Kesejahteraan Hewan Jadi Fondasi Peternakan Berkelanjutan, Kementan Perkuat Kolaborasi Internasional
Jakarta – Kesejahteraan hewan tidak lagi dipandang sekadar sebagai aspek etika dalam pemeliharaan ternak, tetapi telah menjadi bagian penting dari sistem peternakan modern yang mendukung kesehatan hewan, keamanan pangan, ketahanan pangan, dan daya saing produk di pasar internasional. Untuk memperkuat implementasinya, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) menggandeng World Organization for Animal Health (WOAH) dan A World of Good Initiative Inc. dalam penyelenggaraan International Animal Welfare Workshop yang terselenggara pada Rabu (22/7/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan para pakar dari berbagai negara guna memperkuat kapasitas dan standar kesejahteraan hewan di Indonesia.
Kementerian Pertanian menegaskan bahwa penerapan kesejahteraan hewan kini telah berkembang menjadi salah satu pilar utama pembangunan peternakan yang berkelanjutan. Praktik kesejahteraan hewan yang baik tidak hanya memberikan manfaat bagi hewan, tetapi juga menghasilkan pangan asal hewan yang lebih aman, meningkatkan kepercayaan masyarakat, serta memperkuat daya saing produk peternakan Indonesia di pasar global.
"Dalam satu dekade terakhir, kesejahteraan hewan telah berkembang dari sekadar tanggung jawab etis, menjadi pilar penting dalam pembangunan peternakan yang berkelanjutan. Penerapan kesejahteraan hewan yang baik akan menghasilkan hewan yang lebih sehat, pangan yang lebih aman, meningkatkan kepercayaan masyarakat, serta memperkuat daya saing di pasar," ujar Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Ditjen PKH, I Ketut Wirata, yang mewakili Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, saat membuka kegiatan.
Ia menambahkan bahwa penerapan kesejahteraan hewan juga sejalan dengan pendekatan Kesehatan dan Kesejahteraan Terpadu (One Health-One Welfare), yang menempatkan kesehatan dan kesejahteraan hewan, manusia, serta lingkungan sebagai satu kesatuan yang saling berkaitan. “Investasi pada kesejahteraan hewan merupakan investasi untuk mewujudkan sistem peternakan yang lebih produktif, tangguh, dan berkelanjutan sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional,” tambahnya.
Sebagai bentuk komitmen pemerintah, Indonesia terus memperkuat penyelenggaraan kesejahteraan hewan melalui kebijakan yang berbasis ilmu pengetahuan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pendidikan, pengawasan, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Salah satu langkah strategis yang telah dilakukan adalah penerbitan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 32 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Hewan, yang menjadi landasan penguatan tata kelola kesejahteraan hewan di Indonesia.
Menurutnya, Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan dalam implementasi kesejahteraan hewan, mulai dari kondisi geografis yang luas, perbedaan kapasitas antar daerah, hingga meningkatnya ekspektasi masyarakat terhadap praktik peternakan yang lebih bertanggung jawab. Namun, perkembangan ilmu kedokteran hewan, teknologi digital, riset perilaku hewan, dan kemitraan internasional membuka peluang besar untuk memperkuat penerapan standar kesejahteraan hewan di seluruh rantai usaha peternakan.
"Tidak ada satu negara pun yang dapat memajukan kesejahteraan hewan sendirian. Keberhasilan hanya dapat dicapai melalui kemitraan yang erat antara pemerintah, akademisi, profesi kedokteran hewan, pelaku usaha, masyarakat sipil, dan organisasi internasional. Melalui kerjasama yang erat, kita dapat meningkatkan kesejahteraan hewan, sekaligus mendukung ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, kelestarian lingkungan, dan tentunya pembangunan peternakan yang berkelanjutan," katanya.
Sementara itu, Regional Strategy Specialist (Asia Pacific), dari A World of Good Initiative Inc., Syed Naeem Abbas, menyampaikan apresiasinya atas komitmen Pemerintah Indonesia dalam memajukan agenda kesejahteraan hewan di kawasan Asia. Menurutnya, forum ini merupakan langkah awal membangun kolaborasi yang berkelanjutan antara Indonesia dan komunitas internasional dalam memperkuat tata kelola kesejahteraan hewan.
"Workshop ini menjadi awal dari kolaborasi yang berkelanjutan untuk memperkuat kapasitas, meningkatkan standar kesejahteraan hewan, dan membangun sistem yang mampu menciptakan perubahan berkelanjutan," ujar Syed.
Syed juga menilai Indonesia memiliki posisi strategis dalam pengembangan kesejahteraan hewan di kawasan Asia Tenggara. Dengan salah satu subsektor peternakan terbesar di ASEAN serta berbagai kebijakan progresif yang telah diterapkan, Indonesia dinilai memiliki peluang besar menjadi rujukan dalam penguatan tata kelola kesejahteraan hewan di kawasan.
"Kesejahteraan hewan bukan hanya tentang kesejahteraan hewan itu sendiri. Ini tentang tata kelola, perdagangan, One Health-One Welfare. Peningkatan kesejahteraan hewan akan mengurangi prevalensi penyakit, membantu mengurangi resistensi anti mikroba, meningkatkan perekonomian, dan memperkuat perdagangan serta akses pasar. Negara-negara yang memimpin dalam kesejahteraan hewan pasti akan mendapatkan manfaatnya," tegasnya.
Pernyataan yang sama juga disampaikan oleh, Zulkifli Idrus, Pakar dari Institute of Tropical Agriculture and Food Security (ITAFoS), Universiti Putra Malaysia, menegaskan bahwa praktik kesejahteraan hewan yang baik merupakan investasi jangka panjang bagi industri peternakan terutama pada ayam. Ayam yang sehat memiliki performa produksi yang lebih baik, tingkat kematian lebih rendah, risiko penyakit menurun, serta menghasilkan produk yang lebih berkualitas sehingga mampu meningkatkan kepercayaan konsumen dan memperkuat daya saing industri.
"Kesejahteraan hewan yang baik adalah peternakan yang baik. Ini merupakan hal yang baik untuk unggas, baik untuk para peternak, baik untuk konsumen, dan baik untuk sistem pangan yang berkelanjutan," katanya.
Melalui penyelenggaraan kegiatan ini, Kementan menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat implementasi kesejahteraan hewan sebagai bagian dari pembangunan peternakan nasional yang modern, beretika, dan berkelanjutan. Penguatan kapasitas sumber daya manusia, penyempurnaan kebijakan, serta kolaborasi dengan mitra nasional dan internasional diharapkan mampu meningkatkan kesehatan hewan, keamanan pangan, kesejahteraan peternak, serta daya saing produk peternakan Indonesia di pasar global. (*)