Hari Pangan Sedunia, Kementan Perkuat Akses Protein Hewani dan Jaga Keberlanjutan Usaha Peternak
Jakarta — Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat produksi dan ketersediaan pangan bergizi yang terjangkau bagi masyarakat, sekaligus memastikan peternak memperoleh kepastian pasar dan hasil usaha yang layak. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen Kementan membangun subsektor peternakan yang produktif, mandiri, dan berkelanjutan pada momentum Hari Pangan Sedunia, 16 Oktober 2026.
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa subsektor peternakan harus ditangani melalui penguatan ekosistem usaha secara menyeluruh, mulai dari penyediaan bahan baku hingga pemasaran hasil produksi.
“Yang pertama adalah kita membangun ekosistem yang sehat. Dari hulu sampai hilir harus kita jaga. Kita bangun sistem yang bagus,” tegas Mentan Amran dalam pertemuan bersama peternak, koperasi, dan asosiasi di Jakarta (9/10/2026).
Salah satu langkah nyata Kementan adalah memperkuat ketersediaan jagung pakan melalui percepatan penyaluran program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Jagung dengan harga Rp5.000 per kilogram, didukung peningkatan produksi dan penguatan kemitraan antara petani, peternak, serta koperasi. Langkah ini diarahkan untuk membantu meringankan biaya pakan, menjaga keberlanjutan usaha peternak rakyat, sekaligus memastikan pasokan daging ayam dan telur tetap terjaga bagi masyarakat.
Dari sisi produksi, Indonesia memiliki modal yang cukup kuat. Berdasarkan prognosa Kementan tahun 2026, produksi daging ayam ras nasional diperkirakan mencapai 4,70 juta ton, melampaui kebutuhan sekitar 4,47 juta ton. Sementara produksi telur ayam ras diproyeksikan mencapai 7,16 juta ton, sehingga ada potensi surplus 4,71% dari total kebutuhan sekitar 6,84 juta ton. Kondisi tersebut menunjukan pasokan daging dan telur ayam ras aman untuk memenuhi kebutuhan pangan sampai akhir tahun.
Meski produksi unggas mencukupi, peternak masih menghadapi tantangan harga pakan, distribusi, kepastian pasar, dan harga jual. Karena itu, Kementan mendorong penguatan produksi sekaligus penyerapan hasil peternakan, termasuk melalui peluang pasar Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan, Agung Suganda, menegaskan bahwa penguatan produksi perlu diikuti pemerataan distribusi dan penyerapan pasar. Khusus untuk telur ayam ras, distribusi dari sentra produksi ke wilayah yang membutuhkan menjadi salah satu langkah untuk menjaga keseimbangan pasokan sekaligus mendukung harga yang layak bagi peternak.
“Daerah-daerah sentra ini harus terus didorong agar harga telur ini bisa naik dan salah satunya adalah mendistribusikan ke wilayah timur yang memang harganya masih cukup tinggi,” ujar Agung di Jakarta, Jumat (16/10/2026).
Keberlanjutan produksi juga bergantung pada kesehatan ternak. Melalui layanan kesehatan hewan, vaksinasi, pengendalian penyakit, dan biosekuriti, Kementan membantu menekan risiko kerugian dan gangguan pasokan. Pengawasan keamanan pangan asal hewan juga diperkuat agar produk yang dikonsumsi masyarakat aman.
Berbeda dengan unggas, produksi daging sapi dan susu dalam negeri masih belum memenuhi kebutuhan nasional sehingga sebagian pasokan bergantung pada impor. Pemerintah menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 12 Tahun 2026 tentang Percepatan Produksi Susu dan Daging Nasional dalam Rangka Mendukung Swasembada Pangan sebagai landasan memperkuat populasi, produktivitas, dan usaha peternakan nasional.
Sejalan dengan itu, penguatan usaha sapi pedaging dan sapi perah rakyat dilakukan melalui perbaikan mutu bibit, produktivitas dan kesehatan ternak, serta kemitraan dengan industri. Peningkatan produksi perlu diikuti kepastian penyerapan dan harga yang layak agar manfaat ekonominya dirasakan peternak.
Upaya tersebut sejalan dengan tema Hari Pangan Sedunia 2026 dari Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), Innovate Today. Nourish Tomorrow., yang menekankan inovasi untuk membangun sistem pangan tangguh dan memperluas akses terhadap makanan bergizi.
Momentum Hari Pangan Sedunia mengingatkan bahwa kedua tujuan tersebut harus berjalan beriringan. Ketika peternak mampu berproduksi dan memperoleh hasil yang layak, pasokan protein hewani bagi masyarakat lebih terjaga. Penguatan peternakan pun bukan sekadar meningkatkan produksi, melainkan memastikan manfaatnya sampai ke meja makan dan kembali kepada peternak. (*)