Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
Logo

Kementan Perkuat Langkah Menuju Zero by 30, BV Bukittinggi Diusulkan Jadi Laboratorium Rujukan WOAH

10/08/2026 16:12:00 Fahmi 38

Bukittinggi – Upaya mewujudkan dunia bebas dari kematian manusia akibat rabies pada 2030 atau Zero by 30 membutuhkan sistem pengendalian penyakit yang kuat, didukung laboratorium veteriner berstandar internasional. Menyadari pentingnya peran tersebut, Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat kapasitas laboratorium nasional agar mampu berkontribusi lebih besar dalam diagnosis, surveilans, penelitian, hingga pengendalian rabies di tingkat regional maupun global.

 

Komitmen tersebut diwujudkan melalui pembahasan rencana pengusulan Balai Veteriner (BV) Bukittinggi sebagai WOAH Reference Laboratory for Rabies yang diselenggarakan Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Kementerian Pertanian, Jumat (7/8/2026). Kegiatan ini turut dihadiri perwakilan Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, Balai Veteriner Bukittinggi, serta World Organisation for Animal Health (WOAH) dari Sub-Regional Representation for South-East Asia (WOAH SRR-SEA), Bangkok, Thailand, dan WOAH Indonesia.

 

Dalam pertemuan tersebut, pembahasan difokuskan pada kesiapan teknis serta langkah-langkah lanjutan untuk mematangkan proses pengusulan BV Bukittinggi. Agenda yang dibahas meliputi hasil WOAH Technical Assessment Mission, pemenuhan persyaratan laboratorium rujukan, penguatan jejaring laboratorium, hingga sinergi lintas sektor agar seluruh tahapan berjalan sesuai standar yang ditetapkan WOAH.

 

Ketua Kelompok Substansi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan (P2H) Direktorat Kesehatan Hewan, Yuni Yupiana, mengatakan bahwa penguatan koordinasi menjadi faktor penting agar seluruh proses pengusulan dapat berjalan sesuai target.

 

"Pengusulan Balai Veteriner Bukittinggi sebagai WOAH Reference Laboratory for Rabies merupakan langkah strategis untuk memperkuat kapasitas nasional dalam pengendalian rabies. Karena itu, seluruh persyaratan teknis dan administratif harus dipenuhi secara optimal melalui kolaborasi yang erat antara Kementerian Pertanian, WOAH, dan seluruh pemangku kepentingan agar proses pengusulan berjalan sesuai standar internasional," ujar Yuni Yupiana.

 

Lebih jauh, pengusulan ini tidak hanya bertujuan memperoleh pengakuan internasional, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kemampuan Indonesia dalam diagnosis, surveilans, penelitian, dan pengendalian rabies. Pengakuan sebagai laboratorium rujukan WOAH diharapkan mampu memperluas kontribusi Indonesia dalam jejaring laboratorium veteriner dunia sekaligus mempererat kerja sama internasional di bidang kesehatan hewan.

 

Untuk mendukung target tersebut, Balai Veteriner Bukittinggi terus melakukan berbagai penguatan, mulai dari peningkatan kapasitas teknis, penyempurnaan sistem manajemen mutu laboratorium, pengembangan kompetensi sumber daya manusia, hingga memperluas jejaring kolaborasi di tingkat nasional maupun internasional. Berbagai upaya tersebut menjadi fondasi penting agar laboratorium mampu memenuhi seluruh standar yang dipersyaratkan WOAH.

 

Komitmen Indonesia tersebut juga mendapat dukungan dari World Organisation for Animal Health (WOAH). Organisasi ini menilai laboratorium rujukan memiliki peran yang sangat strategis dalam memperkuat sistem pengendalian penyakit hewan melalui peningkatan kualitas diagnostik, pengembangan ilmu pengetahuan, serta kolaborasi ilmiah antarnegara.

 

"WOAH mengapresiasi komitmen Indonesia dalam mempersiapkan Balai Veteriner Bukittinggi sebagai calon Reference Laboratory for Rabies. Kami berharap proses ini dapat semakin memperkuat kapasitas laboratorium, memperluas jejaring kolaborasi ilmiah, serta memberikan kontribusi bagi pengendalian rabies di kawasan Asia Tenggara dan dunia," ujar Karma Rinzin dari WOAH Sub-Regional Representation for South-East Asia (WOAH SRR-SEA), Bangkok, Thailand.

 

Optimisme serupa juga disampaikan Kepala Balai Veteriner Bukittinggi, Tangguh Pitona. Menurutnya, proses pengusulan ini menjadi momentum penting untuk terus meningkatkan kualitas layanan laboratorium sehingga mampu memenuhi standar internasional sekaligus memberikan manfaat yang lebih luas bagi pengendalian rabies.

 

"Pengusulan Balai Veteriner Bukittinggi sebagai WOAH Reference Laboratory for Rabies merupakan amanah sekaligus motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kompetensi, sistem manajemen mutu, serta kualitas layanan diagnostik. Kami berkomitmen memberikan kontribusi terbaik dalam mendukung pengendalian rabies di Indonesia dan kawasan, sejalan dengan target global Zero by 30," ujar Tangguh Pitona.

 

Melalui sinergi yang terus diperkuat antara Kementerian Pertanian, WOAH, Balai Veteriner Bukittinggi, serta seluruh pemangku kepentingan, proses pengusulan diharapkan dapat memenuhi seluruh persyaratan yang ditetapkan WOAH. Apabila memperoleh pengakuan sebagai WOAH Reference Laboratory for Rabies, Balai Veteriner Bukittinggi tidak hanya akan menjadi laboratorium rujukan internasional, tetapi juga berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, penguatan kapasitas laboratorium, peningkatan jejaring kolaborasi global, serta memperkuat kontribusi Indonesia dalam mewujudkan target Zero by 30, yaitu eliminasi kematian manusia akibat rabies yang ditularkan oleh anjing pada tahun 2030.

Kategori
WA Layanan Ditjen PKH