Kementan Kolaborasi Kembangkan Koro Pedang sebagai Bahan Baku Pakan Lokal
Bogor – Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong pengembangan koro pedang sebagai alternatif bahan baku pakan lokal untuk mengurangi ketergantungan impor. Upaya ini dilakukan melalui kolaborasi pemerintah, akademisi, petani, dan industri guna menjamin ketersediaan bahan baku bermutu dan berkelanjutan.
Pengembangan koro pedang dinilai berpotensi mendukung kebutuhan industri pakan, terutama untuk sumber protein nabati. Namun, pemanfaatannya memerlukan benih berkualitas, teknologi pengolahan yang tepat, pasokan berkelanjutan, serta kepastian pasar agar dapat diterapkan secara luas.
Direktur Pakan, Kementan, Tri Melasari, menegaskan bahwa pengembangan koro pedang harus berorientasi pada kebutuhan industri dengan memperhatikan mutu, keamanan, kandungan nutrisi, dan faktor antinutrisi.
“Pengembangan koro pedang perlu dilakukan secara terarah dan berbasis kebutuhan industri. Mutu dan keamanannya, termasuk kandungan nutrisi serta faktor antinutrisi, harus diuji. Teknologi pengolahannya juga perlu divalidasi, sementara kesinambungan pasokan harus dibangun melalui kemitraan,” ujar Tri Melasari dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Pengembangan Sistem Perbenihan Koro Pedang untuk Mendukung Kemandirian Bahan Baku Industri Pakan Nasional” yang digelar CENTRAS IPB University di IPB International Convention Center, Bogor, Rabu (21/10/2026).
Ia menambahkan, kelayakan koro pedang perlu dinilai berdasarkan biaya nutrisi dan manfaatnya dalam formulasi pakan, bukan sekadar harga per kilogram. Pengujian laboratorium juga perlu dilanjutkan dengan demonstrasi dan validasi bersama industri sebelum pemanfaatannya diperluas.
Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Tevi Melviana, menyebut kualitas konsisten, ketersediaan berkelanjutan, dan harga kompetitif sebagai tiga syarat utama bahan baku pakan.
“Efektivitas dan biaya pengolahan koro pedang untuk mengurangi faktor antinutrisi perlu diuji bersama calon pengguna, termasuk dampaknya terhadap kandungan nutrisi dan formulasi pakan,” kata Tevi.
Penguatan sistem perbenihan juga menjadi perhatian. Rahmad Suhartanto dari IPB University menyoroti perlunya pendataan kebutuhan, pengembangan penangkaran, pengujian mutu, sertifikasi, dan ketertelusuran benih. Sementara itu, Muchdar Soedarjo dari BRIN mendorong pengembangan varietas unggul, benih bermutu, dan mekanisasi pascapanen.
Dari sisi usaha, Dadang Syamsul Munir dari PT Botani Seed Indonesia mengusulkan model closed-loop yang menghubungkan riset, produksi benih, budi daya, pengolahan, dan penyerapan hasil. Dalam pertemuan tersebut turut dibahas peluang koro pedang sebagai tanaman sela di areal peremajaan sawit, sedangkan Suparmi dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan mengusulkan Kabupaten Tanah Laut sebagai salah satu wilayah prioritas indikatif pengembangan dengan mempertimbangkan musim tanam, ketersediaan benih, dan kesesuaian lahan.
Sebagai tindak lanjut, semua pihak mendorong penguatan sumber benih, validasi mutu dan teknologi pengolahan bersama industri, kemitraan rantai pasok, serta uji percontohan di lokasi potensial.
Para pemangku kepentingan juga mengusulkan pembentukan konsorsium dan penyusunan peta jalan nasional agar pengembangan koro pedang dapat berjalan terarah, terukur, dan mendukung kemandirian bahan baku pakan nasional. (*)