Keamanan Pangan Hewan Diperketat untuk Dukung Program Makan Bergizi Gratis
Jakarta — Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan kembali pentingnya memastikan pangan asal hewan aman dikonsumsi masyarakat. Upaya ini sekaligus mendukung keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menyiapkan menu kaya protein untuk anak sekolah.
Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan, Agung Suganda, dalam kegiatan pelatihan Pengawas Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) yang digelar 10–14 November 2025 di Jakarta.
Menurut Agung, pangan asal hewan seperti daging, telur, dan susu mengandung nutrisi tinggi dan penting untuk tumbuh kembang anak. Namun, produk hewani juga mudah rusak dan bisa tercemar jika tidak ditangani dengan benar. Karena itu, pengawasannya harus ketat.
“Pangan asal hewan kualitasnya tinggi, tapi sifatnya mudah rusak. Negara wajib memastikan produk hewan yang dikonsumsi masyarakat benar-benar aman,” ujar Agung di Kantor Kementan (13/11/2025).
Ia menegaskan, praktik pemalsuan dan penyimpangan pangan hewani masih ditemukan di lapangan. Karena itu, peran pengawas Kesmavet sangat penting untuk memastikan produk hewani aman, layak, dan halal sebelum sampai ke konsumen.
Agung juga menekankan perlunya kerja sama antara pemerintah pusat, daerah, dan berbagai lembaga agar pengawasan pangan berjalan lebih efektif. Pendekatan yang lebih cepat dan inovatif diperlukan agar keamanan pangan dapat dijaga sepanjang rantai produksi.
Terkait Program MBG, Agung menegaskan bahwa keamanan pangan menjadi faktor kunci.
“Dari bahan baku sampai distribusi, semuanya harus ASUH: aman, sehat, utuh, dan halal. Ini krusial untuk mendukung perbaikan gizi anak,” kata dia.
Berdasarkan pemantauan, daging ayam, telur, dan susu menjadi sumber protein hewani utama yang disiapkan dalam menu MBG karena disukai anak dan mudah diakses.
Sementara itu, Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, I Ketut Wirata, mengatakan jumlah pengawas Kesmavet saat ini masih terbatas. Hingga September 2025, tercatat 422 pengawas aktif di seluruh Indonesia. Jumlah tersebut belum merata karena adanya kekurangan dokter hewan, mutasi pegawai, dan pensiun.
“Tahun ini kami menambah 63 pengawas baru sehingga totalnya menjadi 485 orang. Jumlah ini masih belum ideal, tetapi kami terus berupaya menambah SDM agar pengawasan bisa menjangkau seluruh wilayah,” ujarnya.
Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty, menegaskan komitmen lembaganya untuk terus melahirkan pengawas Kesmavet yang kompeten. Ia berharap para lulusan pelatihan ini dapat memperkuat pengawasan di lapangan dan memastikan pangan hewani yang beredar benar-benar aman.
“Pengawas Kesmavet adalah garda terdepan dalam memastikan pangan hewani yang dikonsumsi masyarakat ASUH dan mendukung keberhasilan program Makan Bergizi Gratis,” kata Inneke. (*)