengendalian penyakit hewan strategis di kawasan. Penguatan ini menjadi bagian dari strategi nasional meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman penyakit hewan menular yang berdampak pada ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat.
Langkah tersebut diperkuat melalui Program Bilateral Laboratory Collaboration (BICOLLAB) fase II hasil kerja sama Kementan dengan Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO) melalui Australia Centre for Disease Preparedness (ACDP), Selasa (10/2/2026). Program ini difokuskan pada peningkatan kapasitas diagnostik, keamanan laboratorium, serta pengolahan data penyakit berbasis genetik.
Secara strategis, penguatan diarahkan untuk mempertegas peran BBV Wates sebagai National Reference Laboratory Avian Influenza (AI) Indonesia yang selaras dengan standar Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH) dan ISO, sekaligus mendukung surveilans dan kesiapsiagaan penyakit di tingkat nasional maupun regional.
Direktur Kesehatan Hewan, Hendra Wibawa, menilai kolaborasi ini menjadi momentum penting untuk memastikan pembinaan laboratorium berjalan tepat sasaran dan berkelanjutan, dengan melibatkan langsung unit penerima manfaat, yakni BBV Wates dan Balai Besar Veteriner Farma (Pusvetma).
“Ini adalah prestasi yang harus kita jaga. Ke depan, BBV Wates diharapkan dapat menjadi laboratorium dengan kapasitas sejajar laboratorium rujukan AI yang mendapatkan pengakuan WOAH di tingkat regional Asia,” ujar Hendra.
Ia juga menegaskan pentingnya evaluasi dan monitoring secara berkala, termasuk melalui peninjauan setiap tiga bulan, agar tujuan BICOLLAB dapat tercapai secara optimal.
Selain BICOLLAB, pemerintah juga memperkuat program Regional External Quality Assurance for Disease Surveillance (REDS). Pada 2026, program ini memprioritaskan penguatan kapasitas BBV Wates dan Pusvetma dalam penyediaan External Quality Control (EQC) atau External Quality Assessment (EQA) untuk pengujian Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), sekaligus mendukung akreditasi ISO 17043.
Hendra menambahkan bahwa melalui REDS, peran Pusvetma diharapkan semakin kuat sebagai laboratorium rujukan PMK, tidak hanya terbatas pada produksi vaksin. Kapasitas tersebut perlu dipertahankan bahkan ditingkatkan seiring tantangan penyakit hewan strategis yang terus berkembang.
Sementara itu, CSIRO-ACDP International Program Group Leader, Phoebe Readford, menyampaikan bahwa kerja sama teknis kedua negara telah menunjukkan capaian signifikan sejak dimulai pada 2019 melalui BICOLLAB tahap pertama dan penguatan REDS sejak akhir 2022.
“Saya sangat bangga dengan capaian-capaian yang telah kita raih bersama sejauh ini, dan saya menantikan diskusi yang produktif untuk memastikan kegiatan ke depan tetap praktis serta selaras dengan kebutuhan dan aspirasi Indonesia,” kata Phoebe.
Ia juga mengapresiasi dedikasi para mitra di ACDP serta dukungan dan kepercayaan yang diberikan oleh BBV Wates dan Pusvetma.
Melalui penguatan BICOLLAB dan REDS, pemerintah berharap kolaborasi bilateral ini terus memberikan dampak nyata bagi pengembangan kapasitas laboratorium veteriner Indonesia sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam jejaring kesehatan hewan regional dan global.
Kategori
WA Layanan Ditjen PKH