Kementan Kawal Hilirisasi Ayam dari Hulu, Kesehatan Ternak Jadi Kunci
Bone – Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat kesiapan tenaga kesehatan hewan di daerah untuk mengawal program Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT). Penguatan dilakukan melalui peningkatan kapasitas petugas Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan), mulai dari biosekuriti, deteksi dini penyakit, respons cepat hingga komunikasi risiko.
Langkah tersebut menjadi penting karena hilirisasi ayam tidak hanya berbicara mengenai pembangunan kandang, pabrik pakan, hatchery, rumah potong, maupun industri pengolahan.
Di belakang peningkatan produksi, terdapat satu fondasi yang harus dijaga: ayamnya harus sehat, sistem produksinya harus aman, dan petugas di lapangan harus siap bergerak cepat ketika muncul risiko penyakit.
Direktur Kesehatan Hewan Kementan, Hendra Wibawa, mengatakan Puskeswan memiliki posisi strategis karena menjadi garda terdepan pelayanan kesehatan hewan di daerah.
Menurut dia, Puskeswan bukan sekadar tempat pelayanan medis veteriner. Puskeswan juga menjadi ujung tombak pengendalian penyakit hewan, mendukung kesehatan masyarakat veteriner, kesejahteraan hewan, serta ketahanan pangan asal hewan.
“Petugas kesehatan hewan tidak hanya berperan dalam upaya peningkatan produksi ternak, tetapi juga dalam menciptakan lingkungan budidaya yang sehat serta menjamin tersedianya pangan asal hewan yang Aman, Sehat, Utuh, dan Halal (ASUH) bagi masyarakat,” kata Hendra dalam sambutannya pada acara Bimbingan Teknis Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT) di Aula Kantor Bappeda Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Senin (3/8/2026).
Hendra berharap peningkatan kapasitas tersebut menghasilkan petugas yang bukan hanya memahami prosedur, tetapi mampu menjadi agen perubahan di wilayah kerjanya masing-masing.
Petugas diharapkan mampu menerapkan biosekuriti, mendeteksi penyakit sedini mungkin, melakukan respons cepat, mengambil sampel dengan benar, melakukan komunikasi risiko serta memberikan pelayanan kesehatan hewan secara profesional.
Hendra mengajak pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan memperkuat kerja sama dalam pengendalian penyakit dan pelayanan kesehatan hewan.
“Dengan sinergi dan kolaborasi yang kuat, kita optimistis mampu mewujudkan sektor peternakan yang maju, sehat, dan berdaya saing,” ujar Hendra.
Program HAT merupakan bagian dari penguatan ekosistem perunggasan nasional. Dalam rancangan pengembangannya, Kementan menempatkan hilirisasi sebagai satu ekosistem, dari penyediaan bibit dan pakan, budidaya, kesehatan unggas, pemotongan hingga pengolahan hasil. Sulawesi Selatan menjadi salah satu wilayah tahap awal pengembangan HAT. Di Kabupaten Bone, pengembangan diarahkan untuk Farm Parent Stock (PS) Broiler, PS Layer, Hatchery, dan Pabrik Pakan.
Bagi Kementan, pesan dari Bone sederhana: hilirisasi ayam tidak cukup hanya membangun industrinya. Ekosistem kesehatannya juga harus dibangun. Sebab ketika petugas di lapangan semakin kuat, penyakit semakin cepat dideteksi dan biosekuriti semakin disiplin, produksi dapat tumbuh dengan lebih aman. (*)