Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
Logo

Mengapa Riset Nutrisi Ternak Sulit Sampai ke Kandang?

06/07/2026 07:15:31 Fahmi 27

Mengapa Riset Nutrisi Ternak Sulit Sampai ke Kandang?

Nahrowi, Ph.D.

Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University

Kepala CENTRAS (Center for Tropical Animal Studies), IPB University

Dewan Pertimbangan Organisasi AINI (Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia)

 

Ilmu nutrisi dan teknologi pakan berkembang sangat pesat. Jika dahulu pembahasan

lebih banyak berfokus pada protein, energi, vitamin, dan mineral, kini kita memasuki

era nutrigenomik, mikrobioma rumen, precision feeding, kecerdasan buatan, protein

alternatif, hingga strategi pakan rendah emisi untuk mendukung peternakan

berkelanjutan. Perkembangan ini menunjukkan bahwa kapasitas keilmuan kita terus

meningkat dan peluang melahirkan inovasi semakin besar. Namun, kemajuan ilmu

pengetahuan tidak selalu berjalan seiring dengan pemanfaatannya di lapangan. Di

tengah derasnya arus inovasi tersebut, muncul satu pertanyaan yang layak menjadi

renungan bersama: seberapa banyak hasil riset yang benar-benar sampai ke industri

pakan dan memberikan manfaat nyata bagi peternak?

Setiap tahun lahir berbagai publikasi, teknologi, dan inovasi baru. Sebagian berhasil

menjadi paten, sebagian berkembang menjadi produk komersial. Namun, tidak sedikit

hasil penelitian yang berhenti sebagai laporan penelitian atau artikel ilmiah tanpa

pernah diimplementasikan secara luas. Bukan karena kualitas riset kita kurang baik,

melainkan karena perjalanan sebuah inovasi dari laboratorium menuju kandang

memang tidak sederhana.

Agar dapat diadopsi, sebuah inovasi harus melewati berbagai tahapan, mulai dari

validasi ilmiah, uji lapangan, analisis keekonomian, kesiapan industri, dukungan

regulasi, hingga pendampingan kepada pengguna. Bahkan, tidak sedikit inovasi yang

berhasil secara biologis tetapi belum layak secara ekonomi sehingga sulit diterapkan

dalam skala industri. Karena itu, tantangan kita saat ini bukan hanya menghasilkan

riset yang baik, tetapi juga membangun ekosistem inovasi yang mampu mempercepat

proses hilirisasi.

Salah satu cara paling efektif adalah melibatkan industri dan pengguna sejak awal

penelitian dirancang, bukan setelah penelitian selesai. Ketika topik penelitian lahir

dari kebutuhan nyata di lapangan, diuji bersama industri, dan dievaluasi berdasarkan

manfaat biologis sekaligus manfaat ekonominya, peluang adopsinya akan jauh lebih

besar. Dengan pendekatan seperti ini, ukuran keberhasilan riset tidak lagi hanya

ditentukan oleh jumlah publikasi atau sitasi, tetapi juga oleh kemampuannya

meningkatkan efisiensi formulasi pakan, memperbaiki performa ternak, meningkatkan

daya saing industri, serta memberikan nilai tambah bagi peternak.

Pendekatan tersebut sebenarnya sangat mungkin diwujudkan di Indonesia. Kita

memiliki sumber daya peneliti yang kompeten, industri pakan yang terus berkembang,

serta peternak yang semakin terbuka terhadap inovasi. Tantangannya bukan lagi

kekurangan ide atau teknologi, melainkan bagaimana mempercepat pertemuan antara

kebutuhan lapangan dengan hasil riset yang dihasilkan di perguruan tinggi dan

lembaga penelitian.

 

Karena itu, sudah saatnya kita memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, lembaga

penelitian, nutrisionis, industri pakan, pemerintah, dan peternak. Kampus

menghasilkan ilmu pengetahuan, industri mempercepat hilirisasi, pemerintah

menciptakan ekosistem yang kondusif, sedangkan peternak menjadi mitra utama

dalam menguji sekaligus mengadopsi inovasi. Ketika seluruh mata rantai ini

terhubung, hasil riset tidak lagi berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi berubah

menjadi teknologi yang meningkatkan produktivitas ternak, memperkuat industri

pakan nasional, dan pada akhirnya menyejahterakan peternak Indonesia.

Publikasi menyebarkan ilmu, tetapi kolaborasi menghadirkan manfaat. Mari

bersinergi agar setiap riset tidak hanya selesai di laboratorium atau jurnal ilmiah,

tetapi benar-benar hadir di pabrik pakan, di kandang, dan dirasakan manfaatnya oleh

peternak. Dari Laboratorium ke Kandang, Dari Riset Menjadi Manfaat. Bersama

Membangun Peternakan Indonesia. Insya Allah.

Lampiran
1 Mengapa Riset Nutrisi Ternak Sulit Sampai ke Kandang? Lihat (Download)
Kategori
WA Layanan Ditjen PKH