Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
Logo

Kabar Baik untuk Peternak, Mentan Amran Bangun Tiga Pabrik Tepung Telur dan Daging

10/10/2026 10:45:00 Fahmi 39

Jakarta -- Pemerintah menyiapkan pembangunan tiga pabrik pengolahan tepung telur dan tepung daging sebagai solusi permanen untuk memperkuat ekosistem peternakan nasional. Langkah ini ditujukan untuk memperluas pasar hasil produksi peternak, menjaga stabilitas harga, serta mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap produk impor.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan, pembangunan pabrik tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah membangun ekosistem peternakan yang terintegrasi, mulai dari penyediaan bahan baku pakan, penguatan produksi petani dan peternak, hingga penyerapan serta pengolahan hasil produksi.

“Kami sudah telepon Menteri BUMN dan Menteri Perdagangan. Kita sepakat membangun ekosistem ternak, terutama pembangunan pabrik pengolahan tepung telur dan tepung daging. Insyaallah, mudah-mudahan tahun depan sudah bisa mulai. Targetnya 1,5 tahun selesai, maksimal dua tahun,” ujar Mentan Amran, Jum'at (9/10) 

Mentan Amran menegaskan, pembangunan industri pengolahan menjadi langkah mendasar agar persoalan pemasaran hasil peternakan tidak terus berulang. Menurutnya, pemerintah perlu menghadirkan solusi jangka panjang yang mampu menyerap kelebihan produksi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasar produk segar.

“Ini solusi permanen, fundamental. Kalau pabriknya berdiri, impor tepung telur kita hentikan. Kita sudah sepakat. Harapannya, setelah ekosistem ini berdiri, persoalan yang sama tidak terus berulang,” tegasnya.

Ia menjelaskan, pembangunan tiga pabrik tersebut akan segera ditindaklanjuti melalui studi kelayakan atau feasibility study (FS). Pemerintah memperkirakan kebutuhan awal investasi sekitar Rp200 miliar per pabrik, dengan kemungkinan meningkat menjadi Rp250 miliar untuk fasilitas yang mencakup pengolahan daging.

Mentan Amran meminta jajaran terkait mengawal proses persiapan agar perencanaan, kebutuhan anggaran, dan pembangunan fasilitas dapat segera ditindaklanjuti. Ia juga membuka peluang keterlibatan swasta, dengan menegaskan pentingnya kehadiran negara dalam memperkuat industri strategis tersebut.

“Kalau ada swasta mau bergandengan, silakan. Tapi negara ada di sampingnya,” katanya.

Mentan Amran menilai, penguatan ekosistem dari hulu hingga hilir akan memberikan manfaat berlapis. Petani memperoleh pasar untuk jagung yang dihasilkan, peternak mendapat kepastian pasokan pakan, sedangkan industri pengolahan menjadi saluran penyerapan ketika produksi telur dan daging melimpah.

Jika terjadi kelebihan produksi telur atau daging ayam, hasil tersebut dapat diolah menjadi produk dengan daya simpan dan pemanfaatan yang lebih luas. Dengan demikian, peternak tidak hanya bergantung pada penjualan produk segar yang rentan terhadap perubahan permintaan dan harga.

“Keuntungannya adalah meningkatkan kesejahteraan peternak, mengurangi kerugian yang sering terjadi pada bulan-bulan tertentu, dan mengurangi belanja devisa untuk impor. Ini keputusan mendasar, kita bangun ekosistem peternakan yang terintegrasi satu sama lain,” tegasnya.

Dukungan terhadap pembangunan industri pengolahan tersebut juga datang dari kalangan peternak. Ii Cahyadi, anggota Pinsar sekaligus pelaku usaha peternakan melalui PT Bereh Poultry Indonesia di Subang, menilai pembangunan pabrik menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga keberlanjutan pasar telur dari peternak lokal.

Cahyadi menilai industri pengolahan berskala besar membutuhkan investasi dan kapasitas yang tidak mudah dipenuhi secara mandiri oleh peternak kecil maupun koperasi. Karena itu, keterlibatan pemerintah diperlukan untuk membangun fondasi industri sekaligus memperkuat daya saing produk dalam negeri.

“Industri itu tidak mungkin ditangani sendiri oleh swasta, peternak-peternak kecil, ataupun koperasi karena membutuhkan skala yang masif. Kita juga harus berhadapan dengan BUMN dari negara lain, baik India maupun China,” ujarnya.

Ia mengapresiasi respons Mentan Amran yang menyetujui tindak lanjut rencana pembangunan pabrik tersebut. Menurutnya, keputusan itu memberikan harapan bagi peternak, baik untuk menghadapi persoalan pemasaran dalam jangka pendek maupun membangun kepastian penyerapan produksi dalam jangka panjang.

“Alhamdulillah, hari ini beliau langsung memberikan persetujuan. Itu sangat melegakan bagi kami. Jadi, bukan hanya solusi jangka pendek, tetapi lebih dari itu, program pabrik ini diharapkan bisa mengatasi persoalan penyerapan produk peternak,” kata Cahyadi.

Mentan Amran menegaskan, seluruh langkah tersebut bermuara pada satu tujuan, yakni menciptakan usaha peternakan yang lebih menguntungkan dan berkelanjutan. Pemerintah ingin memastikan peternak memperoleh pakan dengan harga terjangkau, memiliki kepastian pasar, serta tidak terus menanggung kerugian ketika terjadi kelebihan produksi.

Menurutnya, peningkatan kesejahteraan petani dan peternak harus didukung oleh ekosistem usaha yang sehat. Produksi yang meningkat perlu diimbangi ketersediaan bahan baku, penyerapan hasil, dan industri yang mampu mengolah kelebihan produksi menjadi produk bernilai tambah.

Mentan Amran juga menyoroti pentingnya memperkuat konsumsi protein masyarakat melalui ketersediaan sumber pangan yang beragam, termasuk ikan, ayam, dan telur. Menurutnya, penguatan produksi protein dalam negeri perlu berjalan seiring dengan upaya menjaga keterjangkauan harga dan memperluas pasar.

“Intinya bagaimana ekonomi bergerak dan bagaimana peternak jangan dipersulit. Pakan tersedia dengan baik, kemudian harga telur dan daging stabil. Kita ingin peternak untung dan kesejahteraannya meningkat,” ujarnya.

Melalui pembangunan tiga pabrik pengolahan tepung telur dan tepung daging, pemerintah mendorong transformasi peternakan nasional dari sektor yang bertumpu pada penjualan produk segar menjadi industri terintegrasi yang memiliki kemampuan mengolah, menyimpan, dan memasarkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.

Dengan dukungan pemerintah, kolaborasi lintas kementerian, keterlibatan peternak, serta peluang kemitraan dengan swasta, penguatan ekosistem ini diharapkan mampu memperkuat pasar domestik, mengurangi ketergantungan impor, dan meningkatkan kesejahteraan petani serta peternak Indonesia.

Kategori

WA Layanan Ditjen PKH