• Beranda
  • Berita
  • Dirjen PKH Kementan Apresiasi PT. CPI Hibahkan Kandang Ayam Close House Kepada 4 Universitas Untuk Kegiatan Teaching Farm

Dirjen PKH Kementan Apresiasi PT. CPI Hibahkan Kandang Ayam Close House Kepada 4 Universitas Untuk Kegiatan Teaching Farm

  • 17 Mei 2017, 03:43 WIB
  • /
  • Dilihat 2712 kali

JAKARTA_(15/05/2017), Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) Drh. I Ketut Diarmita, MP memberikan apresiasi kepada PT. Charoen Pokpand Indonesia (PT. CPI) yang telah memberikan hibah kandang Close House kepada 4 Universitas di Indonesia, yaitu UNHAS, UNSOED, UNDIP dan UNAIR. “Saya berharap semoga penyediaan fasilitas Close house ini dapat dimanfaatkan sebagai Teaching Farm dan dapat digunakan untuk praktek budidaya, serta kegiatan penelitian bagi mahasiswa dan dosen Fakultas Peternakan dan Fakultas Kedokteran Hewan” kata I Ketut Diarmita saat memberikan sambutan pada acara Launching Teaching Farm dan Penandatangan Kesepakatan Pemberian Hibah kandang Ayam Close House yang diselenggarakan oleh PT. CPI dan Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi Kemeristek Dikti tanggal 15 Mei 2017 di ruang Komisi Utama BPPT Jakarta Pusat.

“Saya berharap dengan  Program Hibah Kandang Close House ini,  akan lahir banyak Mahasiswa Peternakan yang memahami teknologi peternakan yang paling efisien dan paling optimal di Indonesia. Dengan demikian, NAWACITA untuk Indonesia memiliki ketahanan pangan dan menjadi lumbung pangan dunia khususnya dari protein hewani asal ternak dapat kita wujudkan”, tambahnya.

Menurut I Ketut Diarmita, kemajuan industri perunggasan di Indonesia tentu tidak terlepas dari peran Perguruan Tinggi, lembaga Riset, Pelaku Usaha, baik skala kecil maupun besar yang secara bersama-sama telah membangun industri tersebut, sehingga keberadaannya tidak hanya dapat berkontribusi secara signifikan dalam penyediaan bahan pangan sumber protein hewani asal ternak yang cukup murah dan mudah diperoleh tetapi juga berperan dalam meningkatkan lapangan pekerjaaan.

“Kalau kita lihat sejarah perunggasan di Indonesia, khususnya ayam ras terus mengalami kemajuan secara pesat, dan hal tersebut akan terus berkembang seiring dengan meningkatnya kebutuhan akibat meningkatnya jumlah penduduk dan tingkat pendidikan serta kesejahteraannya” ungkap I Ketut Diarmita.

Berdasarkan data Statistik Peternakan tahun 2016, populasi ayam ras pedaging (broiler) mencapai 1,59 miliar ekor, ayam ras petelur (layer) mencapai 162 juta ekor dan ayam bukan ras  (buras) mencapai 299 juta ekor atau mengalami peningkatan sekitar 4,2% dari populasi pada tahun 2015. Produksi daging unggas menyumbang 83% dari penyediaan daging nasional, sedangkan produksi daging ayam ras menyumbang 66% dari penyediaan daging nasional.

“Kendala yang saat ini dihadapi oleh masyarakat perunggasan nasional adalah harga ayam hidup dan daging ayam yang sangat berfluktuasi. Hal ini dikarenakan produksi ayam ras nasional mengalami surplus dibandingkan dengan kebutuhan nasional dimana konsumsi masyarakat terhadap daging ayam sekitar 10 kg/kapita/tahun. Oleh karena itu, salah satu upaya untuk mengendalikan harga adalah dengan membuka pasar di luar negeri” tutur I Ketut Diarmita.

“Saya berharap dengan ekspor, maka bidang perunggasan akan berkontribusi dalam peningkatan GDP (Gross Domestic Product) Indonesia, sehingga Kementerian Pertanian terus mendorong pelaku usaha perunggasan untuk dapat berdaya saing dan meningkatkan ekspornya ke negara-negara mitra dagang kita”, kata I Ketut Diarmita. “Saya berharap kita dapat segera merelisasikan cita-cita kita sebagai negara pengekspor produk ayam Halal untuk negara – negara timur tengah  dan  sebagainya, mengingat karkas ayam produksi Indonesia mempunyai nilai tambah karena sudah mengikuti konsep-konsep budidaya peternakan yang ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal).

Indonesia sebelumnya telah mengekspor daging ayam segar dingin dan beku ke beberapa negara antara lain Jepang dan Timur Tengah. Namun dengan munculnya wabah Penyakit Avian Influenza (AI) pada tahun 2003 menyebabkan pasar ekspor daging ayam Indonesia terhenti. I Ketut Diarmita menjelaskan, perdagangan antar negara saat ini menuntut adanya informasi tentang jaminan kesehatan hewan dan keamanan pangan, serta informasi bagaimana hewan dipelihara, diangkut dan disembelih, sehingga penerapan kesehatan dan kesejahteraan hewan juga dituntut untuk melekat pada informasi produk hewan yang dijual.  “Tanpa dukungan masyarakat, sulit rasanya mencapai kemajuan dalam memberlakuan prinsip–prinsip kesejahteraan hewan untuk meningkatkan daya saing produk hewan di Indonesia” ungkap I Ketut Diarmita.

“Permasalahan perunggasan saat ini salah satunya adalah adanya kelemahan manajemen yang harus dibahas dan diselesaikan bersama. Untuk itu, kita juga terus mendorong semua pelaku perunggasan, termasuk unggas lokal untuk dapat berdaya saing” tambahnya.

I Ketut Diarmita menjelaskan, saat ini untuk mendapatkan persetujuan dari negara calon pengimpor, maka ayam hidup harus berasal dari peternakan ayam yang telah menerapkan prinsip-prinsip kesejahteraan hewan (animal welfare) dan telah mendapatkan sertifikat kompartemen bebas penyakit AI dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Cq. Direktorat Kesehatan Hewan. Selain itu juga harus mendapatkan dukungan jaminan kemanan pangan  berupa Sertifikat Veteriner yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Cq. Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner.

Penataan Kompartemen (compartementalization) adalah serangkaian kegiatan untuk mengkondisikan suatu usaha peternakan unggas agar memiliki status kesehatan hewan melalui penerapan cara pembibitan ternak yang baik dan cara budidaya ternak yang baik. “Untuk itu, semua peternakan unggas, termasuk unggas lokal pun juga harus menerapkan sistem kompartemen dan prinsip-prinsip animal welfare”, kata I Ketut Diarmita.

Lebih lanjut I Ketut Diarmita menyampaikan, perkembangan industri perunggasan saat ini juga diikuti dengan banyaknya ancaman yang harus dihadapi para peternak, salah satunya global warming (pemanasan global) yang menyebabkan perubahan iklim yang tidak menentu. Perubahan iklim ini tidak bisa disepelekan karena kerugian ekonomi yang ditimbulkannya pun cukup banyak. Perubahan iklim yang ekstrem mempengaruhi ketahanan tubuh ayam terhadap penyakit dan metabolisme tubuh. Akibatnya konversi pakan rendah, yang diikuti dengan buruknya performa ayam, tingginya angka kematian, serta menurunnya kualitas dan kuantitas produksi telur dan daging

Perubahan ini merupakan sebuah tantangan yang tidak mudah untuk dunia usaha peternakan ayam di Indonesia. Di dalam menghadapi perubahan ini sangat diperlukan Inovasi teknologi pemeliharaan, sehingga industri peternakan ayam di Indonesia dapat berhasil di dalam negeri dan dapat bersaing di luar negeri. Alih teknologi dapat dilakukan dari sistem kandang yang semula terbuka dirubah menjadi kandang tertutup (Closed House) dimana di dalam kandang tertutup ini, beberapa faktor yang sebelumnya tidak dapat dikontrol oleh peternak, seperti suhu dan kecepatan angin, menjadi mudah untuk dikendalikan.

“Kita perlu menyadari bahwa inovasi teknologi sangat penting, sehingga saya berharap PT. CPI dapat terus melakukan program - program percepatan proses alih teknologi kepada para peternak di Indonesia seperti Program Bedah Kandang Rakyat” tutup I Ketut Diarmita.

 

 

Contact Person:

Yuliana Susanti, SPt, MSi (Humas Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan)

Logo

DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN
KEMENTERIAN PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA

Jl. Harsono RM No. 3 Gedung C Lantai 6 - 9, Ragunan
Kecamatan Pasar Minggu Kota Jakarta Selatan
Provinsi Daerah Khusus Jakarta 12550

Tlp: (021) 7815580 - 83, 7847319
Fax: (021) 7815583

[email protected]
https://ditjenpkh.pertanian.go.id/

Tetaplah Terhubung

Mari jalin silaturahmi dengan mengikuti akun sosial media kami

Copyright © 2021 Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian - All Rights Reserved

Aksesibilitas

Kontras
Saturasi
Pembaca Layar
D
Ramah Disleksia
Perbesar Teks
Jarak Huruf
Jarak Baris
Perataan Teks
Jeda Animasi
Kursor
Reset