Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
Logo

Kementan dan BRIN Perkuat Riset Peternakan, Brebes Jadi Lokus RISPRO Invitasi PRIMA 2026

30/09/2026 16:00:00 Fahmi 81

Jakarta — Pengembangan peternakan tidak lagi cukup hanya bertumpu pada peningkatan produksi. Di tengah kebutuhan pangan yang terus berkembang, penelitian dituntut mampu melahirkan inovasi yang dapat diterapkan langsung untuk memperkuat kawasan produksi, sumber daya genetik, teknologi, hingga rantai peternakan nilai dari hulu sampai hilir.

Semangat tersebut mengemuka dalam pertemuan dan pembahasan usulan Riset Inovatif Produktif Invitasi - Program Riset Kebijakan Pembangunan Merah Putih (RISPRO Invitasi PRIMA) Tahun 2026 antara Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Pemerintah Kabupaten Brebes.

Pertemuan yang berlangsung pada Rabu (30/9/2026) di Kantor Ditjen PKH, Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, membahas usulan penelitian bertajuk “Pembangunan Kawasan Pangan Produktif Berkelanjutan melalui Penguatan Rantai Nilai Protein Hewani Berbasis Ekonomi Sirkular dan Teknologi Inovasi”. Dalam usulan itu, Kabupaten Brebes ditetapkan sebagai salah satu lokus kegiatan sekaligus daerah yang menyatakan kesiapan untuk mendukung kolaborasi antara pemerintah pusat, BRIN, dan pemerintah daerah.

Sekretaris Ditjen PKH Kementan, Nuryani Zainuddin, menilai penelitian yang dikembangkan harus memiliki keterkaitan yang kuat dengan kebutuhan pembangunan dan mampu memberikan manfaat nyata bagi pengembangan sistem peternakan. Menurutnya, agenda riset terkait pangan dapat menjadi momentum untuk memperkuat posisi peternakan sebagai bagian penting dari sistem pertanian secara keseluruhan.

“Sebetulnya momentumnya sangat bagus dengan adanya kegiatan yang mengarah ke pangan. Lokomotif awal sistem pertanian itu sebetulnya dimulai dari peternakan,” ujar Nuryani.

Gagasan tersebut kemudian mengarah pada pembahasan mengenai pengembangan kawasan peternakan yang terintegrasi sekaligus memperluas sentra produksi ke berbagai wilayah. Salah satu yang menjadi contoh adalah rencana pengembangan pilot project kluster sapi perah di Padang Mengatas, Sumatera Barat, yang dirancang dari sektor hulu hingga hilir untuk membantu memenuhi kebutuhan susu lokal. Pengembangan tersebut juga dikaitkan dengan upaya perluasan sentra sapi perah di luar Pulau Jawa, mengingat sekitar 95 persen populasi sapi perah dianggap masih ada di Pulau Jawa.

Di sisi lain, perkembangan teknologi peternakan memerlukan dukungan riset sekaligus kerangka regulasi yang memadai. Kepala Pusat Riset Peternakan BRIN, Santoso, menyoroti pentingnya aspek keamanan hayati dalam menghadapi perkembangan teknologi seperti gene editing dan rekayasa genetika. Menurutnya, kemajuan teknologi juga akan mengubah pendekatan dalam proses sertifikasi dan penetapan galur ternak.

“Ke depan, sertifikasi dan penetapan galur ternak tidak hanya melihat performa fisik, tetapi berdasarkan biologi molekuler dan skrining genotipe, yang disinergikan dengan penelitian BRIN,” ujar Santoso.

Penguatan aspek genetika tersebut juga dikaitkan dengan rencana transformasi Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang. Dalam pembahasan, nomenklatur BET Cipelang direncanakan berubah menjadi Balai Embrio dan Genetika Ternak. Pengembangan kelembagaan ini diarahkan untuk memperkuat penerapan teknologi genetika sekaligus mendukung proses sertifikasi dan penetapan galur ternak yang semakin didasarkan pada pengujian molekuler.

Sementara itu, Kabupaten Brebes memiliki potensi sumber daya genetik lokal yang turut menjadi bagian penting dalam agenda kolaborasi penelitian tersebut. Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Brebes, Ismu Subroto, mengatakan pemerintah daerah terus mendorong proses penetapan galur ternak lokal agar potensi genetik yang dimiliki daerah dapat dikembangkan dan mendapatkan pengakuan.

“Kabupaten Brebes ingin memeriksa kemajuan penetapan Domba Tanjung, yang kedua, nanti Brebes juga akan mengajukan permohonan penetapan Domba Sakub,” kata Ismu.

Selain Domba Tanjung dan Domba Sakub, kerja sama dengan BRIN juga akan diarahkan untuk mendukung pengajuan penetapan sumber daya genetik lainnya, termasuk sapi keturunan dari Bengkulu dan Ayam Cemani. Dengan demikian, penelitian tidak hanya ditujukan untuk menghasilkan kajian, tetapi juga mendukung pengelolaan dan pengembangan potensi genetik ternak yang dimiliki daerah.

Kumpulan pembahasan tersebut selanjutnya akan diperkuat melalui forum group Discussion (FGD) yang direncanakan berlangsung di Jakarta pada Kamis 8 Oktober 2026. Forum tersebut diharapkan menjadi ruang untuk memperdalam substansi usulan penelitian sekaligus menyelaraskan langkah antara Kementan, BRIN, dan Pemerintah Kabupaten Brebes.

Melalui kolaborasi lintas lembaga tersebut, penelitian peternakan diharapkan dapat menghasilkan inovasi yang aplikatif dan memberi manfaat bagi pembangunan pangan di daerah. Penyelarasan antara pengembangan kawasan, teknologi, sumber daya genetik, serta penguatan rantai nilai protein hewani menjadi bagian penting agar hasil penelitian dapat diterapkan secara berkelanjutan dan mendukung pengembangan peternakan dari hulu hingga hilir.

Kategori
WA Layanan Ditjen PKH