Lahan Mulai Dibersihkan, Hilirisasi Ayam Terintegrasi Lampung Ditargetkan Beroperasi Juli 2027
Lampung – Persiapan pembangunan Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT) di Lampung terus bergerak. Pembersihan lahan telah dilakukan, menandai kemajuan persiapan fisik proyek yang ditargetkan mulai beroperasi pada Juli 2027.
Perkembangan tersebut dipastikan melalui peninjauan lapangan oleh Kementerian Pertanian (Kementan), Sabtu (31/10/2026). Peninjauan dilakukan untuk melihat kondisi lokasi sekaligus mengawal kesiapan tahapan pembangunan berikutnya.
Direktur Pakan Kementan, Tri Melasari, mengatakan perkembangan persiapan di lapangan menjadi bagian penting dalam menjaga agar pelaksanaan program berjalan sesuai jadwal. Setiap tahapan perlu dikawal agar target operasional yang telah ditetapkan dapat dicapai.
“Program Hilirisasi Ayam Terintegrasi diharapkan dapat mendorong pengembangan industri perunggasan yang lebih terintegrasi, meningkatkan efisiensi produksi, serta memperkuat ketersediaan pangan asal unggas,” ujar Tri Melasari.
Ia menambahkan, koordinasi antarunit kerja perlu terus dijaga agar kebutuhan dalam proses persiapan hingga pembangunan dapat ditangani secara tepat waktu.
Kepala Balai Veteriner (BV) Lampung, Kementan, Suryantana, menyampaikan dukungan terhadap pelaksanaan program tersebut. Menurut dia, keterlibatan BV Lampung dalam peninjauan merupakan bagian dari dukungan terhadap pengawalan program Kementan di daerah.
“BV Lampung mendukung upaya pengembangan Hilirisasi Ayam Terintegrasi. Program ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap penguatan sektor perunggasan, peningkatan produksi, serta ketahanan pangan nasional,” kata Suryantana.
Setelah tahap pembersihan lahan, persiapan selanjutnya akan diarahkan pada tahapan pembangunan fasilitas pendukung. Seluruh proses tersebut perlu berjalan sesuai jadwal agar HAT di Lampung dapat mencapai target operasional pada Juli 2027.
Bagi Kementan, kemajuan di Lampung menjadi bagian dari langkah membangun industri perunggasan yang lebih terhubung dari hulu hingga hilir. Melalui sistem tersebut, proses produksi diharapkan semakin efisien dan mampu mendukung ketersediaan pangan asal unggas secara berkelanjutan. (*)