Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
Logo

Wamentan Saleh: Peran Pemuda Jadi Kunci Kedaulatan Pangan Nasional

03/11/2026 08:16:00 Fahmi 36

Jakarta – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Muhammad Saleh Mustafa menegaskan bahwa generasi muda memiliki peran strategis dalam mewujudkan kedaulatan pangan nasional. Keterlibatan pemuda diperlukan untuk mendorong modernisasi teknologi, inovasi budidaya, serta membangun sistem pertanian berkelanjutan guna menghadapi berbagai tantangan pangan di masa depan.

“Dalam rangka mewujudkan keberlanjutan dan kedaulatan pangan, peran pemuda sangat-sangat strategis. Pemudalah yang menjadi kreator modernisasi teknologi dan digitalisasi pangan, pemudalah yang menjadi inovator budidaya pertanian,” ujar Wamentan Saleh dalam sambutannya di hadapan peserta Forum Rembuk Pemuda Indonesia di Jakarta, Sabtu (31/10).

Menurutnya, sektor pertanian membutuhkan keterlibatan generasi muda agar mampu bertransformasi menjadi sektor modern, produktif, dan menarik bagi generasi berikutnya. Pertanian tidak lagi harus identik dengan pekerjaan konvensional yang kotor dan melelahkan, tetapi dapat dikembangkan melalui pemanfaatan teknologi, digitalisasi, dan inovasi.

Wamentan Saleh juga menyoroti perkembangan tenaga kerja di sektor pertanian yang menunjukkan tren positif. Pada 2026, tenaga kerja pertanian meningkat sebesar 4,66 persen. Capaian ini diharapkan menjadi momentum untuk memperluas keterlibatan generasi muda, khususnya kalangan milenial, dalam pembangunan pertanian nasional.

“Tenaga kerja pertanian pun naik. Ke depannya, saya harapkan tenaga pertanian ini meningkat dari kalangan milenial,” ujar Saleh.

Menurutnya, peningkatan jumlah tenaga kerja perlu diikuti dengan regenerasi petani dan penguatan kapasitas sumber daya manusia. Kehadiran generasi milenial diharapkan membawa cara kerja baru melalui pemanfaatan teknologi, pengembangan inovasi, serta pengelolaan usaha pertanian yang lebih produktif dan efisien.

Wamentan Saleh menjelaskan bahwa upaya mewujudkan kedaulatan pangan harus dimulai dengan kemampuan membaca dan mengantisipasi berbagai ancaman. Dalam hal ini, intelijen pertanian menjadi penting sebagai instrumen untuk menganalisis kondisi masa lalu dan saat ini, sekaligus memprediksi potensi ancaman yang dapat memengaruhi ketahanan pangan.

Ia mengingatkan bahwa krisis pangan global, dinamika geopolitik, dan perubahan iklim merupakan tantangan yang harus diantisipasi Indonesia. Fenomena El Nino dan La Nina, misalnya, dapat memengaruhi pola tanam dan produktivitas pertanian sehingga diperlukan strategi adaptasi, termasuk melalui peningkatan Luas Tambah Tanam (LTT), optimalisasi pompa, dan penguatan infrastruktur pertanian.

“Strategi untuk meningkatkan ketahanan pangan ini, kita tidak boleh melawan alam. Kita harus beradaptasi dengan alam,” tegasnya.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Wamentan Saleh menyampaikan bahwa stok beras nasional hingga Oktober 2026 mencapai 4,5 juta ton. Cadangan tersebut diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan hingga 10 bulan ke depan. Capaian ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat kesiapan pangan nasional menghadapi ketidakpastian global.

Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya mengurangi ketergantungan terhadap impor melalui penguatan produksi pangan dalam negeri. Menurutnya, kebijakan impor seharusnya diimbangi dengan kewajiban membangun kapasitas produksi domestik agar Indonesia tidak terus bergantung pada pasokan negara lain.

Wamentan Saleh juga menekankan bahwa persoalan pangan merupakan persoalan mendasar bagi keberlangsungan suatu bangsa. Karena itu, kedaulatan pangan harus menjadi prioritas bersama melalui penguatan produksi, perbaikan tata kelola, kepastian lahan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pengembangan hilirisasi dan daya saing produk pertanian.

Dalam kesempatan tersebut, ia turut mengajak generasi muda untuk terlibat langsung dalam pengembangan sektor pertanian, termasuk melalui pengelolaan lahan dan penguatan kelembagaan petani. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, petani, dan pemuda diperlukan agar potensi pertanian dapat dikelola secara lebih produktif dan berkelanjutan.

Wamentan Saleh menegaskan bahwa pembangunan pertanian harus dipersiapkan untuk jangka panjang karena keberlanjutan pangan tidak hanya menjadi tanggung jawab generasi saat ini, tetapi juga generasi mendatang.

“Yang terakhir, ini yang paling penting. Anda masih muda, saya sudah hitung-hitung mungkin Anda nanti kalau turun ke pangan paling 35 tahun atau sampai 40 tahun ke depan, nanti dilanjutkan oleh anak cucu Anda, yaitu pertanian yang berkelanjutan,” pesannya.

Ke depan, Kementerian Pertanian terus mendorong kolaborasi lintas sektor untuk membuka ruang lebih luas bagi generasi muda dalam pengembangan pertanian. Melalui pemanfaatan teknologi, inovasi, dan penguatan kapasitas sumber daya manusia, keterlibatan pemuda diharapkan mampu mempercepat transformasi pertanian modern sekaligus memastikan kedaulatan pangan Indonesia tetap terjaga secara berkelanjutan.

Menutup sambutannya, Wamentan Saleh mengajak generasi muda menjadikan kontribusi di sektor pertanian sebagai bagian dari upaya memberikan manfaat bagi masyarakat dan bangsa.

“Jadilah hidup kita bermanfaat bagi yang lain. Semoga pertanian Indonesia berdaulat dan Indonesia menjadi adil, makmur, dan sejahtera,” pungkasnya.

Kategori

WA Layanan Ditjen PKH