Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
Logo

Susu Peternak Lokal Diolah Jadi Yoghurt, Usaha Keluarga di Ciawi Jangkau 40 Gerai

06/11/2026 07:15:00 Fahmi 14

Bogor – Susu sapi dari peternak lokal di Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, tidak hanya dipasarkan dalam bentuk segar. Di tangan pelaku usaha pengolahan, susu tersebut diolah menjadi yoghurt, permen susu, hingga keju mozzarella yang memiliki nilai tambah. Usaha ini sekaligus membuka kesempatan kerja bagi masyarakat di sekitarnya.

Salah satu pelaku usaha yang mengembangkan potensi tersebut adalah PT Bogor Sari Nutrisi melalui produk olahan susu bermerek Yess Yoghurt. Berawal dari usaha keluarga pada 2012, produk ini kini telah dipasarkan di sekitar 40 gerai Apotek Roxy serta sejumlah pusat oleh-oleh di Bogor dan kawasan Puncak.

General Manager PT Bogor Sari Nutrisi, Maulita Putri Darmawati, menceritakan bahwa usaha tersebut bermula dari kebiasaan keluarga membuat yoghurt untuk konsumsi sendiri. Resep yang diwariskan orang tuanya kemudian menjadi awal perjalanan bisnis yang kini terus dikembangkan.

“Awalnya kami hanya membuat yoghurt untuk dikonsumsi sendiri dan keluarga. Namun, ternyata respons masyarakat sangat baik ketika produk mulai dipasarkan. Dari situ kami melihat bahwa olahan susu memiliki peluang usaha yang cukup besar untuk dikembangkan,” ujar Maulita.

Usaha keluarga itu kemudian diteruskan Maulita sebagai generasi berikutnya. Berbekal pendidikan Teknologi Peternakan dari IPB University, ia mengembangkan usaha tersebut agar lebih profesional dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

Bagi Maulita, mengembangkan usaha olahan susu bukan sekadar memperbanyak jenis produk. Perusahaan juga ingin memanfaatkan susu sapi dari peternak lokal di Ciawi dan sekitarnya sebagai bahan baku produksi. Susu tersebut diolah menjadi berbagai produk, sehingga pemanfaatannya tidak terbatas pada penjualan dalam bentuk segar.

“Produk yang kami kembangkan berbasis susu sapi dari peternak lokal. Selain yoghurt dengan merek Yess Yoghurt, kami juga mengembangkan Yess Candy dan mozzarella. Kami ingin susu lokal tidak hanya dijual sebagai bahan baku, tetapi dapat diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai tambah,” jelasnya.

Untuk menjaga kualitas bahan baku, perusahaan melakukan pemeriksaan mutu atau quality control terhadap susu yang diterima setiap pagi. Penanganan produk juga menerapkan sistem rantai dingin atau cold chain. Pendampingan dari tim IPB University turut membantu perusahaan menjaga standar bahan baku dan proses pengolahan.

Maulita menyebut produksi yoghurt saat ini rata-rata mencapai sekitar 100 liter per hari atau setara kurang lebih 400 botol. Ketika permintaan meningkat, kebutuhan susu sebagai bahan baku pernah mencapai 500 liter per hari.

Perkembangan usaha tersebut juga memberi kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar. Seluruh tenaga kerja perusahaan direkrut dari lingkungan setempat, sehingga kegiatan produksi turut membuka lapangan pekerjaan bagi warga Ciawi.

Dari sisi pemasaran, Yess Yoghurt telah memperluas jangkauan melalui Apotek Roxy, pusat oleh-oleh di Bogor, termasuk Lapis Bogor Sangkuriang, serta toko oleh-oleh di kawasan Puncak. Perusahaan juga memanfaatkan website, Instagram, WhatsApp Business, dan ShopeeFood untuk menjangkau konsumen. Pengiriman produk telah mencapai sejumlah daerah di luar Jabodetabek, antara lain Palembang, Bali, Jambi, dan Banyuwangi.

Saat ini, perusahaan mengembangkan empat varian yoghurt, yakni stroberi, leci, melon, dan mangga. Ke depan, perusahaan berencana menghadirkan yoghurt dalam kemasan pouch serta yoghurt bubuk atau dry yoghurt yang berpotensi dikembangkan untuk pasar ekspor.

“Kami ingin terus mengembangkan produk agar bisa menjangkau lebih banyak konsumen, tidak hanya di Bogor dan Jabodetabek, tetapi juga ke berbagai daerah. Harapannya, produk olahan susu lokal semakin dikenal dan mampu bersaing dengan produk lainnya,” kata Maulita.

Perusahaan yang berlokasi di Kecamatan Ciawi ini juga bercita-cita mengembangkan gerai sendiri hingga kawasan wisata edukasi yang memperkenalkan proses pengolahan susu kepada masyarakat.

Maulita berharap semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, yang tertarik mengembangkan usaha berbasis hasil peternakan. Menurutnya, potensi susu sapi lokal tidak hanya terletak pada penjualan bahan baku, tetapi juga pada kreativitas mengolahnya menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi. (*)

Kategori

WA Layanan Ditjen PKH