• Beranda
  • Artikel
  • Antagonisme Kemampuan Reproduksi dan Produksi Susu pada Sapi Perah

Antagonisme Kemampuan Reproduksi dan Produksi Susu pada Sapi Perah

  • 21 Oktober 2021, 06:50 WIB
  • /
  • Dilihat 4035 kali

Keuntungan ekonomi besar yang diperoleh dengan efisiensi usaha dan waktu yang singkat merupakan impian bagi semua jenis usaha yang kita lakukan…tak terkecuali usaha peternakan sapi perah. Semua peternak sapi perah tentunya ingin memelihara sapi perah yang memiliki efisiensi reproduksi dan produksi susu tinggi sehingga diharapkan akan memberikan keuntungan yang besar bagi peternak pemeliharanya. Beragam upaya dilakukan untuk mendapatkan ternak impian, salah satunya dengan melakukan pemuliaan ternak.

Pemuliaan ternak, selain untuk meningkatkan produksi juga harus diarahkan untuk meningkatkan sifat ekonomis lainnya seperti sifat reproduksi. Performa reproduksi yang baik akan menunjukkan nilai efisiensi reproduksi yang tinggi. Efisiensi reproduksi adalah ukuran kemampuan seekor ternak untuk bunting dan menghasilkan keturunan yang layak. Efisiensi reproduksi yang rendah tidak hanya dapat disebabkan oleh faktor gangguan reproduksi, fisiologis (hormonal), atau manajemen reproduksi, melainkan juga dipengaruhi oleh faktor genetik.  Kemajuan genetik yang rendah untuk sifat-sifat reproduksi dapat disebabkan oleh dua faktor, yaitu : 1) program seleksi yang lebih menekankan seleksi pada sifat produksi, bukan pada sifat reproduksi; dan 2) sifat-sifat reproduksi umumnya memiliki heritabilitas yang rendah sebagai salah satu dampak seleksi alam. Seleksi yang diarahkan pada perbaikan suatu sifat, tidak menjamin keberhasilan yang sama pada sifat lainnya. Sebagai contoh,  jika penekanan seleksi diarahkan pada sifat/fungsi produksi susu yang tinggi melal ui suatu proses biologis maka sifat/fungsi lain seperti fertilitas, pergerakan, kekebalan tubuh, dan lain-lain tentu akan terpengaruh.

Berbagai penelitian melaporkan adanya korelasi genetik yang “negative” antara produksi susu dengan performa reproduksi. Nilai korelasi genetik yang dilaporkan pada berbagai penelitian diantaranya : (i) produksi susu dengan conception rate (CR) yaitu tingkat sapi yang bunting pada IB pertama) setelah beranak dilaporkan sebesar −0,49, artinya semakin tinggi produksi susu semakin rendah CR-nya; (ii) antara produksi susu dengan service per conception (0,23 - 0,48), dengan lama kawin lagi setelah beranak (0,12 – 0,60), dengan  masa kosong dan calving interval (0,21 – 0,71), artinya, semakin tinggi produksi susu maka semakin tinggi S/C serta semakin panjang lama kawin lagi setelah beranak, masa kosong dan calving interval (CI), dimana hal ini kurang menguntungkan secara ekonomis.

Penurunan performa reproduksi sebagai konsekuensi dari seleksi terus-menerus untuk meningkatkan produksi susu juga dilaporkan di banyak negara lainnya, misalnya terjadi  peningkatan masa kosong per laktasi selama 40 hari di Selandia Baru; peningkatan CI dari <13 bulan menjadi >14,5 bulan dan S/C dari 2,0 menjadi >3,5 dari tahun 1980-2000 di Amerika Serikat; peningkatan CI dari 371 hari menjadi 450 hari dan S/C dari 1,7 kali menjadi 2,3 kali dari tahun 1988 - 2002 di Mesir. Fertilitas yang semakin rendah mengakibatkan kerugian ekonomis dan dapat menyebabkan afkir dini. Penurunan sifat fertilitas akibat seleksi untuk produksi susu dapat diminimalkan dengan mempertimbangkan fertilitas dalam program seleksi. Hal ini karena meskipun heritabilitas sifat-sifat reproduksi umumnya rendah, namun korelasi genetiknya dengan sifat produksi susu berdampak nyata. Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan sifat ini ketika memilih tetua untuk program pemuliaan.

Pertimbangan performa reproduksi sebagai kriteria seleksi dapat diterapkan dengan metode indeks seleksi. Metode indeks seleksi adalah seleksi yang diberlakukan pada ternak dengan menerapkan indeks terhadap sifat-sifat yang menjadi kriteria seleksi. Metode indeks seleksi ini telah diterapkan di berbagai negara, diantaranya adalah Selandia Baru, Norwegia, Inggris, Amerika Serikat, Belanda, dsb. Sebagai contoh, Selandia baru menerapkan New Zealand Animal Evaluation Limited - Breeding Worth (NZAEL-BW) dengan memperhitungkan 7 sifat yaitu produksi susu, produksi lemak susu, produksi protein susu, bobot hidup, skor sel somatik, fertilitas, dan daya hidup). Norwegia menerapkan Nordic TMI (Total Merit Index) dengan memperhitungkan 13 sifat, diantaranya fertilitas anak betina dari induk yang diseleksi. Kecermatan seleksi untuk sifat-sifat reproduksi dapat ditingkatkan dengan pengukuran lebih dari satu sifat pada individu, penggunaan informasi silsilah, dan peningkatan ukuran kelompok keturunan. Upaya lebih lanjut perlu dilakukan dalam mengendalikan lingkungan produksi untuk menghindari lambatnya laju kemajuan genetik produksi susu akibat hubungan antagonisme antara produksi susu dan fertilitas ternak.

Pemanfaatan metode indeks seleksi pernah dilaporkan di di BPTU-HPT Indrapuri untuk menseleksi sapi potong (sapi Aceh) dan dinyatakan bahwa metode ini dapat digunakan sebagai salah satu kriteria seleksi ternak yang lebih akurat. Ke depan, diharapkan metode ini dapat digunakan juga pada sapi perah terutama pada balai pembibitan ternak, seperti BBPTU-HPT Baturraden. Recording yang lengkap, serta telah adanya berbagai penelitian mengenai heritabilitas sifat-sifat produksi maupun reproduksi, dapat digunakan sebagai database untuk menghitung faktor pembobot dan persamaan indeks seleksi yang diperlukan dengan melibatkan akademisi dan peneliti. Dengan memperhitungkan kemampuan produksi sekaligus reproduksi melalui metode indeks seleksi ini, diharapkan ternak-ternak hasil seleksi beserta keturunan-keturunannya adalah benar-benar ternak yang tidak hanya produksi susunya yang tinggi tetapi juga memiliki kemampuan reproduksi yang baik. (NS)

 

Oleh: Dr. Amalia Puji Rahayu, S.Pt., M.Si.

Wasbitnak Muda Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan Kabupaten Semarang

Logo

DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN
KEMENTERIAN PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA

Jl. Harsono RM No.3
Gedung C Lt 6 - 9, Ragunan, Kec. Pasar Minggu,
Kota Jakarta Selatan, Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12550

Tlp: (021) 7815580 - 83, 7847319
Fax: (021) 7815583

[email protected]
https://ditjenpkh.pertanian.go.id/

Tetaplah Terhubung

Mari jalin silaturahmi dengan mengikuti akun sosial media kami

Copyright © 2021 Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian - All Rights Reserved

Aksesibilitas

Kontras
Saturasi
Pembaca Layar
D
Ramah Disleksia
Perbesar Teks
Jarak Huruf
Jarak Baris
Perataan Teks
Jeda Animasi
Kursor
Reset