Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
Logo

Kementan Perkuat Perlindungan Peternakan ASEAN melalui Teknologi Genomik

03/11/2026 08:12:00 Fahmi 42

Yogyakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat perlindungan kesehatan hewan melalui peningkatan kemampuan laboratorium veteriner dalam memantau dan menganalisis penyakit, termasuk Avian Influenza atau flu burung. Langkah ini dilakukan melalui kerja sama regional ASEAN, salah satunya dengan menyelenggarakan pelatihan bioinformatika bagi tenaga laboratorium dari sejumlah negara anggota ASEAN di Yogyakarta, 26–30 Oktober 2026.

Melalui kegiatan bertajuk 2026 ASEAN Bioinformatics Training on Command Line Interface (CLI)-Based Analysis for Avian Influenza (AI) Genomic Surveillance tersebut, Indonesia berbagi pengetahuan dan keterampilan dalam analisis data genomik virus. Kemampuan ini menjadi bagian penting untuk mendukung pengawasan penyakit hewan yang lebih baik sekaligus memperkuat kerja sama antarnegara dalam menjaga kesehatan unggas dan keberlanjutan usaha peternakan.

Direktur Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Hendra Wibawa, mengatakan Indonesia berkomitmen memperkuat kolaborasi regional dan meningkatkan kapasitas bioinformatika veteriner di kawasan ASEAN.

"Saat ini, BBV Wates sedang berpartisipasi dalam program kerja sama laboratory twinning yang tengah berlangsung dengan Australian Centre for Disease Preparedness (ACDP), yang berfokus pada diagnostik Avian Influenza dan karakterisasi genom," ujar Hendra.

Ia menjelaskan, Indonesia juga telah menyusun rencana kerja lima tahun (five-year workplan) sebagai tindak lanjut mandat Balai Besar Veteriner (BBV) Wates sebagai ASEAN Regional Reference Centre (ARC) for Veterinary Bioinformatics. Rencana tersebut dirancang untuk memperkuat kapasitas nasional sekaligus memperluas program pelatihan bioinformatika secara bertahap ke seluruh negara anggota ASEAN.

Dalam jangka panjang, program tersebut diharapkan mampu membangun kemandirian BBV Wates dalam menyelenggarakan kegiatan peningkatan kapasitas bioinformatika regional secara berkelanjutan. Dengan demikian, kerja sama antarlaboratorium veteriner di kawasan ASEAN dapat semakin kuat.

Kepala BBV Wates, Nur Saptahidhayat, menjelaskan bahwa pengembangan kemampuan bioinformatika di BBV Wates telah dilakukan sejak 2021. Mandat sebagai pusat rujukan regional melalui mekanisme ASEAN Sectoral Working Group on Livestock (SWGL) semakin memperkuat peran Indonesia dalam pengembangan kapasitas bioinformatika veteriner di kawasan.

“Mandat ini menempatkan BBV Wates sebagai pusat rujukan regional dalam memberikan dukungan teknis dan peningkatan kapasitas laboratorium veteriner,” katanya.

Pelatihan di Yogyakarta diikuti 31 peserta yang berasal dari Brunei Darussalam, Filipina, Singapura, Myanmar, Malaysia, Thailand, dan Laos. Peserta dari Indonesia juga berasal dari berbagai unit laboratorium veteriner, perguruan tinggi, serta sektor swasta.

Berbeda dengan pelatihan tingkat lanjut yang pernah diselenggarakan sebelumnya, kegiatan kali ini memberikan penekanan pada penguasaan dasar-dasar bioinformatika. Peserta mempelajari penggunaan Command Line Interface (CLI), pengelolaan berkas dan direktori, serta pengoperasian berbagai perangkat lunak bioinformatika berbasis sumber terbuka.

Materi tersebut dirancang agar peserta memiliki landasan keterampilan untuk mengolah dan menganalisis data genomik secara lebih mandiri. Dengan kemampuan yang semakin merata, laboratorium veteriner di kawasan diharapkan dapat saling mendukung dalam pengembangan surveilans penyakit hewan.

Salah satu peserta, Giorgio Gonella, Head of BAIA Unit di Institut Pasteur du Cambodge, menekankan pentingnya pembelajaran berkelanjutan dalam bidang bioinformatika. Menurutnya, perkembangan teknologi dan metode analisis berlangsung terus-menerus sehingga peningkatan kemampuan perlu dilakukan secara konsisten.

Pelatihan ini difasilitasi oleh tim BBV Wates dengan dukungan tenaga ahli dari sejumlah unit kerja Kementerian Pertanian, yaitu BPMSOH, BV Lampung, BPMSPH, BBVF Pusvetma, dan BV Medan.

Melalui kegiatan ini, Indonesia tidak hanya memperkuat kapasitas sumber daya manusia di dalam negeri, tetapi juga memperluas ruang berbagi pengetahuan dan kerja sama teknis antarnegara ASEAN. Penguatan kemampuan laboratorium menjadi salah satu fondasi penting untuk menjaga kesehatan hewan, mendukung keberlanjutan peternakan, dan melindungi mata pencaharian para peternak. (*)

Kategori

WA Layanan Ditjen PKH