Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
Logo

Kolaborasi Kementan dan Universitas Brawijaya, Perkuat Kualitas Bibit Kambing PE Berbasis Riset

12/10/2026 15:54:00 Fahmi 29

Pelaihari – Pengembangan bibit kambing Peranakan Etawa (PE) berkualitas membutuhkan proses seleksi yang didukung data dan penelitian ilmiah. Tidak cukup hanya mengandalkan ukuran tubuh atau tingginya produksi susu, pemilihan bibit unggul juga perlu mempertimbangkan faktor genetik, silsilah, serta kemampuan ternak mewariskan sifat unggul kepada keturunannya.

Upaya tersebut diperkuat Kementerian Pertanian melalui Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Pelaihari, bekerja sama dengan Universitas Brawijaya. Kolaborasi penelitian sepanjang 2024–2026 ini mencakup pencatatan pertumbuhan, produksi susu, analisis genetik, nilai pemuliaan, hingga kajian keragaman genom kambing PE.

Kepala BPTU-HPT Pelaihari, Arie Sutanto, menyampaikan bahwa penelitian tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung tugas balai menghasilkan bibit ternak unggul. Menurutnya, fasilitas dan sumber daya yang dimiliki balai dapat dimanfaatkan untuk memperkuat penelitian sekaligus mendorong pengembangan ilmu pengetahuan di bidang peternakan.

“Sebagai instansi teknis yang bertugas dalam pemuliaan bibit ternak unggul, khususnya kambing Peranakan Etawa, BPTU-HPT Pelaihari sangat mendukung penelitian ini. Kami selalu membuka diri terhadap kegiatan penelitian di lingkungan balai agar fasilitas yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk mendukung riset peternakan dan transfer ilmu pengetahuan,” ujar Arie, Jumat (9/10/2026). 

Dukungan terhadap penelitian tersebut juga disampaikan Prof. Ani Nurgiartiningsih, Guru Besar Universitas Brawijaya. Ia menilai kolaborasi antara perguruan tinggi dan unit pelaksana teknis pemerintah memiliki peran penting dalam menghasilkan penelitian yang bermanfaat bagi pengembangan peternakan nasional.

“Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mengembangkan penelitian ilmiah dan mendukung keberhasilan program pembangunan pemerintah. Karena itu, kolaborasi penelitian seperti ini perlu terus diperkuat agar hasilnya dapat memberikan manfaat nyata bagi pengembangan pembibitan ternak,” ungkap Prof. Ani.

Dalam pemaparan hasil penelitian, tim Universitas Brawijaya menjelaskan bahwa proses pengembangan bibit dilakukan secara bertahap. Data performa ternak menjadi dasar untuk mengidentifikasi sifat-sifat penting, kemudian dianalisis secara statistik dan genetik untuk menentukan karakter yang layak dijadikan kriteria seleksi.

Salah satu temuan menunjukkan bahwa ukuran tubuh kambing PE, seperti lingkar dada saat penyapihan dan pada umur delapan bulan, memiliki hubungan yang kuat. Informasi ini dapat dimanfaatkan untuk melakukan penyaringan awal calon bibit sejak usia muda sehingga proses seleksi menjadi lebih efisien.

Selain pertumbuhan, penelitian juga mengkaji hubungan genetik antara ukuran ambing dan produksi susu. Hasilnya menunjukkan adanya korelasi genetik positif dengan nilai heritabilitas yang cukup tinggi. Temuan tersebut membuka peluang penerapan seleksi berdasarkan beberapa sifat sekaligus, agar bibit yang dihasilkan tidak hanya unggul dalam pertumbuhan, tetapi juga memiliki kemampuan produksi susu dan fungsi ambing yang baik.

Evaluasi nilai pemuliaan atau Estimated Breeding Value (EBV) juga telah dilakukan dengan memanfaatkan data performa dan silsilah ternak. Melalui pendekatan ini, calon bibit dapat dinilai berdasarkan potensi genetiknya, sehingga keputusan seleksi tidak semata-mata ditentukan oleh penampilan fisik ternak.

Sementara itu, penelitian genomik melalui teknologi whole-genome sequencing masih difokuskan pada pengayaan basis data variasi DNA. Informasi tersebut diharapkan membantu memahami keragaman genetik dan hubungan kekerabatan antarter nak. Namun, pemanfaatannya dalam seleksi dan pengaturan perkawinan secara rutin masih memerlukan pengembangan lebih lanjut.

Ke depan, hasil penelitian diarahkan untuk memperkuat pencatatan data atau recording, evaluasi EBV secara berkala, serta penyusunan rencana perkawinan yang terukur. Data identitas ternak, silsilah, umur, jenis kelamin, performa pertumbuhan, dan produksi susu menjadi komponen penting untuk memastikan proses seleksi dapat dilakukan secara konsisten dan dipertanggungjawabkan.

Penerapan seleksi sejak usia tiga hingga enam bulan juga berpotensi meningkatkan efisiensi biaya operasional pembibitan. Meski demikian, hasil seleksi awal tetap perlu dievaluasi kembali sesuai dengan tujuan pemuliaan, termasuk keseimbangan antara pertumbuhan, produksi susu, fungsi ambing, dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan tropis.

Selain meningkatkan kualitas bibit, pengaturan perkawinan berdasarkan silsilah, nilai pemuliaan, dan analisis kekerabatan diharapkan dapat menekan risiko perkawinan sekerabat atau inbreeding. Melalui kolaborasi penelitian yang berkelanjutan, BPTU-HPT Pelaihari bersama Universitas Brawijaya berupaya membangun sistem pemuliaan kambing PE yang lebih terarah, terukur, dan berbasis bukti ilmiah.

Kategori

WA Layanan Ditjen PKH