Malaysia Kembali Lirik Kambing dan Domba Indonesia, Kementan Buka Jalan Ekspor bagi Peternak
Jakarta – Peluang pasar baru bagi peternak kambing dan domba Indonesia mulai terbuka. Sejumlah pelaku usaha Malaysia menunjukkan minat untuk kembali mendatangkan ternak hidup dari Indonesia. Peluang ini menjadi angin segar bagi peternak, terutama di tengah tekanan harga kambing dan domba di sejumlah daerah.
Kementerian Pertanian (Kementan) tengah menyiapkan langkah untuk membuka kembali akses ekspor tersebut. Fokusnya bukan hanya memenuhi permintaan pasar, tetapi juga memastikan ternak Indonesia dapat dikirim dengan aman, memenuhi standar kesehatan, dan memiliki biaya pengiriman yang kompetitif.
Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan, Kementan, Makmun, mengatakan komunikasi dengan otoritas Malaysia telah dilakukan untuk membahas persyaratan perdagangan. Kementan juga telah menindaklanjuti permintaan pelaku usaha Malaysia terkait kesiapan pasokan dan pemenuhan ketentuan karantina.
Salah satu opsi yang tengah dibahas adalah pemanfaatan kapal ternak Camara Nusantara. Menurut Makmun, dukungan transportasi yang sesuai menjadi bagian penting agar peluang ekspor dapat diwujudkan.
Dari sisi pasar, Ahlum Nazar dari PT Aliyah Rizq Agriculture mengungkapkan bahwa perusahaannya memiliki kebutuhan kambing dan domba untuk pasar Malaysia. Dengan dukungan jaringan peternak mitra di Sumatera Utara, potensi pemenuhan kebutuhan dalam kondisi normal diperkirakan mencapai sekitar 2.000 ekor, bergantung pada spesifikasi ternak dan kesiapan pasokan.
“Kami berharap ekspor ini bisa berjalan kembali. Kami sebagai pelaku usaha siap mengikuti protokol yang ditetapkan, karena yang terpenting bukan hanya ekspor dapat dimulai, tetapi juga bagaimana ekspor ini bisa berlangsung aman dan terus berkelanjutan,” ujar Ahlum.
Peluang tersebut juga mendapat perhatian Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI). Teguh Arif Hidayat dari DPP HPDKI menilai pembukaan kembali pasar Malaysia dapat membantu memperluas pilihan pemasaran, terutama bagi peternak di Jawa Timur dan Jawa Tengah yang tengah menghadapi tekanan harga.
“Ekspor ini bukan hanya kepentingan perusahaan tertentu, tetapi merupakan kepentingan nasional. Harapannya, akses pasar ini bisa dibuka seluas-luasnya bagi peternak dan perusahaan di Indonesia yang siap serta mampu memenuhi protokol yang ditetapkan,” ujar Teguh.
Sementara itu, Nuryanto dari PT Agro Investama mengingatkan bahwa daya saing harga ternak Indonesia perlu didukung biaya logistik yang efisien. Tanpa pengiriman yang kompetitif, peluang pasar yang tersedia belum tentu dapat dimanfaatkan secara optimal.
Bagi peternak, terbukanya kembali pasar Malaysia diharapkan bukan sekadar menambah tujuan ekspor, tetapi juga memperluas pilihan pembeli dan memperkuat posisi tawar dalam menjual ternaknya.
Karena itu, Kementan bersama pihak terkait terus mendorong penyelesaian persyaratan kesehatan hewan, kesiapan pasokan, dan dukungan transportasi. Dengan persiapan yang matang, peluang perdagangan ini diharapkan dapat berkembang menjadi akses pasar yang berkelanjutan dan memberikan manfaat lebih luas bagi peternak Indonesia. (*)