Kementan Dorong Inovasi dan Hilirisasi Peternakan Berbasis Potensi Lokal di Unram
Mataram — Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong inovasi, hilirisasi, dan pemanfaatan potensi lokal sebagai bagian dari upaya membangun subsektor peternakan yang produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan. Pengembangan tersebut diarahkan agar kemajuan subsektor peternakan tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memberikan nilai tambah, membuka peluang usaha, dan memperkuat kesejahteraan peternak.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, menekankan bahwa pembangunan peternakan perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari penyediaan sarana produksi, peningkatan produktivitas, kesehatan hewan, hingga pengolahan hasil dan akses pasar. Dengan pendekatan tersebut, potensi sumber daya lokal diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal untuk membangun usaha peternakan yang semakin efisien dan tangguh.
“Pemanfaatan potensi lokal, penguatan hilirisasi serta penerapan bioekonomi sirkular diharapkan mampu menciptakan nilai tambah, meningkatkan efisiensi sumber daya dan mengurangi limbah melalui pemanfaatan kembali hasil samping kegiatan produksi,” ujar Agung saat menyampaikan paparan secara daring dalam Seminar Nasional Peternakan Fakultas Peternakan Universitas Mataram (Unram), Senin (12/10/2026).
Seminar tersebut mengangkat tema “Inovasi, Hilirisasi, dan Bioekonomi Sirkuler Berbasis Potensi Lokal untuk Mewujudkan Peternakan Berkelanjutan.”
Menurut Agung, Indonesia memiliki modal yang kuat untuk terus mengembangkan subsektor peternakan. Produksi daging ayam dan telur ayam secara nasional diproyeksikan surplus pada 2026. Capaian ini perlu diikuti dengan penguatan pengolahan, distribusi, dan akses pasar agar peningkatan produksi turut memberikan manfaat ekonomi bagi peternak serta menjaga keterjangkauan pangan bagi masyarakat.
Sementara itu, pada komoditas daging sapi dan susu, peluang peningkatan produksi dalam negeri masih terbuka luas. Pengembangan populasi, produktivitas, dan kualitas ternak menjadi bagian penting dari upaya memperkuat ketersediaan protein hewani nasional.
Salah satu langkah yang terus didorong Kementan adalah pengembangan inovasi pakan berbasis sumber daya lokal. Pemanfaatan bahan baku alternatif, seperti bungkil inti sawit dan hasil samping pertanian maupun perkebunan lainnya, memiliki potensi untuk mendukung efisiensi biaya produksi. Penerapannya perlu disertai pengujian mutu, pengembangan teknologi pengolahan, serta formulasi pakan yang sesuai dengan kebutuhan nutrisi ternak.
Di sisi hilir, pengembangan industri pengolahan juga menjadi perhatian. Pengolahan telur menjadi tepung telur, peningkatan kapasitas pengolahan susu, serta pengembangan produk olahan daging diharapkan dapat memperluas pemanfaatan hasil peternakan, membuka peluang pasar baru, dan meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri. Penguatan industri tersebut perlu berjalan beriringan dengan keterlibatan peternak rakyat melalui pengembangan koperasi, kemitraan usaha, dan akses pasar yang saling menguntungkan.
Untuk komoditas sapi potong dan sapi perah, Kementan juga terus memperkuat langkah percepatan peningkatan produksi melalui perbaikan reproduksi, peningkatan kualitas genetik, pengelolaan pakan, dan penerapan biosekuriti. Berbagai upaya tersebut menjadi bagian dari pembangunan peternakan yang mengedepankan produktivitas, kesehatan hewan, dan keberlanjutan usaha.
Sejalan dengan itu, Dekan Fakultas Peternakan Unram, Prof. Muhamad Ali, menilai inovasi, hilirisasi, dan bioekonomi sirkular memiliki peran penting dalam menjawab kebutuhan pengembangan peternakan di tengah dinamika biaya produksi, kebutuhan pasar, dan tantangan lingkungan.
“Kita berharap subsektor peternakan dapat semakin efisien, berdaya saing, dan berkelanjutan dengan tetap mengoptimalkan potensi lokal,” kata Muhamad Ali.
Menurutnya, pemanfaatan sumber daya lokal dapat dikembangkan melalui berbagai pendekatan inovatif. Pengolahan daging sapi lokal menjadi produk bernilai tambah, pemanfaatan jerami sebagai bahan pakan setelah melalui pengolahan yang sesuai, penggunaan sekam padi untuk kebutuhan pemeliharaan ternak, hingga pengolahan limbah peternakan menjadi pupuk organik merupakan contoh penerapan yang dapat memperkuat hubungan antara sektor pertanian dan peternakan.
Pendekatan tersebut tidak hanya membuka peluang ekonomi, tetapi juga mendukung efisiensi penggunaan sumber daya dan pengelolaan lingkungan yang lebih baik.
Dalam forum yang sama, Anggota Komisi IV DPR RI, Herry Dermawan, turut menyoroti besarnya peluang pengembangan pasar peternakan nasional, terutama dalam mendukung pemenuhan kebutuhan protein hewani masyarakat.
Ia menilai bahwa peningkatan produksi perlu diimbangi dengan distribusi yang semakin baik, perluasan akses pasar, dan penguatan posisi peternak rakyat dalam rantai usaha peternakan.
Herry juga menekankan pentingnya membangun kemitraan yang adil dan saling menguntungkan, khususnya pada sektor perunggasan. Pengembangan usaha yang terhubung dari pembibitan, penyediaan pakan, budidaya, pengolahan, hingga pemasaran diharapkan dapat memberikan ruang partisipasi dan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi peternak rakyat.
Selain penguatan usaha, kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, pelaku industri, dan masyarakat peternak menjadi kunci dalam mempercepat penerapan inovasi di lapangan. Hasil penelitian diharapkan dapat berkembang menjadi teknologi tepat guna, model usaha yang efisien, serta solusi praktis yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik wilayah.
Melalui Seminar Nasional Peternakan Unram, Kementan berharap semakin banyak gagasan dan hasil riset yang dapat ditindaklanjuti menjadi kolaborasi nyata. Dengan menghubungkan inovasi, hilirisasi, dan kekuatan sumber daya lokal, pembangunan peternakan diharapkan terus bergerak menuju sistem usaha yang lebih produktif, inklusif, dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, kemajuan peternakan bukan hanya tentang seberapa besar produksi yang dihasilkan, tetapi juga seberapa luas manfaatnya dapat dirasakan oleh peternak, masyarakat, dan perekonomian daerah. (*)