Kementan Perkuat Kepemimpinan Dua Balai di Denpasar, Target dan Pelayanan Terus Berjalan
Denpasar — Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan pergantian kepemimpinan di Unit Pelaksana Teknis (UPT) bukan sekadar proses administratif, tetapi bagian dari regenerasi, penyegaran organisasi, dan kesinambungan pelayanan kepada masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda saat memimpin serah terima jabatan pimpinan dua UPT di Bali, yakni Balai Besar Veteriner (BBV) Denpasar dan Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Denpasar.
Di BBV Denpasar, jabatan Kepala Balai diserahterimakan dari I Ketut Wirata, yang menjalankan tugas sebagai Pelaksana Tugas Kepala BBV Denpasar sekaligus Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, kepada I Gde Eka Budhiyadnya.
Sementara itu, kepemimpinan BPTU-HPT Denpasar beralih dari I Gusti Putu Ngurah Raka kepada I Putu Eka Sentana.
Agung mengatakan pergantian pejabat harus memastikan roda organisasi terus berjalan dan pekerjaan yang telah dibangun tetap berlanjut.
“Serah terima jabatan pada hakikatnya bukan sekadar kegiatan administratif atau pergantian pejabat. Lebih dari itu, momentum ini merupakan bagian dari proses regenerasi kepemimpinan, penyegaran organisasi, serta kesinambungan pelaksanaan tugas dan pelayanan kepada masyarakat,” ujar Agung.
Menurut dia, jabatan merupakan amanah yang di dalamnya melekat tanggung jawab untuk memastikan organisasi berjalan, program terlaksana, target tercapai, serta manfaat pembangunan peternakan dan kesehatan hewan dirasakan masyarakat.
Karena itu, kepada para kepala balai yang baru, Agung meminta agar amanah dijalankan dengan integritas, profesionalisme, komitmen, dan semangat melayani.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para pejabat sebelumnya atas dedikasi dan kontribusi dalam membangun organisasi.
“Apa yang telah dicapai selama ini hendaknya menjadi fondasi untuk melangkah lebih jauh. Sementara berbagai pekerjaan yang masih perlu diselesaikan agar dapat dilanjutkan dengan baik oleh pejabat yang baru,” katanya.
Agung mengatakan BBV Denpasar dan BPTU-HPT Denpasar memiliki mandat berbeda, namun keduanya memegang peran strategis dalam pembangunan peternakan dan kesehatan hewan nasional.
BBV Denpasar berperan dalam penyelenggaraan kesehatan hewan melalui surveilans dan diagnosis penyakit, pengujian laboratorium, pemantauan penyakit hewan menular strategis dan zoonosis, serta dukungan terhadap sistem kesehatan hewan di wilayah kerjanya.
Sementara BPTU-HPT Denpasar berperan dalam penyediaan bibit ternak unggul dan pengembangan hijauan pakan ternak. Menurut Agung, kualitas bibit dan ketersediaan pakan merupakan bagian penting dalam meningkatkan produktivitas sekaligus daya saing usaha peternakan.
“Kedua unit kerja tersebut memiliki karakteristik dan mandat yang berbeda, namun memiliki satu tujuan yang sama, yaitu memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan produktivitas, kesehatan hewan, ketahanan pangan, kesejahteraan peternak, serta pembangunan peternakan nasional,” ujar Agung.
Karena itu, ia meminta kedua kepala balai yang baru segera melakukan konsolidasi internal, memahami kondisi organisasi secara menyeluruh, dan membangun komunikasi yang baik dengan seluruh jajaran.
“Kenali organisasi, kenali sumber dayanya, kenali tantangannya, dan hadirkan solusi. Jangan bekerja sendiri. Bangun tim yang solid,” tegasnya.
Agung juga meminta setiap pegawai dilibatkan sesuai kompetensi dan perannya sehingga tercipta lingkungan kerja yang sehat, terbuka, profesional, serta berorientasi pada hasil.
Selain percepatan kerja, Agung menekankan pentingnya tata kelola pemerintahan yang baik, akuntabilitas, disiplin, serta kualitas pelayanan publik.
Setiap program, menurut dia, harus mempunyai keluaran dan hasil yang jelas. Anggaran juga harus dikelola secara efektif, efisien, transparan, dan akuntabel.
“Setiap program dan kegiatan harus memberikan output dan outcome yang jelas. Anggaran harus dikelola secara efektif, efisien, transparan, dan akuntabel. Setiap potensi risiko harus diidentifikasi dan dikelola dengan baik,” katanya.
Agung menilai tantangan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan semakin kompleks. Karena itu, organisasi dituntut bekerja lebih cepat, adaptif, dan inovatif tanpa meninggalkan regulasi dan prinsip tata kelola pemerintahan yang baik.
Pemanfaatan teknologi dan digitalisasi juga diminta terus diperkuat, termasuk peningkatan kualitas data dan informasi sebagai dasar pengambilan keputusan.
Namun, Agung mengingatkan bahwa pergantian pimpinan tidak boleh menimbulkan kekhawatiran ataupun sekat di dalam organisasi.
“Yang berganti adalah pemimpinnya, tetapi semangat pengabdian dan tujuan organisasi harus tetap sama,” ujarnya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa transisi kepemimpinan di BBVet Denpasar maupun BPTU-HPT Denpasar harus menjaga kesinambungan pelayanan dan kinerja yang telah berjalan.
Kepada seluruh pegawai, Agung meminta budaya kerja yang berorientasi pada kinerja, kolaborasi, integritas, dan pelayanan terus diperkuat dengan berpegang pada nilai-nilai BerAKHLAK.
Ia berharap kepemimpinan baru di BBV Denpasar dapat semakin memperkuat surveilans, diagnosis, laboratorium, dan sistem kesehatan hewan, sementara BPTU-HPT Denpasar terus meningkatkan kualitas pembibitan serta pengembangan hijauan pakan ternak.
Pada akhirnya, menurut Agung, keberhasilan estafet kepemimpinan tidak hanya diukur dari lancarnya pergantian pejabat, tetapi dari kemampuan organisasi mempertahankan pelayanan, menyelesaikan pekerjaan, dan memberikan hasil nyata bagi masyarakat.
“Mari kita terus bekerja bersama, bergerak bersama, dan memberikan yang terbaik untuk peternakan dan kesehatan hewan Indonesia yang semakin maju, mandiri, berdaya saing, dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat,” pungkas Agung. (*)