Kementan Perkuat Hilirisasi Ayam Terintegrasi di NTB, Perluas Peluang Pasar bagi Peternak
Nusa Tenggara Barat — Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat pengembangan Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT) sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem perunggasan nasional yang terhubung dari hulu hingga hilir. Nusa Tenggara Barat menjadi salah satu wilayah yang dipersiapkan dalam pengembangan tersebut, dengan penguatan kapasitas peternak dan penyuluh sebagai bagian penting dari prosesnya.
Penguatan tersebut dilakukan melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Program Hilirisasi Ayam Terintegrasi di Nusa Tenggara Barat, Jumat (11/9/2026). Kegiatan yang diikuti oleh 55 peserta dari unsur pemerintah, penyuluh, dan peternak ini merupakan bagian dari rangkaian persiapan dan penguatan HAT yang telah dilakukan secara bertahap.
Bimtek tersebut membahas sejumlah aspek yang mendukung kesiapan peternak dalam ekosistem HAT, mulai dari tata kelola usaha, penerapan teknologi, Good Farming Practice (GFP), biosekuriti, kemitraan, hingga peluang akses pasar.
Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementan, Hary Suhada, dalam hal ini diwakili oleh Ketua Kelompok Pengawasan dan Penerapan Mutu Ternak dan Tata Kelola Perbibitan dan Produksi Ternak, Eliza Diany, mengatakan HAT dibangun untuk memperkuat keterhubungan rantai usaha, bukan sekadar meningkatkan produksi di tingkat budidaya.
“Hilirisasi Ayam Terintegrasi bukan sekadar memindahkan aktivitas dari hulu ke hilir, tetapi membangun ekosistem usaha yang saling terhubung dari pembibitan, budidaya, pengolahan hingga pasar. Dengan hilirisasi, nilai tambah dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi peternak serta masyarakat daerah,” ungkap Eliza, Jumat (11/9/2026).
Menurut Eliza, keterhubungan tersebut membutuhkan fondasi hulu yang kuat dan memenuhi standar. Karena itu, penerapan Good Breeding Practice (GBP) dan Good Farming Practice (GFP) menjadi bagian penting dalam mendukung proses produksi yang berkualitas, efisien, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Penguatan kapasitas peternak juga terus dilakukan agar pelaku usaha di tingkat lapangan semakin siap memanfaatkan peluang yang terbuka melalui pengembangan ekosistem HAT. Pengetahuan, teknologi, tata kelola usaha, dan pendampingan menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
“Peternak rakyat merupakan bagian penting dalam ekosistem HAT. Karena itu, penguatan pengetahuan, penerapan teknologi, peningkatan tata kelola usaha, serta pendampingan secara berkelanjutan menjadi kunci agar peternakan rakyat mampu berkembang dan memiliki daya saing,” lanjut Eliza.
Dari sisi pemerintah daerah, pengembangan HAT diharapkan dapat membuka ruang pertumbuhan usaha peternakan masyarakat, termasuk bagi peternak pemula dan pelaku usaha skala menengah ke bawah. Pemerintah daerah juga mendorong agar pengembangan tersebut dibangun melalui kolaborasi dan kemitraan yang baik.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) NTB, Muslih, yang mewakili Kepala Dinas Provinsi NTB, mengatakan program hilirisasi dapat memberikan peluang ekonomi sekaligus memperkuat perkembangan usaha peternakan di daerah.
“Dengan adanya program hilirisasi ini, kami berharap akan banyak peluang lapangan kerja baru khususnya untuk peternak pemula skala menengah ke bawah dan agar peternak menjaga kepercayaan yang diberikan sehingga bisa berkolaborasi dengan baik dengan PT Berdikari,” ujar Muslih.
Dukungan terhadap pengembangan ekosistem tersebut juga datang dari PT Berdikari (Persero) yang terlibat dalam rangkaian persiapan HAT. General Manager Project Management Office (PMO) PT Berdikari (Persero), Agung S. Mukti, menegaskan komitmen perusahaan untuk berkolaborasi dengan peternak rakyat melalui penguatan kapasitas dan pendampingan.
“HAT tidak hadir untuk menggantikan peternak rakyat, tetapi untuk membangun ekosistem yang menempatkan mereka sebagai mitra utama melalui transfer pengetahuan, penerapan teknologi, dan pendampingan berkelanjutan,” ujar Agung.
Menurut Agung, kolaborasi pemerintah, BUMN, peternak, penyuluh, dan pelaku usaha menjadi bagian penting untuk membangun ekosistem peternakan yang produktif dan berkelanjutan.
Dalam kerangka tersebut, integrasi pembibitan, budidaya, pengolahan, hingga pemasaran terus dipersiapkan agar rantai usaha dapat berjalan lebih efisien. Penguatan di setiap mata rantai diharapkan membuka ruang bagi peningkatan produktivitas sekaligus memperluas peluang nilai tambah bagi peternak.
Kementan optimistis bahwa pengembangan HAT di berbagai wilayah, termasuk NTB, dapat menjadi bagian dari penguatan industri perunggasan nasional. Pendekatan yang menggabungkan penguatan peternak, teknologi, tata kelola, kemitraan, dan integrasi rantai usaha diharapkan mampu membangun ekosistem perunggasan yang semakin produktif, efisien, berdaya saing, dan berkelanjutan.
HAT dipersiapkan bukan sekadar untuk memperkuat produksi, tetapi untuk menghubungkan peternak dengan ekosistem usaha yang lebih luas dan menciptakan lebih banyak peluang nilai tambah di daerah. (*)