Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
Logo

Ternak Unggul Tak Lagi Cukup Dilihat dari Fisik, Ini Cara Lain Kementan Memilihnya

08/10/2026 15:36:00 Fahmi 35

Jakarta – Indonesia tidak hanya membutuhkan lebih banyak ternak, tetapi juga ternak dengan mutu genetik yang semakin baik. Untuk itu, Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong pemanfaatan teknologi genomik agar seleksi ternak unggul dapat dilakukan lebih cepat, tepat, dan berbasis data.

Kepala Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang, Deasy Zamanti, mengatakan transformasi teknologi diperlukan untuk menyesuaikan pengembangan peternakan dengan kebutuhan peningkatan mutu genetik ternak.

“BET Cipelang tidak lagi hanya berbicara mengenai produksi embrio, inseminasi, atau teknologi reproduksi, tetapi mulai bergerak menuju pemanfaatan informasi genetik untuk mengidentifikasi potensi ternak secara lebih presisi,” ujar Deasy, dikutip Rabu  (7/10/2026).

Transformasi tersebut dikembangkan melalui konsep BET to BEStGen, yakni pengembangan BET menuju balai yang melaksanakan produksi embrio, pengujian, sertifikasi, dan bank genom. Langkah ini memperluas peran BET dari teknologi reproduksi menuju pemanfaatan informasi genetik untuk mendukung peningkatan mutu ternak.

Menurut Deasy, salah satu tantangan dalam peningkatan mutu genetik ternak di Indonesia adalah keterbatasan recording atau pencatatan silsilah dan performa ternak. Padahal, data tersebut menjadi dasar penting dalam menentukan arah pemuliaan.

Melalui teknologi genomik, seleksi ternak dapat dilakukan dengan memanfaatkan informasi genetik, tidak hanya berdasarkan tampilan fisik dan performa yang terlihat. Pendekatan ini memungkinkan identifikasi individu dengan potensi genetik terbaik dalam suatu populasi.

“Proses peningkatan mutu genetik dapat dilakukan lebih cepat dan terarah,” kata Deasy.

Pengembangan BEStGen diharapkan memperkuat perubahan dari seleksi berbasis pengamatan menuju pemuliaan ternak berbasis data genetik. Teknologi reproduksi seperti transfer embrio juga dapat menjadi bagian dari strategi untuk mempercepat penyebaran genetik unggul.

“Sertifikasi genomi dan genetik menjadi fondasi penting, sebelum teknologi rekayasa genetik dapat dikembangkan lebih jauh,” imbuh Deasy.

Selain teknologi genomik, BET Cipelang menyiapkan Bank Genom sebagai repositori material genetik plasma nutfah ternak Indonesia. Fasilitas tersebut diharapkan menjadi “tabungan” material genetik yang dapat dimanfaatkan untuk penelitian, konservasi, dan pengembangan sumber daya genetik ternak.

Pentingnya teknologi untuk membangun peternakan presisi juga disampaikan oleh CEO PT Moosa Genetika Farmindo, Deddy F. Kurniawan. Menurutnya, peningkatan kebutuhan protein hewani harus diikuti oleh peningkatan produktivitas dan efisiensi peternakan.

“Kita butuh sistem peternakan yang presisi,” ujar Deddy.

Menurutnya, genomik menjadi salah satu teknologi penting untuk mendukung keputusan dalam program pemuliaan karena potensi genetik ternak dapat dibaca secara lebih akurat dan digunakan sebagai dasar seleksi.

Transformasi menuju BEStGen menjadi bagian dari upaya Kementan untuk memperkuat fondasi peternakan nasional melalui data, teknologi reproduksi, dan informasi genetik. Dengan seleksi yang semakin presisi, peningkatan mutu genetik ternak diharapkan dapat berlangsung lebih cepat, terarah, dan berkelanjutan. (*)

Kategori

WA Layanan Ditjen PKH