Dari Susu Peternak Ciawi, Yess Yoghurt Kembangkan Produk Olahan hingga 40 Gerai
Bogor – Susu segar dari peternak sapi perah di Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, tidak hanya dijual sebagai bahan baku. Melalui pengolahan menjadi yoghurt, permen susu, hingga keju mozzarella, hasil peternakan lokal memiliki nilai tambah sekaligus membuka peluang usaha dan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.
Peluang tersebut dikembangkan PT Bogor Sari Nutrisi melalui produk olahan susu bermerek Yess Yoghurt. Usaha keluarga yang dirintis sejak 2012 itu kini berkembang dengan memasarkan produknya di sekitar 40 gerai Apotek Roxy, sejumlah pusat oleh-oleh di Bogor, serta berbagai saluran penjualan digital.
General Manager PT Bogor Sari Nutrisi, Maulita Putri Darmawati, mengatakan usaha tersebut bermula dari kebiasaan keluarga membuat yoghurt untuk konsumsi sendiri. Berbekal resep yang diwariskan orang tuanya, produk itu kemudian mulai dipasarkan setelah mendapat respons positif dari orang-orang yang mencicipinya.
“Awalnya kami hanya membuat yoghurt untuk dikonsumsi sendiri dan keluarga. Namun, ternyata respons masyarakat sangat baik ketika produk mulai dipasarkan. Dari situ kami melihat bahwa olahan susu memiliki peluang usaha yang cukup besar untuk dikembangkan,” ujar Maulita.
Usaha tersebut kemudian diteruskan Maulita sebagai generasi berikutnya. Lulusan Teknologi Peternakan IPB University ini membawa bekal pendidikan di bidang peternakan untuk mengembangkan bisnis keluarga agar semakin profesional dan menjangkau pasar yang lebih luas.
Bagi perusahaan, pengembangan usaha tidak hanya berhenti pada penjualan yoghurt. Susu sapi dari peternak lokal di Ciawi dan sekitarnya juga diolah menjadi produk lain, seperti Yess Candy dan keju mozzarella. Dengan cara ini, susu lokal dapat dimanfaatkan menjadi beragam produk, bukan hanya dipasarkan dalam bentuk segar.
“Produk yang kami kembangkan berbasis susu sapi dari peternak lokal. Selain yoghurt dengan merek Yess Yoghurt, kami juga mengembangkan Yess Candy dan mozzarella. Kami ingin susu lokal tidak hanya dijual sebagai bahan baku, tetapi dapat diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai tambah,” jelasnya.
Untuk menjaga mutu bahan baku, perusahaan melakukan pemeriksaan kualitas atau quality control terhadap susu yang diterima setiap pagi. Perusahaan juga menerapkan sistem rantai dingin atau cold chain dalam proses penanganan produk. Pendampingan tim IPB University turut membantu menjaga standar bahan baku dan proses pengolahan.
Maulita menyebut produksi yoghurt saat ini rata-rata mencapai sekitar 100 liter per hari atau setara kurang lebih 400 botol. Ketika permintaan meningkat, kebutuhan susu sebagai bahan baku pernah mencapai 500 liter per hari.
Pertumbuhan usaha tersebut juga membawa manfaat bagi masyarakat sekitar. Seluruh tenaga kerja perusahaan direkrut dari lingkungan setempat sehingga kegiatan produksi turut membuka kesempatan kerja bagi warga Ciawi.
Dari sisi pemasaran, Yess Yoghurt telah memperluas jangkauan melalui Apotek Roxy, pusat oleh-oleh di Bogor, termasuk Lapis Bogor Sangkuriang, serta toko oleh-oleh di kawasan Puncak. Penjualan juga dilakukan melalui website, Instagram, WhatsApp Business, dan ShopeeFood. Produk perusahaan bahkan telah dikirim ke sejumlah daerah di luar Jabodetabek, antara lain Palembang, Bali, Jambi, dan Banyuwangi.
Untuk menyesuaikan produk dengan selera konsumen, perusahaan saat ini mengembangkan empat varian yoghurt, yakni stroberi, leci, melon, dan mangga. Ke depan, perusahaan berencana menghadirkan yoghurt dalam kemasan pouch dan yoghurt bubuk atau dry yoghurt yang berpotensi dikembangkan untuk pasar ekspor.
“Kami ingin terus mengembangkan produk agar bisa menjangkau lebih banyak konsumen, tidak hanya di Bogor dan Jabodetabek, tetapi juga ke berbagai daerah. Harapannya, produk olahan susu lokal semakin dikenal dan mampu bersaing dengan produk lainnya,” kata Maulita.
Berlokasi di Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, PT Bogor Sari Nutrisi menjadi salah satu contoh pengembangan usaha berbasis hasil peternakan lokal. Perusahaan juga memiliki cita-cita mengembangkan gerai sendiri dan kawasan wisata edukasi agar masyarakat dapat mengenal lebih dekat proses pengolahan susu.
Maulita berharap semakin banyak masyarakat, terutama generasi muda, yang tertarik mengembangkan usaha berbasis hasil peternakan. Menurutnya, potensi susu sapi lokal tidak hanya terletak pada penjualan bahan baku, tetapi juga pada kreativitas mengolahnya menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. (*)