Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
Logo

Kementan Perkuat Sumber Nutrisi Baru untuk Wujudkan Ketahanan Pakan Berkelanjutan

19/09/2026 18:29:00 Fahmi 66

Tangerang – Ketahanan pakan menjadi salah satu kunci penting dalam menjaga keberlanjutan usaha peternakan. Bukan hanya berkaitan dengan pertumbuhan dan produktivitas ternak, pakan juga berpengaruh langsung terhadap efisiensi biaya produksi dan daya saing industri peternakan.

Tantangan penyediaan pakan pun semakin kompleks. Ketersediaan bahan baku, perubahan iklim, fluktuasi harga komoditas, persaingan antara kebutuhan pangan dan pakan, hingga dinamika rantai pasok global menuntut adanya sumber nutrisi yang lebih beragam dan teknologi pengolahan yang semakin adaptif.

Direktur Pakan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Tri Melasari mengatakan, ketahanan pakan perlu dimaknai lebih luas daripada sekadar memiliki persediaan bahan pakan dalam jumlah besar. Hal tersebut disampaikannya dalam seminar ILDEX 2026 di ICE BSD, Tangerang, Banten, Kamis (17/9/2026).

“Bahwa ketahanan pakan tidak selalu berarti memiliki sebanyak-banyaknya bahan pakan, tetapi memiliki kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan, mengembangkan berbagai sumber nutrisi, meningkatkan efisiensi, dan menggunakan teknologi untuk menghasilkan pakan yang berkualitas dan berkelanjutan,” ujar Tri Melasari, Kamis(17/6/2026). 

Menurut Tri, persoalan pakan saat ini sudah menjadi bagian dari sistem peternakan secara keseluruhan. Karena itu, pengembangannya perlu memperhatikan aspek nutrisi, produktivitas ternak, efisiensi ekonomi, keamanan pangan, lingkungan, teknologi, hingga kaitannya dengan ketahanan pangan nasional.

Dari sisi kebutuhan, Tim Ahli Pakan Kementerian Pertanian sekaligus Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University Prof. Nahrowi menyampaikan bahwa konsumsi pakan nasional terus mengalami peningkatan. Kebutuhan yang sekitar 18,41 juta ton pada 2024 diperkirakan mencapai 20,35 juta ton pada 2026 dan diproyeksikan menjadi 31,6 juta ton pada 2035.

“Indonesia sebenarnya memiliki sumber daya biomassa lokal yang melimpah, tetapi tantangan utamanya adalah mengolah biomassa tersebut menjadi nutrien yang tersedia, konsisten, dan sesuai dengan kebutuhan industri pakan,” kata Prof. Nahrowi.

Ia menjelaskan, pengembangan bahan baku lokal dapat dilakukan melalui sejumlah sumber yang saling melengkapi. Koro dapat dikembangkan sebagai sumber protein nabati, PKM atau palm kernel meal ditingkatkan nilai nutrisinya, sementara maggot atau black soldier fly (BSF) dapat dimanfaatkan untuk mengolah bahan organik sekaligus menghasilkan sumber protein alternatif.

Sumber protein lokal lainnya juga menjadi perhatian Prof. Luki Abdullah, Tim Ahli Pakan Kementerian Pertanian sekaligus Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University. Ia menilai Indigofera memiliki potensi lebih luas daripada sekadar hijauan pakan karena dapat dikembangkan menjadi bahan baku pakan bernilai nutrisi tinggi.

“Indigofera tidak lagi dipandang sekadar sebagai hijauan pakan, tetapi sebagai sumber protein lokal yang dapat diolah menjadi bahan pakan bernilai tinggi,” ujar Prof. Luki. 

Menurutnya, konsep more than forage mendorong Indigofera dikembangkan mulai dari budidaya, pengolahan, hingga hilirisasi sebagai bagian dari industri pakan lokal. Teknologi pengolahan juga menjadi bagian penting dalam meningkatkan pemanfaatan bahan pakan lokal. 

Pengolahan yang tepat dapat mempertahankan kualitas hijauan, meningkatkan bahan kering, memperpanjang masa simpan, memudahkan penanganan, sekaligus memungkinkan pengayaan nutrisi sesuai kebutuhan ternak.

Sementara itu, Pakar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Pusat Riset Zoologi Terapan Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan, Prof. Roni Ridawan, menyoroti pentingnya pengujian menyeluruh terhadap pakan fermentasi. Evaluasi mencakup aspek fisik, kimia, biologis hingga molekuler, termasuk tekstur, warna, bahan kering, pH, kandungan nutrien, kecernaan, palatabilitas, serta komposisi mikroorganisme.

Dengan pendekatan tersebut, inovasi pakan tidak berhenti pada penciptaan bahan alternatif, tetapi diarahkan untuk menghasilkan pakan yang aman, berkualitas, mudah dicerna, tahan disimpan, dan sesuai kebutuhan ternak. Diversifikasi sumber nutrisi yang dibarengi teknologi pengolahan menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan pakan sekaligus mendukung pembangunan peternakan Indonesia yang berkelanjutan.

Kategori
WA Layanan Ditjen PKH