Tinjauan Tentang Mitigasi Stres Panas Pada Sapi Perah di Indonesia
Tinjauan Tentang Mitigasi Stres Panas Pada Sapi Perah di Indonesia
VETERINARY WORLD | Article No. 24 | pg no. 1098-1108 | Vol. 16, Issue 5
Penulis: Santiananda Arta Asmarasari, Nurul Azizah, Sutikno Sutikno, Wisri Puastuti, Azhar Amir, Lisa Praharani, Supardi Rusdiana, Cecep Hidayat, Anita Hafid, Diana Andrianita Kusumaningrum, Ferdy Saputra, Chalid Talib, Agustin Herliatika, Mohammad Ikhsan Shiddieqy, dan Sari Yanti Hayanti
Abstrak
Indonesia adalah negara tropis dengan iklim panas. Di negara tropis seperti Indonesia, stres panas merupakan penyebab utama penurunan produktivitas sapi perah. Stres panas adalah kombinasi rangsangan internal dan eksternal yang memengaruhi hewan, meningkatkan suhu tubuhnya, dan menyebabkan reaksi fisiologis. Sebagian besar sapi perah Indonesia adalah Friesian Holstein (FH), yang diimpor dari negara-negara Eropa dengan lingkungan beriklim sedang dengan suhu rendah berkisar antara 5°C–25°C.
Indonesia memiliki iklim tropis dengan suhu lingkungan yang tinggi yang dapat mencapai 34°C pada siang hari dan kelembaban relatif lokal bervariasi antara 70% dan 90%. Suhu dan kelembaban adalah dua faktor lingkungan mikro yang dapat memengaruhi produksi dan pelepasan panas pada sapi perah. Lebih dari 98% dari seluruh populasi sapi perah di Indonesia terdapat di Pulau Jawa. Di Pulau Jawa, terdapat antara 534,22 dan 543,55 ribu ekor sapi, sedangkan populasi sapi perah di luar Pulau Jawa hanya 6,59 ribu ekor. Produksi susu meningkat rata-rata 3,34% per tahun, atau sekitar 909,64 ribu ton dan pertumbuhan tahunan rata-rata konsumsi susu utuh adalah 0,19 L/kapita. Produksi susu sapi Indonesia belum mampu mengimbangi peningkatan permintaan negara. Studi ini bertujuan untuk meninjau strategi untuk mengurangi stres panas pada sapi perah di Indonesia.
Kata kunci: sapi perah, stres panas, Indonesia, negara tropis.
Tanggal terbit: 24 May 2023
Sumber: https://doi.org/10.14202/vetworld.2023.1098-1108