Beternak Ayam Kampung Intensif Ramah Lingkungan
- 13 Juni 2016, 14:02 WIB
- /
- Dilihat 6669 kali
Peternakan ayam ras sudah berkembang di Indoneisa selama beberapa dekade dan produknya sudah menguasai pasar domestik. Namun, ayam kampung dan produknya tetap eksis bahkan ikut berkembang untuk memenuhi permintaan pasar yang tetap cukup kuat.
Pemeliharaan ayam kampung telah pula mengikuti pola manajemen peternakan ayam ras intensif. Dengan meningkatnya kesadaran akan keamanan pangan dan kelestarian lingkungan, pola pemeliharaan intensif dituntut sekaligus berorientasi ramah lingkungan. Ini perlu untuk memperoleh kuantitas dan kualitas yang lebih baik dan mengatasi kelemahan-kelemahan pola intensif maupun yang tradisional.
Sari Y. Hayanti dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jambi bersama M. Purba dari Balai Penelitian Ternak, Bogor dalam satu tinjauan memberi gambaran karakteristik tentang apa, bagaimana, manfaat, faktor-faktor pendukung utama pemeliharaan ayam kampung secara intensif dan ramah lingkungan. Makalah itu secara khusus menyoroti khusus perkembangan di Jambi, tetapi isinya secara keseluruhan berguna pula sebagai bahan rujukan bagi pengembangan pemeliharaan ayam kampung secara intensif dan ramah lingkungan di daerah-daerah lain di nusantara.
Kedua penulis berpandangan bahwa pemeliharaan ayam kampung secara semi intensif dan intensif akan menghasilkan produk yang lebih baik dibanding dengan cara ekstensif atau tradisional. Sedangkan pemeliharaan yang ramah lingkungan dipahami sebagai upaya pemeliharaan ayam kampung yang lebih memanfaatkan pakan alami (organik) serta pemberian tanaman obat tradisional sebagai cara untuk mengurangi penggunaan obat-obatan berbahan anorganik. Dengan pola kombinasi ini aspek keamanan pangan dapat lebih terjamin karena menghindari pemberian antibiotik, hormon dsb yang sering menjadi masalah karena residu pada produk ayam kampung. Selain itu, kinerja ayam kampung, daya tahan tubuh terhadap penyakit dapat lebih baik.
Pemeliharaan ayam kampung secara intensif sendiri, menurut berbagai hasil penelitian, dapat memberi hasil telur sekitar 105-151 butir/tahun dibandingkan hanya 30-60 butir pada pemeliharaan secara tradisional. Bobot telur per butir mencapai 45,27 g/butir dibanding 37,5 gram/butir, dan bobot ayam pada umur 12 minggu bisa mencapai 708,0 gram dibanding 425,19 gram.
Seleksi Visual
Tinjauan itu menyebutkan faktor-faktor pendukung penting untuk pemeliharan ayam kampung secara intensif dan ramah lingkungan meliputi ketersediaan bibit ayam kampung yang terseleksi, pekarangan yang cukup luas untuk kandang, sumberdaya manusia yang cukup termasuk peran serta wanita dalam rumah tangga peternak, ketersediaan hasil samping usaha tanaman dan agroindustri sebagai sumber pakan, dan sumberdaya tanaman obat yang mudah dibudidayakan dan mudah diolah.
Usaha peternakan ayam kampung yang optimal dapat dimulai dengan menggunakan bibit yang genetik induknya terseleksi. Bibit untuk dijadikan bakalan induk dapat dilihat dari sifat-sifat luarnya. Di antaranya, ayam jenis kaki hitam memiliki daya tahan lebih tinggi terhadap penyakit dan sifat mengasuh anak yang tinggi. Jenis ayam kaki kuning memiliki daya tahan tinggi terhadap penyakit, pertumbuhannya relatif cepat dan masa sapih anak singkat. Keunggulan jenis ayam burik ialah daya tahan tinggi terhadap penyakit, masa sapih anak singkat dan produksi telur lebih banyak dibanding jenis kaki hitam dan kaki kuning.
Pemeliharaan ayam kampung secara intensif dapat dimulai dengan memelihara induk lebih dari 25 ekor agar dapat memberi tambahan pendapatan bagi keluarga peternak. Penyelenggaraan usaha keluarga ini terbuka bagi peran yang lebih besar kaum wanita yang lebih memiliki waktu lebih banyak di rumah.
Sumber pakan untuk ayam kampung memanfaatkan bahan baku lokal yang mudah didapat sehingga mempermudah penyelenggaraan peternakan intensif dan ramah lingkungan. Jenis bahan yang tersedia beragam bergantung daerahnya, meliputi serealia, limbah pengolahan seperti dedak padi, bungkil kelapa, bungkil kedelai, ampas tahu dan sebagainya.
Tanaman Obat
Penggunaan obat-obatan organik tradisional untuk kesehatan dan pencegahan penyakit dikembangkan pada sistem peternakan ayam kampung secara intensif dan ramah lingkungan. Pemberian obat-obatan tradisional dapat dilakukan dengan berbagai cara termasuk secara langsung maupun melalui pencampuran dengan pakan atau air minum.
Makalah tersebut mengemukakan sejumlah contoh hasil penelitian di Indonesia tentang manfaat ramuan jamu-jamuan tradisional tertentu bagi kesehatan dan pencegahan penyakit pada ayam kampung. Jamu dari ramuan kencur, bawang putih, jahe, lengkuas, kunyit, temulawak, daun sirih dan kayu manis yang diberikan melalui air minum dapat meningkatkan bobot karkas. Tepung kencur yang dicampurkan pada pakan ayam berguna untuk memperbaiki performa ayam dan mampu menekan angka mortalitas.
Kunyit yang dicampurkan pada pakan dapat menurunkan tingkat populasi bakteri dalam saluran pencernaan ayam dan mencegah pencemaran pada produk ayam. Pemberian 0,04% tepung kunyit memiliki efek menaikkan pertambahan bobot hidup ayam.
Ketersediaan obat-obatan tradisional seperti jamu terdukung oleh bahan ramuan yang umumnya mudah diperoleh dan dibudidayakan serta dikenal secara lokal. Biayanya murah karena budidayanya mudah karena sederhana dan tidak memerlukan lahan yang luas. Pengolahannya ke berbagai bentuk obat untuk aplikasi cukup mudah, seperti penepungan, pemerasan atau ekstraksi bahan aktif melalui perebusan.
Disimpulkan bahwa pemeliharaan ayam kampung secara intensif dan ramah lingkungan merupakan peluang usaha yang menguntungkan dan meningkatkan daya saing. Ini karena pola tersebut mampu meningkatkan performa ayam kampung, daya tahan tubuhnya terhadap penyakit, kualitas karkas disukai konsumen, serta mengurangi atau meniadakan penggunaan bahan-bahan obatan kimiawi seperti antibiotik, hormon dsb yang residunya berdampak negatif terhadap kesehatan masyarakat konsumen.
Sumber : https://mail.tabloidsinartani.com/content/read/beternak-ayam-kampung-intensif-ramah-lingkungan/